Rabu, 24 September 2014

News / Travel

Bekantan, Berjuang Melawan Kepunahan

Kamis, 24 Januari 2013 | 10:36 WIB

KOMPAS.com - Seekor monyet bekantan kecil mencoba mengejar kelompoknya yang seolah berlari di cabang-cabang pohon di tepian sebuah sungai di Kalimantan. Di atas pohon tepat di tepian sungai itu, mereka berhenti. Sungai mengalir perlahan. Warnanya coklat. Monyet dewasa tak ragu naik ke dahan lebih tinggi, lalu dengan gaya khas melompat ke seberang. Melayang di udara, tangan mereka menggapai-gapai ke depan mencari pegangan.

Tap! Akhirnya memegang ujung ranting sebuah pohon di seberang. Lompatan sempurna, seolah terukur, gerak lambat mereka ketika melayang di udara sangat indah dan elegan, seolah puisi dari hutan belantara.

Monyet ini, karena hidungnya yang khas, mendapat julukan ‘monyet belanda’. Apa yang terjadi jika orang Inggris yang menjajah Indonesia? Mungkin monyet bekantan akan mendapatkan nama lain. Nama latinnya nasalis larvatus, dan primate yang satu ini kini adalah hewan langka yang terancam punah. Dunia internasional memasukkan hewan ini sebagai hewan langka yang harus dilindungi. Perdagangannya sangat dilarang.

Nasalis senang hidup dekat wilayah berair di dekat muara sungai atau hutan bakau. Di tempat seperti itu, tunas-tunas baru selalu tumbuh di pepohonan. Makanan berlimpah di sana. Menurut Mohamad Soenjoto, seorang ahli biologi, ”Bekantan senang makan tunas daun bakau, juga memakan kepiting, atau ikan kecil.”

Tapi pemangsa mereka juga tak kurang. Di sungai yang diceritakan di atas, misalnya, buaya-buaya menanti monyet ceroboh yang tak tahu strategi menyeberang. Begitulah, seperti tampak dalam berbagai film dokumenter, ketika seekor monyet menyeberang, jalur lompatannya akan menyerupai lemparan batu: naik sedikit lalu melayang turun.

Itu sebabnya, mereka naik ke atas dahulu baru melompat. Bila kurang kuat, maka bukannya cabang kayu di seberang yang mereka raih, tapi mereka akan jatuh tercebur ke air sungai. Tak masalah kalau toh tercebur. Bekantan bisa berenang, bahkan kalau perlu, mereka bisa juga menyelam. Jari-jari mereka punya selaput kecil, dan hidung mereka, menurut keterangan para ahli biologi, memiliki katup penutup.

Tetapi bekantan tak ceroboh berenang di sembarang tempat. Di sudut-sudut Pulau Kalimantan, di tepian sungai-sungai, terutama dekat muara. Si hidung panjang berdampingan dengan para buaya, yang siap memangsa monyet mana pun yang tak kuat menyeberang.

Namun bukanlah para pemangsa yang menjadi keprihatinan utama. Di tengah hutan yang sedang berubah menjadi lahan tanpa pepohonan, karena kayunya dibutuhkan untuk memperkuat ekonomi daerah dan nasional, atau sebagai bahan pemasukan penduduk lokal, monyet mancung ini berjuang melawan kepunahan. Ya, si londo ini memang sedang menghadapi perubahan di lingkungan habitatnya dan hal ini berpengaruh pada populasinya.

Kepala Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Batulicin, Kalimantan Selatan, Suwandi mengatakan, salah satu penyebab berkurangnya populasi bekantan adalah perambahan hutan mangrove dan kualitas hutan mangrove.

“Bahkan ada bekantan yang berkeliaran ke perkampungan penduduk karena kesulitan mendapatkan makanan di hutan,” kata Suwandi.

Rusliandi, seorang mahasiswa Banjarmasin, menyebutkan bahwa ada peneliti yang berani menyatakan bekantan akan punah 14 tahun lagi.

“Semuanya berubah, bekantan tampaknya tak akan bisa bertahan.” Bisa jadi dia salah, bisa jadi dia benar, bisa jadi dia mengarang cerita tanpa dasar.

Yang jelas, menurut berbagai peneliti, kawasan hutan yang menjadi tempat berkembang biak bekantan tersebut, memang semakin berkurang. Sekarang ini masih ada sejumlah tempat yang menjadi habitat hidup bekantan, dan boleh dikunjungi para wisatawan.

Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel pada 2007 menunjukkan bahwa populasi si hewan hidung panjang ini diperkirakan masih mencapai sekitar 5.010 ekor.

Di cagar alam Selat Sebuku, Kabupaten Kota-baru terdapat 3.500 ekor, di suaka margasatwa Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala), 1.200 ekor bekantan berkelana di hutan-hutan.

Di Kuala Lupak Tabunganen Kabupaten Barito Kuala tinggal 150 ekor, pembuatan tambak dan aktivitas warga di Kuala Lupak, mengusik bekantan sehingga keluar dari kawasan konservasi untuk mencari makan.

Di Pulau Kaget, Kalimantan Selatan, bekantan kini tinggal 100 ekor, menurun menjadi sepertiga dalam waktu lima belas tahun.

Kawasan mangrove di lokasi wisata Taman Alam Pulau Kembang, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, merupakan habitat aneka fauna seperti lutung (Presbytis cristata), kera abu-abu (Macaca fascicularis), serta fauna kelompok elang dan bangau. Kini hanya tinggal 10 ekor bekantan yang hidup di sana.

Pulau kembang berjarak dua kilometer dari Banjarmasin namun masuk wilayah Kabupaten Barito Kuala. Pulau yang berada tepat di tengah sungai Barito ini ditempuh sekitar seperempat jam menggunakan perahu motor dari Banjarmasin.

Di Pulau Bakut, laporan dari lima tahun lalu menyebutkan bahwa ada 50 ekor bekantan di Pulau Bakut, Kalimantan Selatan, kini hanya tersisa sekitar 12 ekor.

Memang ironis, padahal tempat-tempat itu berkali-kali dipromosikan sebagai tempat perlindungan bagi satwa langka bekantan.

Bekantan memang sedang menderita, seperti halnya berbagai satwa langka lainnya yang perlu dilindungi. Pepohonan habitatnya ditebang, atau diseruduk tongkang pengangkut batu bara, seolah tak ada yang peduli. Itulah sebabnya saat ini dipasang tonggak-tonggak pelindung habitat mereka di berbagai tempat.

Jika ada tongkang yang sembarangan melaju, mereka tak akan lagi menyeruduk bakau, namun akan tertumbuk pada tonggak pelindung. Inilah salah satu usaha melindungi habitat satwa yang menjadi kebanggaan Kalimantan, karena hanya di Pulau Kalimantan mereka ditemukan.

Di wilayah Tarakan, sebuah hutan bakau yang terletak dekat pusat kota menjadi tempat perlindungan bagi satwa ini. Ada jembatan kayu dibangun menyusuri hutan seluas 21 hektar.

Pada awalnya tempat ini hanya seluas 9 hektar, namun dengan keputusan Wali Kota Tarakan, hampir sepuluh tahun lalu, wilayah konservasi ini berkembang menjadi indah seperti sekarang.

Hutan ini adalah kebanggaan kota Tarakan, hampir semua warganya dengan bangga menceritakan hutan wisata yang sampai saat ini merupakan satu-satunya kawasan konservasi mangrove di Indonesia yang lokasinya berada di pusat kota.

”Tidak ada kota yang seperti ini di Indonesia,” kata Muhamad Rusli, seorang warga Tarakan, yang dengan santai menjadi pemandu kami saat berkunjung ke tempat itu.

Di atas kami, Jack, nama salah satu ‘pemuka’ komunitas bekantan di tempat itu berlari, seolah meluncur di atas batang-batang pohon bakau yang menjulang. Perutnya yang buncit tak mengganggu gerak lincahnya.

Rusli tak terlalu salah, bayangkan saja, sesudah mengunjungi pasar tradisional atau pusat pembelanjaan, anda bisa menikmati kesegaran hutan, lengkap dengan penghuninya yang langka. Kawasan ini menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik.

Tak heran bila Wali Kota Jusuf S Kasim yang merencanakan dan meresmikan KKMB (Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan) ini, terus dikenang sebagai Wali Kota yang memberi kebanggaan pada kota di batas Malaysia. Tak heran pula, bila Tarakan sempat mendapat penghargaan atas prestasinya ini.

Sebuah renungan bagi masyarakat dan para pemimpin di daerah-daerah: bila Anda melindungi satwa dan lingkungan dengan cara yang cerdas, Anda akan didukung dan dikenang dengan cara yang indah. (Arifin Hutabarat)

Ikuti Twitter Kompas Travel di @KompasTravel


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: