Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Travel

Angin Perubahan di Yangon

Kamis, 20 Desember 2012 | 09:10 WIB

Oleh Aryo Wisanggeni G

Memasuki lorong 38th Street, suara bait-bait rekaman doa dari sebuah pengeras suara para pengumpul derma di Jalan Bogyoke Aung San Yangon, Myanmar, makin jelas terdengar. Celoteh bocah dan percakapan rumah tangga ganti terdengar dari balkon deretan flat di sepanjang lorong pada Senin (19/11/2012) pagi yang cerah.

Dinding flat-flat ala Eropa itu menghitam oleh jejak air. Centang-perenang tali jemuran di balkon flat yang penuh cucian berpadu dengan ratusan kabel yang terentang kusut selebar jalan. Terpal-terpal plastik yang dipasang sekenanya sebagai naungan pintu toko-toko di lantai dasar flat, tempat kedai-kedai kopi yang tak memompa gairah.

Beberapa kali Tubagus Andre Sukmana yang menemani pagi itu berdecak heran. ”Ini Yangon sudah punya permukiman vertikal ala Eropa ya, pasti sisa sebelum rezim junta militer,” kata Andre.

Flat-flat di lorong 38th Street memang seperti artefak kosmopolitan Yangon, kota terbesar di negara yang memerdekakan diri dari penjajahan Inggris pada 1948 itu. Lorong di kawasan pesisir Yangon itu adalah bagian dari kawasan permukiman yang dikembangkan Pemerintah Kolonial Inggris sejak menganeksasi Yangon pada 1852.

Yangon awalnya adalah sebuah permukiman kecil bernama Dagon (sesuai nama pagoda megah Shwe Dagon). Pada 1755, Raja Aluang Phya membangunnya menjadi kota yang kemudian dinamai Yangon. Yangon memang kota dunia, namun bukan Inggris yang membuat Yangon kosmopolitan.

Lorong deretan flat tua yang menebar aroma kota tua Eropa itu hanya berjarak sekitar 4 kilometer dari Pagoda Shwe Dagon, sebuah tempat ziarah umat Buddha dari seluruh dunia yang dibangun 2.500 tahun lalu oleh Raja Ukkalapa. Tiap malam, kilau emas pagoda berornamen rumit setinggi 326 kaki itu seperti magnet yang menguapkan selu- ruh jejak kosmopolitan Eropa di Yangon.

Pagoda nan memesona itu adalah mozaik sejarah besar sebuah bangsa yang menghimpun 153 etnis yang memadati celah sempit jalur sutra penghubung Asia dan Asia Tenggara. Tiga fase imperium Myanmar erat menggenggam nadi perdagangan internasional jalur sutra, ditandai berkuasanya tiga raja penyatu Myanmar, Maharaja Sri Aniruddha Deva Anawrahta (1044 – 1077), Raja Bayint Naung (1551 – 1581), dan Raja Alaungmintaya (1752 – 1760).

Begitu berkuasanya dan kayanya raja Myanmar, hingga pakaian kebesaran sang raja terdiri dari mahkota, jubah, baju kebesaran, dan terompah berhias emas 11 kilogram! Dari masa ke masa, Myanmar adalah pemain penting percaturan sejarah Asia Tenggara.

Yangon kini

Flat-flat tua di lorong 38th Street adalah saksi sejarah Myanmar modern, yang disebut Dr Zaw Win PhD dalam bukunya, A Changing Yangon, pernah menjadi pesaing New York di Amerika Serikat. Pada 1920 Yangon yang berpopulasi 300.000 orang adalah salah satu kota bandar tersibuk di dunia, bersaing dengan New York. Namun, flat renta nan kusam itu bukan jejak Myanmar hari ini.

Yangon hari ini ada di ujung lorong 38th Street, di Jalan Anawrahta yang menyuguhkan ”darah muda” Yangon. ”Darah muda” yang diasupi demokratisasi dan reformasi politik Presiden Myanmar Thein Sein sejak setahunan terakhir.

”Ini baru Myanmar yang baru,” kata Andre yang sontak menjadi ”Mat Kodak” dadakan. ”Foto-foto bagus, barang lama bisa bersanding barang baru, kontras,” ujarnya sambil terus memotret apa saja.

Hati-hati menyeberang jalan di Yangon. Lalu lintas semrawut karena mobil-mobil baru dengan kemudi sopir di kanan kesulitan menyalip bus-bus tua yang padat penumpang. Bukan salah bus-bus tua itu, karena aturan berkendara Myanmar mengharuskan kendaraan melaju di sisi kanan jalan.

Aturan menyalip, tentu saja harus dari sisi kiri, dan menyalip ke kiri dengan mobil ”setir kanan” sungguh merepotkan. Apa daya, peluang impor mobil baru di Myanmar justru lebih banyak mendatangkan mobil ”setir kanan” daripada mobil ”setir kiri”.

Jalan Anawrahta memang ”sempurna” menyuguhkan kontradiksi sisa dampak ketertutupan junta militer, dan semrawutnya euforia keterbukaan Myanmar sebagai pasar global. Mirip Indonesia, trotoar jalan-jalan di Yangon dipadati para pedagang kaki lima yang berjejalan di depan toko-toko tua di kiri-kanan jalan.

Segala aneka barang terjual di sana, mulai dari manisan buah, pinang-sirih, beras, obat kuat, toko penjual sarung yang menjadi busana resmi Myanmar, bunga (ada begitu banyak kios bunga di Jalan Anawrahta), lotre, juga lapak para pengumpul derma untuk para biksu yang selalu hilir mudik di jalan-jalan Yangon.

Semuanya tersaji di depan berderet toko elektronik, komputer, kamera, hingga penjual telepon genggam dan sabak elektronik keluaran terbaru. Trotoar Jalan Anawrahta penuh orang berbincang lewat telepon genggam, namun hampir setiap 50 meter ada meja berisi lima-enam pesawat telepon yang disewakan layaknya wartel.

Di trotoar Pagoda Sule, beberapa kali mata tertegun melihat para lelaki berkain sarung menenteng kantong plastik transparan berisi laptop, tanpa pembungkus. Iya ya, yang penting kan isinya, bukan bungkusnya.

Dua tahun terakhir

Belakangan, baru kami mendapat cerita dari Duta Besar RI untuk Myanmar Sebastianus Sumarsono, betapa demokratisasi telah mendatangkan krisis listrik baru di Myanmar. ”Dulu, ketika saya datang tahun 2008, setiap hari listrik padam beberapa kali. Pembangkit listrik dibangun besar-besaran pada 2010, dan tahun berikutnya tidak pernah ada pemadaman listrik. Sekarang, semua warga punya peralatan elektronik baru, dan pemadaman bergilir terjadi lagi,” kata Sumarsono tertawa.

Sumarsono pun bercerita tentang Yangon yang kebanjiran mobil impor sejak setahun terakhir. ”Tahun 2010, tidak ada macet. Semuanya memang berubah cepat sejak reformasi politik dijalankan Pemerintah Myanmar. Ekonomi pun semakin tumbuh sejak Pemerintah Myanmar menyatukan nilai tukar mata uang kyat terhadap mata uang asing. Myanmar terus berubah ke arah yang lebih baik, meski dampak ikutannya memang terjadi,” kata Sumarsono.

Menjelang tengah hari, sepulang dari mengunjungi Pagoda Sule yang berseberangan dengan Masjid Jami di Yangon, kami berdua memasuki sebuah toko donat, bukan toko donat waralaba. Semua perabotan serba baru, seperti sejumlah restoran yang kami singgahi di Yangon. Anak-anak muda ada di banyak meja, dengan dandanan dan rambut yang sedikit berwarna. Itu mengingatkan dandanan potongan rambut para artis Korea.

Semua mengobrol riang, sesekali tertawa, sambil memainkan telepon genggam atau sabak elektronik masing-masing. Ya, angin perubahan memang sedang berembus di Yangon....


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: