Sabtu, 23 Agustus 2014

News / Travel

Menyaksikan Keindahan Toraja dari Batutumongga

Senin, 24 Desember 2012 | 18:39 WIB

KOMPAS.com - Batutumongga dapat menjadi salah satu pilihan destinasi wisata alam selagi Anda mengunjungi Tana Toraja di Sulawesi Selatan. Batutumonga terletak di lereng Gunung Sesean yang merupakan gunung tertinggi di Toraja. Gunung ini dinobatkan sebagai tempat terbaik untuk menyaksikan keindahan Tana Toraja dari ketinggian termasuk panorama Kota Rantepao.

Berada di Batutumongga, Anda dapat menghirup segarnya udara pegunungan sambil menikmati panorama alam yang membentang di bawahnya. Batu-batu makam yang tersebar dan rumah-rumah tradisional serta sawah yang menghampar menjadi pemandangan yang spektakuler dipandangi dari Batutumongga.

Di kejauhan, tampak pula bentang Kota Rantepao, ibukota kabupaten Toraja Utara yang juga merupakan pintu masuk ke daerah yang subur dan makmur ini. Rantepao berjarak sekitar 20 km atau sekitar 1–1,5 jam perjalanan berkendara. Saat pagi hari di Batutumongga, kabut dan sekumpulan awan putih bersih yang membalut langit Tana Toraja akan menghadirkan kesan seolah Anda sedang berada di negeri awan.

Semua pesona pemandangan tersebut dapat Anda nikmati sambil menyesap kopi toraja yang hangat atau mengudap makanan ringan di coffee shop yang seolah tahu pasti dari sudut mana pemandangan terindah dapat dipandangi.

Beberapa homestay juga tersedia di Batutumongga, siap menyambut Anda yang ingin bermalam di keheningan alam pegunungan yang indah dan menenangkan. Suara jangkrik mungkin akan menjadi satu-satunya nyanyian yang Anda dengar saat malam hari di Batutumongga.

Kegiatan

Berada di antara perbukitan, jalan menuju Batutumongga tidaklah dapat dikatakan mulus. Jalur yang mendaki dan berkelok adalah tantangan tersendiri yang harus Anda hadapi sebelum dapat menikmati keindahan alam Rantepao dari ketinggian Gunung Sesean.

Sepanjang perjalanan, pemandangan tropis yang indah permai akan menyejukkan mata Anda. Setibanya di Batutumongga, pemandangan alam berupa bentang persawahan yang hijau dapat dinikmati di bulan Maret dan April. Apabila tidak ingin melewatkan hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning maka datanglah ke Batutumongga di bulan Juli atau Agustus.

Nikmati keindahan yang spektakuler tersebut di kedai-kedai kopi yang terdapat di Batutumongga. Beberapa kedai kopi memiliki titik strategis untuk membuat Anda bersyukur dan beruntung dapat menikmati eksotisme alam tropis Toraja dari atas.

Batutumongga berada sekitar 2 km atau 30 menit berjalan kaki dari Lokomata. Di Lokomata, selain dapat menyaksikan kehidupan tradisional masyarakat pedesaan Toraja, kubur-kubur di batu-batu raksasa juga terlihat di beberapa titik di tepi jalan.

Batu-batu raksasa yang dilubangi untuk menyimpan jenazah kerabat tersebut bahkan terletak di pinggir jalan raya, menyuguhkan pemandangan berbeda dari kuburan di tebing batu serupa Londa dan Lemo.

Masih di kawasan Gunung Sesean, dapat pula Anda mengunjungi Bori. Rante (sebutan bagi tempat upacara pemakaman) adalah obyek wisata andalan dan utama di Bori. Di Rante, terdapat batu menhir atau megalit berjumlah sekira 102 dengan ukuran yang bervariasi; 24 menhir berukuran besar, 24  sedang dan 54 menhir lainnya berukuran relatif kecil.

Keberadaan batu menhir di lokasi ini adalah untuk menghormati pemuka masyarakat yang meninggal dunia. Tapi tidak sembarang orang dapat dibuatkan menhir atau biasa disebut simbuang batu ini. Simbuang batu hanya dibuat bagi mereka yang memenuhi tingkat Rapasan Sapurandanan, yaitu keadaan dimana kerbau yang dipotong pada upacara penguburannya minimal 24 ekor.

Tradisi membuat simbuang batu ini telah dipraktikkan sejak ratusan tahun lalu. Berdasarkan catatan, Bori pertama kali dijadikan lokasi upacara pada 1657. Saat itu kabarnya sekira 100 ekor kerbau dikorbankan dan dua simbuang batu didirikan dalam upacara pemakaman Ne’Ramba’.

Pada tahun 1807, sekitar 200 ekor kerbau dikorbankan dan 5 buah simbuang batu didirikan pada acara pemakaman Tonapa Ne’Padda’. Menhir terbesar dan tertinggi di kawasan ini konon didirikan tahun 1935 pada upacara pemakaman Lai Datu (Ne’ Kase’). Menhir terakhir yang didirikan di Bori tercatat di tahun 1962 pada upacara pemakaman Sa’pang (Ne’Lai).

Transportasi

Untuk menuju Batutumongga, ada dua pilihan cara transportasi. Pertama, menumpang minibus atau bemo yang dapat dijumpai di Pasar Bolu. Kedua, menyewa mobil yang akan membawa Anda ke lokasi.

Jalur perjalanan menuju Batutumongga terbilang tidak mudah dengan kondisi kontur jalan menanjak dan berkelok. Namun begitu, pemandangan di atas layak diperjuangkan dengan menempuh perjalanan menanjak sekira 1-1,5 jam berkendara.


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: