Rabu, 20 Agustus 2014

News / Travel

BIREUEN

Rujak Manis Alami, Cuma Ada di Kutablang

Rabu, 16 Januari 2013 | 05:00 WIB

BIREUEN, KOMPAS.com - Berdinding dan beralas papan seadanya, ruang terbuka yang luasnya kurang dari 6x6 meter itu terus dipadati ratusan pengunjung. Mulai dari yang bersepeda hingga kendaraan empat roda terparkir di sisi jalan bahkan di seberang jalan. Apalagi cuaca terik, tempat sederhana ini nyaris penuh dengan orang-orang yang berdatangan untuk duduk santai menikmati minuman khas yang dijajakan di sana.

Ya, segelas rujak manis alami tanpa campuran pemanis buatan dijual di sisi jembatan Kutablang, Kabupaten Bireuen. Berjarak hanya 50 meter dari jalan negara Banda Aceh-Medan, warung rujak yang dikenal sebagai rujak manis tutu (red, jembatan) Kutablang ini, hanya menyediakan menu andalan rujak. Namun begitu, tak mengurangi kunjungan warung Pak Guru—nama pemilik kedai rujak—yang mengandalkan gula asli tanpa campuran ini.

Sehingga tak menjadi aneh tatkala menyaksikan ratusan lebah mengerubungi wadah dan gelas-gelas air rujak yang terhidang di meja. "Itu tandanya gula asli, manisnya pun tak bikin kehausan lagi," ungkap Zulkarnen, seorang pengunjung, Selasa (15/1/2013).

Per gelas rujak manis dihargai Rp 5.000, sedangkan untuk dibungkus sesuai pesanan pembeli. Isinya juga tak tanggung-tanggung, campuran buah seperti mangga, sauh, timun, jambu, dan lain-lain dihaluskan terlebih dahulu lalu dicampur dengan gula pasir.

Muhamad (22), seorang pekerja di kios ini, mengatakan dalam sehari gula pasir dihabiskan hingga satu zak ukuran 50 kilogram. "Bahkan hari-hari libur seperti Sabtu, Minggu atau lebaran bisa dua kali lipatnya," ujarnya seraya menyebutkan tak ada hari libur bagi usaha tersebut, karena permintaan terus mengalir.

Bahkan, momen Ramadhan, permintaan melonjak hingga berkali-kali lipat. Hal ini ditandai dari banyaknya pembeli lokal atau luar yang rela antri dari pukul empat sore hingga menjelang azan magrib. Kendati banyak pedagang kaki lima lain yang memanfaatkan rujak manis Kutablang ini untuk diproduksi sendiri, pembeli sudah mahfum akan keaslian dan tidak adanya cabang lain yang dibuka. "Untuk dijual sendiri saja kewalahan, mana sempat menyiapkan pesanan ke tempat lain," jelas Muhammad.


Penulis: Kontributor Bireuen, Desi Safnita Saifan
Editor : Glori K. Wadrianto