Rabu, 26 November 2014

News / Travel

Liburan, Belajar Menanam Air

Selasa, 25 Desember 2012 | 15:42 WIB

LIBUR telah tiba. Tidak ada salahnya mengajak anak-anak ke Hutan Organik, yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari Jalan Raya Puncak di Megamendung, Kabupaten Bogor. Selain menikmati kesejukan dan ketenangan, di hutan ini Anda juga bisa mengajak anak-anak belajar ”menciptakan” hutan sekaligus belajar menanam air.

Hutan Organik dikelola Kelompok Tani Megamendung di lahan seluas 12 hektar. Dari Pertigaan Gadog, Hutan Organik ini berjarak lebih kurang 5 kilometer ke arah Cisarua, lalu berbelok ke kiri di pertigaan Megamendung Pusdikresitel. Hutan itu berada lebih kurang 2 kilometer dari pertigaan tersebut.

Akhir November lalu, kami mengunjungi Hutan Organik itu. Kami diterima di gazebo berbahan serba kayu. Kebetulan, saat itu ada pelatihan menanam dan merawat pohon sejumlah anggota TNI. Semua duduk lesehan di lantai papan, menyimak tayangan foto tentang kondisi Hutan Organik sebelum dan sesudah penanaman pohon.

Udara di gazebo yang berada di ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut itu begitu sejuk. Tidak terdengar suara berisik kendaraan bermotor yang melintas. Yang ada suara gesekan daun-daun dibuai angin. Dedaunan dari pohon yang merimbun membentuk hutan.

”Ada sekitar 40.000 pohon yang kami tanam, yang alhamdulillah sudah menjadi hutan,” kata Yuhan Subrata (26).

Ia adalah putra bungsu pasangan Rosita dan Bambang Subrata. Keluarga inilah yang bersama petani di sekitar lokasi telah memelihara Hutan Organik. Ada sekitar 120 jenis pohon kayu dan buah yang mereka tanam sejak 2002 di lereng bukit itu, yang semula merupakan lahan kritis dan tandus.

”Sekarang selain rimbun, mata air juga mulai muncul. Setidaknya ada 12 mata air saat ini,” tutur Yuhan.

Lahan seluas 12 hektar itu dibagi menjadi tiga zona, yakni zona konservasi seluas 6 hektar, zona tanaman ekonomi 4 hektar, dan 2 hektar untuk zona pemanfaatan.

Selain ada kolam ikan dan kandang ternak, di zona pemanfaatan ini juga ada beberapa penginapan. Penginapan ini berupa bangunan panggung semipermanen dengan dominasi bahan baku kayu. Penginapan ini bisa dimanfaatkan tamu-tamu yang hendak bermalam, menikmati suasana hutan sambil belajar menanam pohon dan ”membuat” hutan.

Pengunjung bisa datang dalam rombongan besar atau hanya datang bersama keluarga kecil.

Yuhan mengaku terbuka menerima siapa pun yang hendak belajar ekologi dan menanam pohon secara organik.

Pengunjung akan diajak masuk ke hutan dipandu instruktur lalu mempraktikkan cara menanam pohon yang benar dan tepat, yang bermanfaat untuk lingkungan sekaligus menguntungkan secara ekonomi bagi penanamnya. Ia ajarkan pula membuat pupuk organik mudah dan murah, tetapi tokcer untuk pertumbuhan pohon. Pupuk organik itu dari pelepah pisang busuk, bekatul, gula pasir, terasi, dan air.

Belakangan, Yuhan juga membuat be berapa paket kamping rombongan bertajuk eduforest mulai dari Rp 100.000 per orang hingga Rp 175.000 per orang.

Dengan biaya itu, peserta bisa mendapat pengenalan lingkungan, menanam pohon, outbond, serta api unggun. Selain itu, juga ada fasilitas khusus berupa motor trail dan motor ATV, tetapi dengan reservasi dahulu.

Makanan Sunda

Setelah lelah berjalan menerobos hutan, pengelola Hutan Organik ini juga menyediakan aneka makanan sunda. Seperti jengkol goreng, oncom, keredok, nasi bakar, dan nasi liwet, dengan sambal beserta lalapan popohan yang dipetik dari Hutan Organik.

Semua disantap dengan nasi hangat sambil duduk lesehan di gazebo, menikmati udara sejuk dan pemandangan pegunungan diteduhi pohon.

Bagi Anda yang suka memancing, di sini juga disediakan kolam ikan mas yang airnya bersumber dari salah satu mata air yang muncul dari hasil penghijauan. Ikan mas yang ditanam di sini bisa dipancing. Hasil memancing pun bisa minta disajikan sebagai santapan ikan bakar atau goreng. Kemudian dinikmati bersama nasi panas dan sambal terasi yang nikmat. (RTS/GAL)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: