Sabtu, 1 November 2014

News / Travel

Kampung Main

Aneka Permainan Tradisional Khas Banyumas

Sabtu, 12 Januari 2013 | 12:54 WIB

KOMPAS.com - Saat berkunjung ke Desa Plana, Ramon Y Tungka, host Kampung Main, program di Kompas TV, berkesempatan menjajal segudang permainan tradisional yang seru dan menyenangkan. Desa Plana dari Somagede, Banyumas, Jawa Tengah.

Uniknya, simbah-simbah alias nenek-nenek yang meski sudah renta namun masih tetap mampu bergerak lincah, turut berpartisipasi dalam permainan-permainan ini. Mereka bahkan mengajarkan anak-anak beragam permainan tradisional ini.

Maklum saja, perkembangan zaman membuat anak-anak mulai beralih ke permainan modern dan mulai melupakan permainan tradisional. Nah, berikut permainan-permainan tradisional khas Banyumas yang dimainkan Ramon dan anak-anak di Desa Plana.

Kunclungan. Menepuk, meninju, dan mengaduk air sungai hingga mengeluarkan nada. Inilah permainan Kunclungan. Permainan air ini telah lama ada dan biasa dilakukan oleh anak-anak maupun orang dewasa di Desa Plana, Banyumas.


Sebelum kunclungan

Nenek-nenek Desa Plana mengajari Ramon Tungka bermain kunclungan. (Foto: Kompas TV)

Biasanya, mereka memainkan Kunclungan sembari melakukan aktivitas lainnya di Sungai Serayu seperti mencuci baju. Tidak mudah mengolah percikan air menjadi serangkaian bebunyian yang indah.

Jika salah memainkannya, hanya akan terdengar suara cipratan tak menentu. Setiap gerakan tangan akan mengeluarkan bunyi yang berbeda. Ketika tangan menepuk air, akan terdengar suara yang agak tinggi.

Bila tangan ditinjukan, akan terdengar suara seperti dentuman. Ketika suara-suara tersebut disatukan, akan menghasilkan alunan nada yang asyik didengar.

Agar lebih meriah, Kunclungan bisa dimainkan oleh lebih dari 2 orang. Para pemainnya bisa bermain secara bersamaan ataupun bergantian.

Sripat. Desa Plana masih memiliki permainan yang dimainkan di sekitar Sungai Serayu. Permainan air yang cukup kompetitif ini disebut Sripat. Cukup seru memainkannya.

Permainan perorangan ini biasa diikuti oleh banyak anak. Masing-masing anak cukup berbekal batu pipih berdiameter sekitar 3 sampai 4 sentimeter. Tidak sulit mendapatkannya, karena batu-batu semacam ini banyak bertebaran di bibir atau di dasar sungai.

Batu-batu ini akan dilemparkan secara bergantian. Bukan sembarang melempar tentunya. Dalam lemparannya, pemain harus mampu membuat batu terpantul-pantul di permukaan air.  Lemparan yang menghasilkan pantulan terbanyak, adalah lemparan batu terbaik.

Ada trik khusus untuk melemparkan batu hingga terpantul beberapa kali di atas permukaan air. Batu kali yang pipih ini harus dilempar menyamping, agar tidak langsung tenggelam dan menghasilkan banyak pantulan.

Bedoran. Sebelum dimulai, masing-masing pemain melakukan pingsut atau suit. Pemain yang kalah harus menjadi pemain jaga.

Pemain jaga kemudian mengejar pemain lainnya yang berjajar membentuk satu lingkaran. Pemain yang terkena sentuhan tangan di pemain jaga, harus bergantian jadi pemain jaga.

Bedoran

Ramon Y. Tungka bermain bedoran di Desa Plana. (Foto: Kompas TV)

Nah, untuk menghindari si pemain jaga, para pemain yang dikejar harus menempel pada salah satu pemain lainnya. Pemain yang ditempel harus bergantian lari. Biasanya, karena panik, banyak pemain yang seharusnya bergiliran lari, malah justru menempel lagi ke pemain di sebelahnya.

Permainan Bedoran ini mirip dengan permainan Kelik-kelikan dan Kedis-kedisan yang ada di tanah Bali. Pada dua permainan ini, para pemainnya saling mengejar dan bergantian berlari dengan cara menempel atau berdiri di samping pemain lain.

Bedanya, jika pada Bedoran pemain jaga menyentuh pemain lain dengan tangan. Sementara itu, pada Kelik-kelikan dan Kedis-kedisan, pemain jaga berbekal tongkat untuk menepuk lawan. Baik Bedoran, Kelik-kelikan maupun Kedis-kedisan, masing-masing memiliki nyanyian daerah tersendiri yang biasa dilagukan di awal permainan.

Dut-dut Kiradut. Di beberapa tempat, permainan ini kerap disebut juga sebagai permainan Nenek Gerondong atau Cabut Ubi. Permainan ini bercerita tentang Bumbu Lading, seorang tamu yang hendak meminta ubi pada si empunya rumah.

Pada permainan ini, anak-anak duduk berbaris di belakang seorang pemain yang berperan sebagai si empunya rumah. Anak-anak yang duduk berbaris berperan sebagai ubi. Nah, si tamu harus berusaha mengambil ubi permintaannya dengan menariknya sendiri.

Tiap habis menarik ubi, si tamu akan meminta lagi pada si empunya rumah. Begitu seterusnya, hingga barisan ubi makin sedikit.

Dalam barisan ubi ini, ada seorang anak yang berperan sebagai tawon. Jika si tamu sampai salah menarik tawon ini, maka si tawon akan menyengat ubi-ubi yang lain. Istilahnya, jebakan tawon! Permainan akan berakhir jika tawon yang terlepas berhasil menyengat ubi-ubi yang berlarian.

Sliring Genting. Permainan ini berkisah tentang seorang pencuri yang berpura-pura mendatangi sebuah rumah untuk meminta api. Namun, si empunya rumah yang curiga, akhirnya mengetahui bahwa tamu tak diundangnya, ternyata berniat mengambil pithik alias ayam miliknya.

Para pemain akan berbaris di belakang si empunya rumah yang berada di barisan paling depan, berhadap-hadapan dengan si pencuri. Nah, si pencuri akan berupaya mengejar ayam yang ada di barisan paling belakang.

Sementara, mereka yang berbaris di belakang penjaga rumah berperan sebagai prajurit yang bertugas menjaga si ayam agar tak sampai jatuh ke tangan si begal alias si pencuri. Para prajurit ini harus pintar-pintar mengelak agar si begal kebingungan menangkap si ayam.

Tuh, permainan tradisional tak kalah menarik dan menyenangkan dibanding permainan modern, bukan?  Jadi, yuk bermain permainan tradisional! (Kompas TV/ Fauziyah) 

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: