Minggu, 21 September 2014

News / Travel

Sate Keroncong Matraman, Amboi Nikmatnya

Minggu, 10 Februari 2013 | 15:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sajian kuliner sate, mungkin sudah umum terdapat di kota Jakarta. Namun, di antara semuanya, tidak banyak sajian yang menyisakan hal baru bagi tidak hanya lidah, tapi juga bagi pengalaman jelajah cita rasa anda. Di sebuah gang sempit di Jalan Matraman Raya, tepatnya di samping Mapolres Metro Jakarta Timur, ada kedai bernama Sate Keroncong. Di sanalah anda akan menemukan pengalaman cita rasa baru yang ada dalam sepiring sajian sate.

Saat Kompas.com datang ke sana beberapa waktu lalu, suasana kedai dengan interior rumah tahun 1980-an menyambut ramah. Jam dinding, kursi dan meja kedai seakan dibiarkan menua membuat kesan kedai telah sekian lama buka.

Warna tembok krem dan etalase kayu menambah kesan kuat kedai tersebut berasal dari Jawa. Ruangan yang tidak begitu luas juga membuat suasana pengunjung kedai yang semakin siang semakin ramai, kian akrab. Sebab, memungkinkan munculnya interaksi di antaranya. Sangat santai. Suasana itu, membuat tidak terasa, seporsi sate dengan sambal kecap yang sebelumnya dipesan telah siap. Di sinilah pengalaman baru dimulai.

Sesaat sebelum memasukkan setusuk sate ke mulut, suara merdu pun mengalir. Saya pun sempat menoleh ke sumber suara itu berasal. Oh, dari dua buah kentrung (gitar kecil) dan sebuah bas betot yang dimainkan tiga orang rupanya. Gurihnya sate dan lagu keroncong nan merdu amboi nian jika dinikmati bersama-sama.

"Karena itulah disebutnya sate keroncong. Makan sate sambil ngeroncong (mendengar lagu keroncong)," ujar Bambang, salah seorang pegawai kedai sate yang menemani makan siang.

Sambil santap siang, Bambang menuturkan, konsep penggabungan sate kambing dengan lagu keroncong telah ada sejak tahun 1958, saat pemilik kedai sate, Sukirmadi, membangun kedai. Namun, kala itu Sate Sederhana menjadi nama pilihan pemilik. Beberapa tahun kemudian sang pemilik pun mengubah namanya menjadi Sate Keroncong agar dapat diingat oleh pengunjung.

Kelompok musik keroncong yang bercokol di kedai sate milik Sukirman itu pun berganti-ganti. Kelompok Keroncong Rindu Kasih pun adalah kelompok yang akhirnya menetap dari 1995 hingga saat ini. Sapu Tangan, Sapu Lidi, Bengawan Solo dan lagu keroncong lawas lain jadi andalan.

"Kalau lagi penuh, kan di samping juga ada tempat makan, mereka dipanggil ke sana juga untuk nyanyi. Seru mas," ujarnya.

Untuk menikmati paduan suasana 'jadul' nan ramah, gurihnya sate kambing dan menu lainnya plus lagu keroncong, tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Seporsi sate dihargai Rp 37.000, gulai kambing dihargai Rp 25.000, tongseng kambing dihargai Rp 27.000. Adapun, untuk lagu keroncong, sesuai dengan kerelaan anda. Tapi jangan takut mereka cemberut jika kita tak memberikan uang. Dengan senyum, mereka akan selalu setia menemani penjelajahan kuliner anda.

Ingin coba? Silahkan. Anda dapat mengunjungi kedai Sate Keroncong setiap hari dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Hertanto Soebijoto