Seribu Jenang di Kota Solo - Kompas.com

Seribu Jenang di Kota Solo

Kompas.com - 26/02/2013, 08:24 WIB

Oleh Sri Rejeki

Festival Jenang Solo digelar di Kota Solo, Jawa Tengah, Minggu (17/2/2013) lalu. Puluhan jenis jenang atau bubur yang dikemas dalam 15.000 kemasan daun pisang disantap. Pusaka kuliner yang perlu dilestarikan dan disantap tentu.

Deretan takir atau pincuk dari daun pisang berisi aneka jenang yang tersaji di Festival Jenang Solo sungguh mengundang selera. Salah satunya adalah jenang sumsum. Jenang ini terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan santan, lalu dikucuri juruh atau gula jawa cair. Hmm... rasa legit, gurih, dan kenyalnya jenang memberi sensasi rasa unik.

Minggu pagi itu, bersamaan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Ke-268 Kota Solo diselenggarakan Festival Jenang Solo 2013 di koridor Ngarsapura, ruas jalan yang tegak lurus mengarah ke pintu utama Pura Mangkunegaran.

Kebiasaan masyarakat Jawa yang membuat jenang abang putih atau bubur merah putih untuk memperingati hari kelahiran mendasari penyelenggaraan festival ini. Selain jenang abang putih yang menjadi jenang wajib yang disajikan setiap stan, ada beragam jenang lain yang ditampilkan, seperti jenang grendul, mutiara, procotan, lemu, pelok, katul, rujakan, dhodhol, gulo, ketan ireng, dan jenang bakalan.

Salah satunya disajikan Mbah Sugito (70) bersama istrinya di salah satu sudut Omah Sinten, restoran dan penginapan dengan bangunan arsitektur Jawa, tepat di ujung timur laut koridor Ngarsapura. Di atas meja panjang tersaji lebih dari 10 macam jenang. Warga Desa Wonosari, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, ini adalah pembuat jenang tingkepan ibu hamil, satu-satunya di desanya.

Doa dan harapan

Aneka jenang yang dibuat Mbah Sugito mengandung makna pengharapan untuk ibu hamil. Setiap bulan kehamilan dibuatkan satu jenis jenang, misalnya jenang baning untuk ibu hamil satu bulan. Ini berupa jenang sumsum dan santan sebagai simbol inti benih.

Jenang iber-iber untuk ibu hamil dua bulan, terdiri dari jenang sumsum, santan, dan juruh sebagai simbol pencarian. Jenang rujak crobo untuk ibu hamil tiga bulan yang terdiri atas aneka buah yang diolah menjadi rujak sebagai simbol memenuhi kehendak jabang bayi. Jenang ini menerbitkan air liur orang yang melihatnya.

Untuk ibu hamil empat bulan, ada jenang kupatan berupa ketupat yang mengandung harapan agar janin yang dikandung kokoh dan kuat. Pada tahapan tersebut, menurut kepercayaan setempat, Tuhan meniupkan roh kepada janin yang telah ”bertapa” selama empat bulan di rahim ibunya.

Pada kehamilan lima bulan, dibuatkan jenang takir ponthang lima yang terdiri dari lima macam suguhan, yakni nasi, keripik kentang, jenang putih, telur dadar-udang sungai, serta daging kerbau. Ini sebagai simbol memperkuat fisik dan roh bayi. Kemudian ada jenang opak apem berupa apem untuk ibu hamil enam bulan. Adapun tujuh tumpeng komplet disediakan bagi ibu hamil tujuh bulan.

Untuk ibu hamil delapan bulan ada banyak angrem (artinya angsa mengeram) berupa ayam utuh yang mengerami tujuh telur rebus sebagai simbol ketenangan. Rangkaian ditutup dengan jenang procot yang terdiri atas jenang sumsum yang di atasnya diletakkan pisang utuh kupas yang bermakna harapan agar bayi lahir mudah dan lancar. Jenang ini untuk ibu hamil sembilan bulan.

”Beragam jenang ini dihadirkan saat tingkepan atau selamatan kehamilan ibu enam bulan. Setelah bayi lahir, dibuatkan jenang brokohan atau berkah sebagai simbol tanda syukur atas berkah yang diberikan,” kata Sugito.

Menghindari kualat

Untuk festival ini, menurut Ketua Panitia Festival Jenang Solo 2013 Slamet Raharjo, sebanyak 15.000 porsi jenang dibagikan gratis oleh 103 stan yang berpartisipasi. Sebagian besar pengunjung adalah warga yang baru saja menikmati hari bebas kendaraan bermotor (car free day) dengan berjalan kaki, bersepeda, atau menikmati pertunjukan seni di Jalan Slamet Riyadi.

Mereka berdesakan mengerumuni stan sejak pukul 08.30 menanti jenang dibagikan. Dalam sekejap, jenang yang ditaruh dalam kendil-kendil tandas dan berpindah ke ribuan takir.

Keberadaan jenang atau bubur—seperti diungkapkan mahasiswa Pascasarjana Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Heri Priyatmoko—berawal dari tradisi masyarakat kecil yang sekadar melegakan hati dan menghindari kualat karena sering dipakai sebagai pelengkap sesaji. Tradisi ini kemudian dituangkan dalam Serat Tata Cara oleh pujangga kamardikan Padmasusastra yang ditulis 1863-1903.

Selain jenang yang biasa dikenal masyarakat Jawa, juga ditampilkan jenang arab dan jenang tionghoa, seperti goa ciu dan jenang kue keranjang.

Selain itu, ada pula jenang kreasi baru seperti yang ditampilkan Nani Suprijatni Urip Rejeki dari stan ”Republik Aeng-aeng”. Ia membuat jenang cinta yang merupakan campuran tepung beras ketan, gula aren, dan buah naga merah. Jenang berwarna merah keunguan ini dinamakan jenang cinta karena, menurut Nani, dibuat dari bahan-bahan pilihan dan dimasaknya sendiri dengan penuh kesungguhan hati.

”Airnya saja pakai air mineral dalam galon,” kata Nani, mantan Lurah Kadipiro, Solo, yang kini bertugas di Bagian Kerja Sama Pemkot Solo.

Jenang dalam masyarakat Jawa memang bukan sekadar santapan. Jenang juga mengandung makna dan pengharapan. Jenang dalam pemahaman ini diharapkan bisa terus lestari sebagai salah satu pusaka kuliner Indonesia.

EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM