Kamis, 18 Desember 2014

News / Travel

Explore Indonesia

Transaksi Barter Warga Gunung dan Laut di Pasar Warloka

Selasa, 29 Januari 2013 | 13:40 WIB

DI zaman modern sekarang, ternyata praktik jual beli dengan cara barter atau bertukar barang, masih ditemukan di Indonesia. Ketika berwisata ke Pulau Komodo, cobalah sempatkan mampir ke Pasar Warloka, untuk melihat transaksi dagang tanpa mata uang.

Saat mengeksplorasi kawasan Pulau Komodo dan sekitarnya, Kamga, pembawa acara program “Explore Indonesia” yang tayang di Kompas TV, mengunjungi Warloka. Pasar ini ada di Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pasar Warloka

Pasar Warloka yang terletak di pesisir, memang berada di Pulau Flores. Namun, lokasinya sulit dijangkau melalui jalur darat. Untuk menuju ke sana lebih mudah menggunakan perahu, yang bisa disewa di Pelabuhan Labuan Bajo.

Oleh karena itu, jika wisatawan akan berkunjung ke Taman Nasional (TN) Komodo dan berangkat melalui Labuan Bajo, jangan lewatkan untuk lebih dulu singgah ke Warloka. Jaraknya sekitar 30 km barat daya Labuan Bajo.

Saat pagi masih gelap, Kamga berangkat dari Labuan Bajo dengan perahu menuju Warloka. Perjalanan sekitar satu jam. Di tengah jalan, alam menyuguhkan pesonanya. Semburat sinar dari ufuk timur perlahan mengusir kegelapan menjadi pagi yang cerah. Sunrise!

Akhirnya perahu sampai di Warloka dan pasar yang dituju berada persis di pinggir dermaga. Sekitar jam 6 pagi, pengunjung sudah berjejal. Pasar Warloka hanya ramai satu minggu sekali setiap hari pasaran.

Barang yang diperdagangkan umumnya hasil bumi dan hasil laut. Penduduk dari pegunungan membawa sayuran, buah, beras, dan umbi-umbian. Sedangkan ikan dan hasil laut, berasal dari warga yang bermukim di pesisir pantai.

Barter beras dan ikan di Pasar Warloka - Dok. Kompas TV
Barter beras dan ikan di Pasar Warloka. (Foto: Dok. Kompas TV)

“Baru saja ada pertukaran, jadi ibu dari gunung, dia membawa satu ikat sayur kangkung, dan satu ikat sayur kangkung ini ternyata bisa mendapatkan satu ikat ikan asin yang cukup besar,” kata Kamga ketika menyaksikan dua orang ibu melakukan barter.

Setidaknya Kamga, menyaksikan tiga kali proses transaksi barter di pasar ini. Memang tidak semua transaksi dilakukan dengan tukar barang. Banyak jual beli sudah menggunakan mata uang rupiah.

“Kan uang di sini susah atau jarang, jadi warga kadang lebih mudah dengan tukar barang. Misalnya kita jual sayuran dapat uang, lalu uangnya bisa buat beli sabun dan kebutuhan sehari-hari, sedangkan sayur sisanya bisa tukar dengan ikan,” jelas pedagang bernama Rasti.

Karena penasaran, Kamga tertarik untuk mencoba melakukan transaksi barter. Caranya? Karena tidak punya barang yang hendak dijual, maka ia lebih dulu membeli ikan segar. Lalu, ikan dibawa keliling pasar dan Kamga mencoba menukarkan ikannya kepada pedagang sayuran.

“Tadi saya beli ikan Rp 10 ribu, dan saya berhasil tukarkan dengan labu. Saya tidak tahu ini untung atau tidak karena saya tidak tahu harga labu ini, tapi labunya dapat besar,” ungkap Kamga senang.

Parkiran Kerbau

Berjalan ke belakang pasar, terdapat sebuah tempat parkiran yang luas. Namun isinya bukan mobil atau motor, melainkan kerbau. Tidak ada kendaraan bermotor di sini, dan kerbau digunakan warga pegunungan sebagai alat angkut barang.

Setiap seminggu sekali warga gunung akan turun ke Pasar Warloka untuk menjual hasil bumi dan berbelanja barang kebutuhan mereka. Lokasinya sangat jauh, mereka bisa menempuh tiga hingga lima jam berjalan kaki.

Penduduk pegunungan harus berjalan kaki 4 jam untuk mencapai Pasar Warloka - Dok. Kompas TV
Penduduk pegunungan harus berjalan kaki 4 jam untuk mencapai Pasar Warloka. (Foto: Dok. Kompas TV)

“Saya tadi dari rumah jam satu malam, dan tiba di sini jam enam pagi. Saya berangkat membawa beras 100 liter atau sekitar 80 kg, dan sekarang balik bawa ikan, gula dan beberapa kebutuhan rumah tangga,” kata David Genaro, warga pegunungan.

Jelang siang hari, Pasar Warloka mulai sepi. Warga dari pegunungan kembali pulang berjalan kaki bersama kerbau mereka yang mengangkut barang belanjaan.

Warloka yang sekarang terpencil dan terisolasi, sebenarnya menyimpan sejarah masa lalu. Warloka diperkirakan merupakan tempat awal masuknya orang luar ke pulau Flores.

“Banyak peninggalan kuno, seperti gerabah, perhiasan, keramik China dan peninggalan zaman megalitik, ditemukan di Warloka,” kata Jatmiko, arkeolog dari Arkeologi Nasional (Arkenas).

Wisata Komodo

Selain Pasar Warloka, selama di Manggarai Barat, Kamga juga menjelajah ke Pulau Rinca dan Komodo. Ia menyaksikan komodo dari dekat di alam terbuka habitat asalnya.

Pengunjung selalu didampingi pemandu untuk menjaga keamanan- Dok. Kompas TV
Pengunjung selalu didampingi pemandu untuk menjaga keamanan. (Foto: Dok. Kompas TV)

Sempat menginap semalam di atas perahu, esoknya Kamga berkunjung ke Kampung Komodo, dan berkeliling menyimak kehidupan penduduknya yang hidup damai berdampingan dengan satwa purba.

Meski hidup dalam satu pulau bersama hewan liar yang buas dan mematikan, namun penduduk tidak merasa takut. Bahkan anak-anak bebas bermain di luar rumah.

Warga juga tetap beternak kambing dan membiarkannya berkeliaran bebas. Padahal tidak jarang komodo memangsa hewan ternak milik warga.

Warga membiarkan hewan ternak berkeliaran bebas meski kambing mereka sering dimangsa komodo - Dok. Kompas TV
Warga membiarkan hewan ternak berkeliaran bebas meski kambing mereka sering dimangsa komodo. (Foto: Dok. Kompas TV)

“Sudah ada 10 ekor kambing saya dimakan komodo. Sekarang kambing saya tinggal tiga ekor, kemarin baru dimakan satu ekor,” tutur warga bernama ibu Farida.

Penduduk Kampung Komodo, sejatinya bukan suku asli pulau tersebut. Menurut Kepala Desa, Dahlan, suku asli Komodo sudah punah. Dua warga suku Komodo asli yang terakhir sudah meninggal tahun 1980-an dan mereka tidak memiliiki keturunan.

Namun penduduk pendatang Kampung Komodo yang mayoritas keturunan Bugis, Sulsel dan Bima, NTB, kini sudah merasa dirinya sebagai Suku Komodo. Dalam keyakinan penduduk setempat, komodo terlahir dari rahim seorang manusia.

Mereka lahir kembar, yang satunya berwujud manusia, yang satunya berwujud komodo. Oleh karena itu, suku Komodo dan hewan komodo hingga kini tetap hidup berdampingan.

Ikuti perjalanan Kamga dalam program "Explore Indonesia" episode "Komodo" yang akan tayang di Kompas TV, pada Selasa (29/1/2013) pukul 21.00 WIB. (Kompas TV/Anjas Prawioko)

Ikuti Twitter Kompas Travel di @KompasTravel


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: