Jumat, 29 Agustus 2014

News / Travel

Tour de Busway, Mengagumi Bangunan Bersejarah Jakarta

Selasa, 26 Februari 2013 | 19:11 WIB

ANDA pernah mencoba naik bus TransJakarta? Tetapi mungkin tak banyak yang tahu kalau rute TransJakarta tersebut melewati bangunan-bangunan bersejarah yang ada di Jakarta yang masih berdiri hingga kini.

Bersama Komunitas Historia Indonesia (KHI), Kompas.com mencoba menelusuri bangunan-bangunan penting yang dilalui oleh rute TransJakarta. Kali ini rute yang ditelusuri adalah Koridor 1 Blok M - Kota. Tempat pemberangkatan dimulai dari halte Bundaran Hotel Indonesia (HI) dengan tujuan akhir halte Sawah Besar.

Tur dengan TransJakarta yang bertajuk "Tour de Busway" ini bukanlah yang pertama kali diadakan oleh komunitas KHI. Asep Kambali, pendiri KHI yang ditemui Kompas.com, mengatakan bahwa tur semacam ini sering diadakan tetapi hanya dengan beberapa orang yang ditemani oleh satu pemandu, tidak seperti saat ini satu pemandu bisa mendampingi hingga puluhan orang.

"Tour de Busway pernah bikin tapi belum pernah yang model massal seperti begini. Biasanya 5 sampai 10 orang dengan saya atau dengan yang lain," katanya.

Kali ini, tur bersamaan dengan perayaan Cap Go Meh, Minggu (24/2/2013), yaitu rangkaian perayaan Tahun Baru China serta melihat jejak-jejak peninggalan China di Jakarta. "Indonesia itu salah satunya ada Tionghoa di dalamnya. Tionghoa dalam sejarah memiliki peran. Itu yang harus diketahui," kata Asep.

Dalam perjalanan menyusuri bangunan bersejarah dengan TransJakarta, rute pertama yang dilewati adalah Sarinah. Sarinah merupakan mal pertama di Jakarta yang dibangun tahun 1962 oleh Bung Karno. Asep yang juga sebagai pemandu dalam tur tersebut mengatakan bahwa nama Sarinah diambil dari nama seorang ibu asuh Bung Karno.

"Tapi tujuan dibuatnya Sarinah diharapkan (di Sarinah) disajikan berbagai hal tentang keindonesiaan kita," kata Asep.

Bergerak maju, tak Jauh dari Sarinah, melewati Bank Indonesia yang pada awal didirikan bernama De Javasche Bank. Mula didirikan, bank ini bersifat semi nasional. Namun setelah dinasionalisasi oleh pemerintah, kini Bank Indonesia menjadi bank sentral.

Di depan Bank Indonesia terdapat patung yang dikenal dengan patung kuda. Sebenarnya patung tersebut bernama Patung Arjuna Wiwaha, sesuai dengan kisah yang digambarkannya, yaitu cerita tentang Mahabarata.

Perjalanan dengan bus TransJakarta ini pun melewati Monas (Monumen Nasional). "Monumen nasional adalah simbol dari kedigdayaan Indonesia, simbol dari kebangggaan dan saya kira simbol dari kemerdekaan," ujar Asep.

Tugu Monas berbentuk lidah api yang dilapisi emas. Bentuk lidah api bermakna tak kunjung padam, agar semangat rakyat Indonesia pun tak pernah padam.

Di depan Monas, ada Museum Nasional yang juga disebut dengan Museum Gajah. Museum Nasional merupakan museum tertua namun pertama kali didirikan berada di daerah Kali Besar, Kawasan Kota Tua Jakarta. Mulanya museum ini berdiri sebagai pusat kebudayaan zaman Belanda.

Tak jauh dari Monas, ada RRI (Radio Republik Indonesia) serta Istana Negara. RRI merupakan saksi sejarah yang mengumandangkan kemerdekaan Indonesia setelah Bung Karno membacakan teks Proklamasi. Sedangkan Istana Negara yang dulunya ialah rumah Gubernur Jenderal Belanda, Bung Karno pernah berpidato di tempat ini diiringi oleh teriakan "merdeka!" dari para hadirin yang datang. Maka, jadilah Istana Negara juga disebut Istana Merdeka.

"Menjadi Istana Merdeka karena dulu Bung Karno sempat pidato dan banyak orang berteriak merdeka! merdeka! merdeka! di sana," kata Asep.

Perjalanan semakin jauh hingga melewati perempatan Harmoni. Di tiang jembatan perempatan Harmoni, mungkin tak banyak orang yang sadar bahwa ada patung di sana. Patung kira-kira setinggi 1 meter tersebut ialah Patung Hermes.

"Hermes itu dewa perdagangan, dewa kerumunan orang atau dewa dari segala dewa, karena dia memiliki sayap di tangan dan kakinya dia juga memiliki tongkat ajaib yang seperti tongkat kedokteran, padahal mah bukan," papar Asep.

Asep pun menambahkan, patung di perempatan Harmoni tersebut ialah replika, sedangkan yang asli terpajang di Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta.

Tidak sampai satu jam, sampailah di perhentian terakhir Tour de Busway, yaitu Halte Sawah Besar. Daerah ini dinamakan Sawah Besar karena memang dulunya di sini pernah ada sawah yang ukurannya besar-besar.

Di Sawah Besar terdapat Gajah Mada Plaza. "Mal Gajah Mada adalah mal pertama di kawasan ini tahun 80-an. Artis-artis kita banyak yang bermain di sini, seperti Dono, Kasino, Indro," ungkap Asep.

Turun di halte Sawah Besar, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada No 111. Jalan yang ditelusuri tak terlalu jauh. Sambil sesekali berhenti, Asep menjelaskan kepada peserta tur tentang tempat bersejarah yang dilewati, berupa gang-gang, masjid, musholla, dan sekolah.

Tiba di Gedung Arsip Nasional. Dari luar, gedung terlihat sangat gagah, antik, halaman yang luas serta arsitektur gedung seperti kebanyakan gedung-gedung peninggalan Belanda.

Ya, memang gedung ini dulunya adalah rumah Gubernur Jenderal pada tahun 1760-an. Gubernur Jenderal adalah pejabat yang paling disegani, setingkat dengan presiden tetapi bertanggung jawab terhadap raja atau ratu kerajaan di Belanda.

Banyak benda-benda antik tersimpan di sini, tersimpan dalam lemari-lemari kaca. Dilihat dari bentuknya, bangunan ini dulunya berfungsi sebagai rumah keluarga, jadi bagian-bagian bangunan pun tak berbeda dengan rumah kebanyakan. Ada ruang tamu, ruang memasak, dan ruang makan. Di luar bangunan ada bangunan lain yang terpisah, berfungsi sebagai rumah pengawal gubernur. Ada pula lonceng tua yang pada masanya lonceng untuk memanggil seluruh pekerja di sana.

Setelah singgah di Gedung Arsip Nasional, rute terakhir adalah Candra Naya. Candra Naya dulunya ialah rumah seorang mayor China yang bertugas mengurusi masyarakat China di Batavia, bernama Khouw Kim An.

Candra Naya terletak di Jalan Gajah Mada No.188 tepatnya di kompleks Green Central City. Pertama kali tiba di sana cukup terkejut, siapa sangka di antara kompleks hotel bintang lima, terselip bangunan bersejarah. Bangunannya khas rumah masyarakat China kuno zaman dulu dengan ujung atap kanan dan kirinya seperti tanduk. Dari awal mula berdirinya hingga sekarang, Candra Naya telah mengalami banyak pemugaran.

Sebagai perhentian terakhir, perserta yang berjumlah sekitar 250 orang, sekaligus bisa beristirahat. Sambil sesekali Asep, yang juga merupakan guru sejarah, menceritakan kepada peserta tur akan pentingnya anak muda dan sejarah dalam membangun sebuah bangsa.

"Sejarah itu sebagai alat. Alat pembuka, alat untuk mempersatukan bangsa," kata Asep.

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel


Penulis: Fitri Prawitasari
Editor : I Made Asdhiana