Minggu, 26 Oktober 2014

News / Travel

Gunung Rinjani, Obyek Wisata yang Tetap Memikat

Selasa, 15 Januari 2013 | 20:25 WIB

GUNUNG Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut itu diyakini sebagian masyarakat Lombok sebagai tempat bersemayam ratu jin bernama Dewi Anjani, putri raja Datu Tuan dari permaisurinya Dewi Mas, yang memerintah sebuah kerajaan kecil di Lombok.

Terlepas dari legenda itu, Gunung Rinjani merupakan salah satu destinasi andalan Kabupaten Lombok Utara. Gunung tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat ini menyimpan sejuta pesona  dan memiliki potensi geowisata yang menarik.

Diantara daya tarik gunung api itu adalah panorama kaldera, danau, puncak, kawah, air terjun, mata air panas, goa, lubang letusan dan aliran lava baru. Pesona yang dimiliki gunung yang diyakini menjadi istana Ratu Jin Dewi Anjani ini nyaris sempurna.

Selain memiliki berbagai keunikan, Gunung Rinjani juga kaya dengan berbagai jenis flora dan fauna. Di sebelah selatan dan barat pada ketinggian 1.000 - 2.000 meter banyak ditumbuhi Dysoxylum sp, pterospermum, dan Ficus superba.

Pada ketinggian 2.000-3.000 meter banyak tumbuh cemara gunung (Casuarina junghuhniana). Namun pada ketinggian diatas 3.000 meter miskin akan tumbuhan, hanya ditumbuhi rumput dan bunga edelweiss (Anaphalis javanica) dan di sebelah timur gunung banyak ditumbuhi pohon akasia.

Selain itu tercatat 109 jenis burung hidup di Gunung Rinjani. Beberapa diantaranya adalah jenis burung yang ada di Australia, monyet perak yang berasal dari Bali, rusa dan landak.

Sementara di Pelawangan Sembalun, Lombok Timur terdapat monyet ekor panjang yang suka mengganggu kemah para pendaki. Mereka sangat pandai membuka tenda untuk mengambil makanan dan dikenal sangat garang dan berani.

Berbagai pesona itulah menjadi magnet yang mampu menarik minat wisatawan mancanegara maupun nusantara untuk mendaki dan menaklukkan gunung yang memiliki ketinggian hampir empat kilometer itu. Para wisatawan yang mendaki gunung itu adalah wisatawan minat khusus yang menyukai tantangan.

Di balik sejuta pesona yang dimiliki gunung api itu, sebenarnya Gunung Rinjani merupakan salah satu dari enam gunung di Indonesia yang cukup bahaya untuk didaki. Karena itu tidak berlebihan kalau Rinjani dijuluki obyek wisata "maut".

Hingga kini gunung yang disebut-sebut banyak menyimpan misteri itu telah menelan cukup banyak korban jiwa. Cuaca buruk disertai datang secara tiba-tiba terkadang menyebabkan pendaki tersesat dan akhirnya ditemukan tak bernyawa.

Kepala Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, Sulistrianto mengakui pada 10 Maret 2007, tujuh pelajar asal Pulau Lombok yang mendaki Gunung Rinjani ditemukan tewas di wilayah perbatasan Pelawangan, Sembalun dengan Danau Segara Anak.

Ketujuh korban pelajar dan mahasiswa yang mendaki Gunung Rinjani itu tewas akibat terjebak cuaca buruk dan kehabisan makanan. Dugaan kuat terjebak cuaca buruk, karena jenazah mereka ditemukan tidak di dalam jurang.

Selanjutnya pada 29 Juni 2010, pendaki asal Italia Federica Frovera (27) ditemukan tewas di Gunung Baru Jari (anak Gunung Rinjani). Korban tewas diduga akibat kelelahan setelah mandi di Danau Segara, saat mendaki selama satu minggu.

Saat itu korban berada di kilometer 8,3 dari Danau Segara menuju Pelawangan Senaru. Saat itu Gunung Baruijari yang berada di kaldera Gunung Rinjani sedang berstatus waspada, dan  masih mengeluarkan letusan kecil dengan asap tebal setinggi 300 meter.

Masih banyak pendaki lain yang terwas akibat "keganasan" Gunung Rinjani. Bahkan hampir setiap tahun gunung yang menyimpan banyak misteri itu menelan korban jiwa.

Karena itu setiap tahun Balai Taman Nasional Gunung Rinjani mengeluarkan larangan untuk mendakian gunung api tersebut. Penghentian sementara aktivitas pendakian biasanya berlangsung dua hingga tiga bulan terutama pada saat terjadinya cuaca buruk termasuk pada 2013.

Ditutup tiga bulan

Pada 2013 jalur pendakian ke Gunung Rinjani ditutup sekitar tiga bulan, mulai 10 Januari hingga 31 Maret 2013. "Penutupan dilakukan karena musim hujan menyebabkan jalur pendakian licin dan pohon tumbang sehingga membahayakan keselamatan pendaki," kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Agus Sudiono di Mataram, Sabtu (5/1/2013).

Menurut Agus, selain untuk keselamatan pendaki, penutupan jalur pendakian juga dimaksudkan buat pemulihan ekosistem secara alami di taman nasional yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan nusantara itu.

Menurut informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Selaparang Bandara Internasional Lombok (BIL) curah hujan di TNGR dan sekitarnya sudah meningkat dengan intensitas sedang hingga lebat.

Informasi mengenai penutupan jalur pendakian sudah disampaikan melalui surat ke seluruh instansi terkait termasuk seluruh bupati dan wali kota se-Lombok, pihak kepolisian, dan kepala desa yang ada di wilayah jalur pendakian tersebut.

Terkait dengan pemberlakuan larangan pendakian sementara pihak TNGR akan melakukan pengawasan baik di jalur pendakian Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara maupun Sembalun, Lombok Timur guna mencegah pada pendaki melakukan pendakian.

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani meminta masyarakat dan wisatawan untuk mematuhi larangan mendaki Gunung Rinjani menyusul dikeluarkannya keputusan penutupan sementara yang berlaku mulai 10 Januari hingga 31 Maret 2013.

"Kami meminta agar larangan mendaki Gunung Rinjani tersebut dipatuhi guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan karena kondisi di jalur pendakian membahayakan para pendaki," katanya.

Untuk mencegah masyarakat dan melakukan pendakian, Balai TNGR sudah menarik kembali semua tiket kunjungan dari para juru pungut di jalur pendakian resmi baik di Senaru, Kecamatan Bayang, Kabupaten Lombok Utara maupun Sembalun, Lombok Timur.

"Seluruh tiket pendakian dari petugas pemungut di jalur pendakian resmi sudah kami tarik kembali. Kami memastikan tidak ada lagi masyarakat dan wisatawan yang akan mendaki melalui jalur pendakian resmi," ujarnya.

Bahaya yang mengintai pada pendakian Gunung Rinjani itu nampaknya tidak menyurutkan niat para pendaki untuk menaklukkan gunung tertinggi kedua setelah Gunung Kerinci di Sumatera dengan ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut.

Terbukti kendati secara resmi telah dikeluarkan larangan pendakian oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, namun masih ada yang mendaki. Pada 9 Januari 2013 atau sehari sebelum dikeluarkan surat larangan pendakian terpantau sebanyak 50 orang pendaki yang mendaki Gunung Rinjani.

Para pendaki itu sudah diperingatkan oleh petugas agar tidak melakukan pendakian, karena mulai 10 Januari dilakukan penutupan secara resmi hingga 31 Maret 2013, namun mereka tetap mendaki.

"Petugas Balai TNGR yang ada di jalur pendakian sudah mengingatkan agar jangan dilakukan pendakian mengingat kondisi di sepanjang jalur pendakian cukup membahayakan akibat cuaca buruk, namun mereka tidak mematuhi larangan tersebut," ujar Agus.

Menurut dia, jumlah pendaki Gunung Rinjani yang terpantau menjelang penutupan pendakian sekitar 50 orang. Mereka melakukan pendakian sejak 9 hingga 14 Januari untuk melakukan suatu upacara di Danau Segara Anak.

"Kami akan terus melakukan pemantauan secara ketat untuk memastikan tidak ada lagi pendakian, karena kondisi cuaca buruk yang disertai angin kencang dan kabut serta jalur pendakian yang licin membahayakan keselamatan para pendaki," katanya.

Untuk mencegah para pendaki melakukan pendakian pada musim cuaca buruk Balai Taman Nasional Gunung Rinjani akan melakukan sosialisasi mengenai penutupan pendakian Gunung Rijani tersebut lebih awal agar tidak ada lagi yang mendaki menjelang masa penutupan tersebut.

Pesona Gunung Rinjani seakan menyebabkan wisatawan melupakan ancaman yang dihadapi. Kendati gunung ini cukup banyak menelan korban tapi setiap tahun jumlah wisatawan yang mendaki terus mengalam peningkatan.

Jumlah wisatawan yang mendaki Gunung Rinjani selama 2012 tercatat 19.782 orang, meningkat dibandingkan 2011 sebanyak 15.020 orang. Jumlah pendaki didominasi wisatawan mancanegara yang tercatat 10.956 orang, sedangkan wisatawan nusantara 8.826 orang.

Para wisatawan tersebut mendaki Gunung Rinjani melalui empat jalur pendakian, yakni Sembalun sebanyak 8.984 orang, Senaru 5.540 orang, Kembang Kuning 4.520 orang dan jalur pendakian Timbanuh 738 orang.

Setiap bulan wisatawan yang berkunjung ke Gunung Rinjani rata-rata 1.600 orang lebih.

Gunung Rinjani yang sarat tantangan dan bahaya itu menjadi salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Lombok Utara setelah Gili Trawangan di Kecamatan Pemenang. Meski "maut" tetap mengintai, ternyata Gunung Rinjani tetap memikat.

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: