Kamis, 23 Oktober 2014

News / Travel

Ada Jalan Soekarno dan Bandoeng di Rabat

Senin, 21 Januari 2013 | 13:46 WIB

KOMPAS.com - Sesuai dengan letak geografi Maroko yang berada di Benua Afrika sebelah utara bagian barat, negeri ini seringkali disebut sebagai negeri maghribi yang dalam bahasa arabnya bermakna barat. Sedangkan Rabat adalah ibu kota kerajaan Maroko yang terletak di pinggir pantai Samudera Atlantik dan dialiri Sungai Bouregreg yang tidak pernah kering sepanjang tahun.

Sebelumnya ibu kota Maroko berada di Fes, kota bagian utara. Saat meraih kemerdekaan tahun 1956, Raja Mohammad V, kala itu, mempertahankan Rabat menjadi ibu kota kerajaan Maroko hingga kini.

Penamaan kota Rabat diambil dari bahasa arab, ‘Ribatul Fath’ yang berarti kemenangan yang semakin kuat. Hal ini disebabkan karena kota Rabat merupakan kota benteng yang sulit ditembus musuh. Hingga saat ini sisa-sisa bentengnya masih bisa disaksikan. Tak heran jika kota ini menjadi salah satu tujuan utama dan menjadi obyek wisata paling populer di Maroko.

Di kota ini merupakan pusat pemerintahan yang memilki beberapa obyek wisata yang layak untuk dikunjungi lantaran menyimpan sejarah yang panjang. Tidak hanya itu, ternyata dikota ini juga menyimpan sejarah yang menjadi kebanggaan warga Indonesia saat berkunjung kesini.

1. Kasbah des Oudayas

Kasbah adalah sebuah benteng yang mana pada zaman dahulu benteng ini berfungsi untuk mengawasi ancaman serangan laut dari Spanyol. Selain itu Kasbah juga berfungsi sebagai penyimpanan barang bersejarah yang sangat bernilai. Benteng ini dibangun oleh Raja Moulay Ismail dari Dinasti Alaoui (1672-1694) didirikan di tempat strategis menghadap ke laut Atlantik.

Bukan hanya tembok Kasbah yang masih berdiri, pemukiman penduduk di balik tembok tebal pun masih lestari hingga kini. Saat kita masuk, kehidupan yang bagaikan dari masa lampau terus berdenyut. Bentuk-bentuk bangunannya pun masih asli sejak pertama kali dibangun. Itu sebabnya, banyak sekali wisatawan datang mengagumi keaslian kehidupan di Kasbah.

Ditemui pula taman kuno yang masih terawat baik hingga sekarang. Para wisatawan bisa melepaskan lelah sambil memandang ke laut lepas di kafe Kasabah. Tidak jauh dari Kasbah, terdapat pasar kuno Oudayas yang menjual barang souvenir dan artisanat khas Maroko.

Sedikitnya 3 ribu jiwa menghuni pemukiman Kasbah. Di kiri kanan jalan yang sempit, bangunan tempo dulu masih tegak berdiri. Ada baiknya bertandang ke rumah penduduk lokal untuk meresapi lebih dalam rasa tinggal di pemukiman dalam benteng. Dahulu, hanya orang-orang berpunya saja yang mampu tinggal di Kasbah.

2. Tour Hassan

Tidak jauh dari Kasbah des Oudayas terdapat peninggalan bersejarah Tour Hassan. Bagunan tersebut adalah masjid yang dibangun oleh Raja Yaqoub Al-Mansour pada abad 12. Masjid tersebut mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang terjadi pada tahun 1755.

Dari lokasi Tour Hassan di dataran tinggi, dapat terlihat pemandangan indah dan hamparan Sungai Bouregreg dan Samudera Atlantik. Di tempat yang sama dimakamkan Raja Mohammed V dan Raja Hassan II.

3. Bab Chellah

Bangunan bersejarah lainnya adalah Benteng Chellah. Di sinilah dahulu, cikal bakal pemukiman penduduk pertama yang ada di kota Rabat, dibangun tiga abad sebelum masehi.

Tempat bersejarah dan wisata lainnya yang bisa dikunjungi di kota Rabat, antara lain, Bab Chellah (Pintu/Benteng Chellah). Sebuah kota tua yang didirikan oleh Roma yang kemudian diteruskan di bawah pemerintahan Arab.

Saat ini, benteng Chellah hanya menjadi peninggalan sejarah yang banyak dikunjungi wisatawan dan ditempati oleh jumlah luar biasa burung pelikan. Gelembung burung pelikan ini berkembang biak terutama di musim semi. Selain pohon yang merindangi Benteng Chellah, burung-burung pelikan tersebut juga menjadikan menara tua sebagai sarangnya.

Tidak jauh dari Benteg Chellah, cukup berjalan kaki sebentar pemandangan Sungai Bouregreg teramat sayang untuk dilewatkan. Sekadar menikmati senja bisa dilakukan dengan duduk di kafe sekitar sungai.

Nama Bouregreg, berasal dari sebutan sungai yang berada di Maroko bagian barat, sumbernya berada di Pegunungan Atlas. Sungai ini  merupakan bagian dari Samudera Atlantik, memisahkan Kota Rabat dan Sale. Jadi, masyarakat sini terbiasa menggunakan sarana perahu untuk menyeberang antar kota.

4. Corniche Rabat

Pilihan tempat wisata yang juga menarik dikunjungi di kota Rabat adalah Corniche Rabat. Seperti halnya kebanyakan kota-kota di pinggiran pantai, Rabat juga menghiasi dirinya dengan Corniche (kota pantai) yang menghubungkan dengan kota Sale.

Kerja sama yang dilakukan Kerajaan Maroko dengan beberapa negara di kawasan teluk, di antaranya UNI Emirat Arab (UEA) untuk membangun Corniche Rabat, menjadikan sepanjang pantai Rabat begitu indah dengan perangkat fasilitas kota modern.

5. Jalan Soekarno

Bagi warga Indonesia yang berkunjung ke Maroko, tentu tidak akan melewatkan berpose di depan Rue Soekarno/Zankat Soekarno atau Jalan Soekarno. Tepat di depan Bank Al Maghreb, nama presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno tertulis sebagai nama jalan.

Kerajaan Maroko sangat berutang budi kepada Soekarno dan bangsa Indonesia untuk keluar dari penjajahan tahun 1945, berikut Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 dan kunjungan Presiden Soekarno pada 2 Mei 1960 yang terhitung sebagai kunjungan kepresidenan pertama untuk Kerajaan Maroko setelah kemerdekaannya pada tahun 1956.

6. Jalan Indonesia dan Jalan Bandung

Tidak hanya sebatas Jalan Soekarno. Bukti kekerabatan antar bangsa begitu nyata di Kota Rabat. Di kota berpenduduk 1,7 juta jiwa ini terdapat pula Jalan Indonesia. Meski hanya jalan kecil beberapa meter saja, di jalan ini terdapat tiga apartemen dan tiga rumah penduduk.

Masih belum cukup, kota Bandung pun diabadikan menjadi nama jalan sepanjang 150 meter di pusat kota Rabat. Uniknya lagi ujung jalan ini berbatasan langsung dengan ‘New York Rue’.

Hanya di Rabat, jarak antara Bandung dengan New York terpisah dalam hitungan langkah kaki. Bagi pembaca yang tinggal di Jakarta pun tidak perlu kecil hati, karena di Rabat pun terdapat ‘Jakarta Rue’. Sungguh membanggakan hubungan bagai saudara ini.

Berbahagialah bangsa Indonesia yang ingin berkunjung ke Maroko, karena tidak membutuhkan visa. Adalah Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno yang berjasa besar meminta kepada Raja Maroko kala itu Mohammad V untuk membebaskan bangsa Indonesia dari visa, saat berkunjung ke Maroko tahun 1960. (Kusnadi El-Ghezwa, Koordinator Media Informasi PPI Maroko dan Koordinator Lajnah Ta’lif wa Nasyr PCINU Maroko)

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel


Editor : I Made Asdhiana