Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Travel

Tanzania, Surga Para Petualang Safari

Jumat, 15 Februari 2013 | 10:11 WIB

"The wild dogs cry out in the night
As they grow restless longing for some solitary company
I know that I must do what's right
As sure as Kilimanjaro rises like Olympus above the Serengeti
I seek to cure what's deep inside, frightened of this thing that I've become"

KOMPAS.com - Sayup-sayup, penggalan lagu Afrika yang dinyanyikan oleh David Paich vokalis grup musik Toto ini terus terngiang di kepala, mengiringi  kunjungan perdana saya di bumi Tanzania Afrika.

Kedatangan kami disambut oleh semerbak harum hangat tanah terpanggang matahari, serta pemandangan hamparan padang rumput luas dengan jajaran pohon-pohon baobab. Tiupan angin dari jendela mobil berbaur dengan debu jalanan berbatu menjadi  sensasi yang tidak akan mudah terlupakan segenap panca indera.

Tanzania merupakan surga bagi para petualang safari. Tekstur alam yang khas, serta keanekaragaman flora dan faunanya membuat Tanzania menjadi salah satu negara tujuan utama para wisatawan mancanegara untuk bersafari ria.

Negara yang berlokasi di Afrika Timur ini memiliki beberapa Taman Nasional dan Wilayah Konservasi yang terkenal, seperti: Taman Nasional Serengeti, Taman Nasional Gunung Kilimanjaro, Wilayah Konservasi Kawah Ngorongoro, Taman Nasional Ruaha, dan banyak tempat lainnya yang serupa tersebar seantero negeri ini.

Kali ini kami memilih bersafari selama lima hari empat malam bersama satu tim safari lokal: Gregori sebagai pemandu (merangkap sopir) dan seorang juru masak bernama Samuel yang kerap dipanggil juga dengan julukan Mr. D (Delicious).

Selama perjalanan, kami dilengkapi sebuah mobil penjelajah safari 4x4 yang atapnya yang dapat dibuka sehingga kami dapat berdiri melihat ke luar, dan peralatan lengkap berkemah seperti: tenda, kasur, kantung tidur, serta peralatan memasak.

Sesuai rencana, kami akan melakukan perjalanan safari ke empat tempat, yaitu Taman Nasional Tarangire, Taman Nasional Serengeti, Wilayah Konservasi Kawah Ngorongoro, dan diakhiri dengan safari berjalan kaki ke wilayah Taman Nasional Danau Manyara.

Taman Nasional Tarangire

Gregori dan Samuel menjemput kami di bandara lokal Arusha yang merupakan kota terdekat yang menjadi akses utama kami sebelum melakukan perjalanan safari.  Dari kota ini kami melanjutkan perjalanan selama 2,5 jam berkendara menuju Taman Nasional Tarangire yang berjarak sekitar 130 kilometer. Gunung Kilimanjaro tampak kokoh tinggi menjulang dari kejauhan di sepanjang perjalanan kami keluar dari kota Arusha.

Taman Nasional Tarangire merupakan taman nasional kedua terbesar setelah Taman Nasional Serengeti yang memiliki populasi jumlah hewan terbanyak, dan juga merupakan satu-satunya taman nasional di dunia yang memiliki populasi gajah terbanyak.

Di dalam lahan taman nasional yang luasnya mencapai 2.850 kilometer persegi ini (hampir sama luasnya dengan Negara Belanda), kita dengan mudah dapat menjumpai beragam jenis hewan liar, seperti gajah, zebra, kerbau, wildebeest, rusa antelope, elands, dan baboon. Mereka tersebar di beberapa tempat yang berbeda.

Saat pagi hari tak jarang kita bisa melihat mereka bergerombol di sepanjang aliran Sungai Tarangire, sedang asyik bermain air. Selain itu taman nasional ini juga merupakan rumah bagi kurang lebih 450 jenis spesies burung.

Keindahan pohon-pohon baobab yang banyak tumbuh di tempat ini, juga menjadi keistimewaan tersendiri. Bentuk mereka yang unik mirip brokoli raksasa tampak serasi dengan alam Afrika yang cenderung kering dan tandus. Spesies ini mencapai tinggi antara 5–25 m. Mereka menyimpan air di dalam batang mereka, dengan kapasitas di atas 120 liter untuk bertahan dalam kondisi lingkungan sekitar mereka dan menjadi pelindung ekosistem yang ada.

Selama berada di tempat ini kami melihat beragam jenis satwa unik seperti monyet bola biru (karena memiliki buah zakar berwarna biru), kawanan gajah, tikus hutan, kawanan rusa yang tengah asyik merumput, jerapah, rubah, babi hutan, dan juga burung pemakan bangkai yang tengah bertengger di sarangnya di atas pohon baobab. Mobil kami juga sempat terhenti oleh pemandangan yang menakjubkan dari rombongan besar baboon, dan juga kawanan kerbau yang baru saja pulang dari sungai.

Mobil mogok dan anak-anak Maasai

Dari Taman Nasional Tarangire kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Serengeti melalui jalan berlubang dan berbatu selama kurang lebih empat jam. Kondisi ini tak ayal membuat mobil rusak, dan kami terpaksa berhenti di pinggir jalan di antara wilayah konservasi Ngorongoro dan padang rumput Serengeti.

Di dalam wilayah Taman Nasional Serengeti hanya Suku Maasai yang diperbolehkan tinggal dan menjalankan kegiatan tradisional mereka menggembala kawanan sapi dan kambing.

Suku Maasai adalah suku asli di Afrika Timur yang begitu kuat menjaga adat istiadat tradisional mereka sebagai kaum penggembala semi nomaden. Mereka banyak hidup di sekitar cagar alam dan taman nasional di wilayah Kenya dan Tanzania.

Saat menunggu Gregori dan Samuel yang terus mencoba memperbaiki bagian mobil yang rusak, datanglah dua orang anak-anak suku Maasai menghampiri kami dan berbaik hati meminjamkan pisau besar mereka ke Gregori yang mencoba mengasah sebilah kayu untuk memperbaiki salah satu bagian mobil, dan sebagai bayarannya mereka berdua minta untuk difoto dengan kacamata hitam yang sedang saya gunakan.

Setelah menunggu kurang lebih satu jam, ternyata mobil tidak bisa diperbaiki di tempat itu. Untungnya lewat mobil safari lain yang kosong tanpa penumpang bersedia menolong kami melanjutkan perjalanan hingga ke perkemahan umum Seronera. Sementara Gregori masih harus membawa mobil sendirian dan memperbaikinya di salah satu bengkel terdekat dari tempat kami bermalam.

Taman Nasional Serengeti

Pengalaman kurang mengenakkan karena mobil mogok justru terbayar oleh pemandangan spektakuler yang disajikan oleh Taman Nasional Serengeti.

Sepanjang mata memandang tampak ratusan bahkan ribuan hewan Zebra, rusa antelope, kerbau, gajah, jerapah asyik merumput dengan damai di padang rumput luas. Tak heran bila taman nasional ini berada dalam daftar Warisan Dunia versi UNESCO (The World Heritage Site) dan mendapat posisi paling atas sebagai tempat terbaik yang harus dikunjungi selama berada di Tanzania.

Taman Nasional Serengeti memiliki jumlah populasi hewan Wildebeest terbesar yaitu sebanyak kurang lebih 1,5 juta ekor. Selama musim hujan (Januari-Maret), kawanan hewan ini banyak tersebar di wilayah Serengeti hingga ke bagian barat Lembah Ngorongoro. Ketika musim kering (April) dan rumput-rumput hijau tak lagi banyak tumbuh, mereka berpindah tempat secara eksodus ke bagian barat daya guna mendapatkan makanan.

Taman nasional ini juga menjanjikan perjumpaan eksotis dengan Simba (Singa dalam bahasa Swahili). Kami begitu beruntung berkesempatan melihat secara dekat empat ekor singa betina dan belasan ekor anak-anak mereka saat mereka tengah dalam perjalanan mengincar dan mengintai rombongan kerbau yang tengah melintas padang rumput.

Selain singa, kami juga melihat seekor badak hitam dan macan tutul leopard. Kedua hewan ini merupakan hewan yang sangat langka karena jumlahnya tidak sebanyak hewan-hewan lain yang ada di taman nasional ini.

Kawasan Konservasi Kawah Ngorongoro

Berat rasanya berpisah dengan Serengeti. Namun perjalanan kami kembali ke arah kawasan Pegunungan Ngorongoro ternyata tidak kalah menawan. Sepanjang perjalanan mata kami terus dimanjakan oleh pemandangan padang rumput luas dimana tampak kawanan hewan dari beragam jenis merumput bersama. Saya mencoba iseng menghitung, namun lelah menyerah untuk mendapatkan jumlah yang akurat setiap mencapai hitungan di atas 200.

Kami tiba  di perkemahan Simba 1 menjelang pukul 7 malam, setelah makan malam kami segera beristirahat agar keesokan pagi  segar dan siap untuk menjelajah turun ke lembah Kawah Ngorongoro.

Pukul 6 pagi keesokan hari, matahari pagi pun mulai terbit dan sinarnya segera menghangatkan sisa-sisa dingin membeku semalam di perkemahan ini – yang kurang lebih mengingatkan pada dinginnya Pegunungan Bromo. Setelah sarapan pagi kami pun segera bergegas melanjutkan perjalanan turun ke lembah.

Kawah Ngorongoro -- merupakan Keajaiban Dunia ke-8 versi para petualang safari -- terletak pada ketinggian 2.236 meter di atas permukaan laut dan merupakan kaldera utuh terbesar di dunia dari puncak gunung berapi yang runtuh. Diameternya mencapai 19,2 kilometer dengan luas permukaan 304 km persegi. Dinding kawah memiliki ketinggian 610 meter dan tampak kokoh membentang membentuk perlindungan bagi ribuan hewan liar yang hidup di dalamnya.

Ketika kami mulai masuk ke dalam wilayah lembah, selain melihat kawanan zebra, gajah, rusa antelope yang tengah merumput, kami juga melihat permukaan Danau Magadi, danau asin yang berada di dasar lembah dipenuhi burung-burung flaminggo berwarna merah muda.

Kami mengakhiri perjalanan di lembah Ngorongoro dengan beristirahat makan siang di kawasan yang masih berada di dalam lembah bernama Ngoitoktok Spring. Di sana kami melihat kawanan kuda-kuda nil yang tengah berendam di dalam sungai.

Gregori melarang kami untuk makan siang di luar mobil, karena terlalu berbahaya. Kuda Nil dapat naik ke darat menyerang dan burung Black Kite  dapat menukik turun mematuk makanan yang ada di tangan kita (besar risiko tangan kita ikut terpatuk dan terluka).

Namun kami diizinkan untuk keluar dari mobil dan berfoto ria di padang rumput di dekat pintu keluar Lembah Kawah Ngorongoro sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Danau Manyara dimana kami akan melakukan petualangan safari dengan berjalan kaki menyusuri areal danau.

Taman Nasional Danau Manyara

Setelah beristirahat semalam di perkemahan Panorama, kami melanjutkan perjalanan safari terakhir kami di Taman Nasional Danau Manyara. Di wilayah ini kita dapat dengan mudah melihat panorama The Great Rift Valley yang menawan.

The Great Rift Valley atau Lembah Celah Besar adalah sebuah fitur geografi dan geologi yang merobek benua Afrika menjadi dua bagian, terbentang sepanjang kurang lebih 6.000 kilometer dari Suriah utara hingga Mozambik di Afrika Timur. Nama lembah ini diberikan oleh seorang pengelana bernama John Walter Gregory.

Lembah Celah Besar juga merupakan sumber beberapa fosil yang telah membantu penelitian mengenai evolusi manusia. Dataran tinggi yang semakin cepat tergerus telah menyebabkan lembah ini dipenuhi sedimen, sehingga tercipta lingkungan yang mampu melestarikan sisa-sisa peninggalan sejarah dengan baik.

Tulang-tulang beberapa nenek moyang hominid manusia modern telah ditemukan di sana, termasuk "Lucy", berupa tulang-belulang Australopithecine berusia lebih dari 3 juta tahun.

Perjalanan kami sendiri menuju wilayah danau dimulai dengan berjalan kaki dari Desa Mto Wa Mbu (Desa Sungai Nyamuk). Kami melintasi rimbunnya pohon-pohon akasia berbatang kuning.

Juma pemandu khusus di wilayah ini  menjelaskan bahwa warna batang pohon inilah yang menjadi asal mula istilah Yellow Fever, karena banyak orang konon terserang demam setelah melewati pohon ini. Pohon Akasia Kuning memang banyak tumbuh di wilayah yang banyak tergenang air sehingga menjadi tempat favorit para nyamuk nakal penyebab demam.

Setelah berjalan kaki kurang lebih 15 menit melewati rimbunan pohon, tibalah kami di padang luas yang gersang merangas. Saat musim hujan padang luas ini merupakan bagian Danau Manyara, salah satu danau asin yang terletak di dasar Lembah Celah Besar. Di atas retak-retak tanah terpatri banyak jejak kaki hewan seperti jejak kaki kuda nil, badak, kerbau dan burung flaminggo.

Kami terus berjalan hingga ke bagian danau Manyara yang masih menyisakan air di musim kemarau, dan tampak sekelompok besar burung-burung flaminggo sedang bercengkerama di permukaan danau -- seolah mengucap selamat datang sekaligus selamat tinggal -- sebelum kami harus kembali ke Kota Arusha mengakhiri petualangan safari yang menakjubkan ini. (Kristina Budiati, saat ini bertempat tinggal di Zanzibar, Afrika Timur)

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel


Editor : I Made Asdhiana