Rabu, 22 Oktober 2014

News / Travel

Wisata Bahari di Minahasa Tenggara

Sabtu, 2 Maret 2013 | 09:02 WIB

KOMPAS.com - Minahasa Tenggara sudah dikenal dan populer di antara orang-orang Eropa karena hasil bumi dan keindahan alamnya. Kabupaten yang masuk di Sulawesi Utara ini sering kali disebut sebagai salah satu tempat pariwisata bahari di Indonesia. Pasalnya, Minahasa Tenggara memiliki alam yang indah dan dikenal juga sebagai salah satu spot untuk menyelam di Sulawesi Utara selain Taman Nasional Bunaken.

Minahasa Tenggara yang secara geografis berada di tepi pantai, menguntungkan bagi wisatawan yang berlibur ke sana. Menikmati matahari terbit dan terbenam sambil memotret merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan.

Untuk menuju Minahasa Tenggara ini paling mudah adalah melalui Manado. Dari Manado kita melalui jalan darat dengan lama perjalanan 3 sampai 4 jam melalui jalur selatan Sulawesi. Sebaiknya selama perjalanan kita membawa obat anti mabuk karena perjalanan menuju ke Minahasa Tenggara jalannya sangat berkelok-kelok. Adapun detail transportasi menuju ke sana adalah sebagai berikut.

Transportasi

Untuk transportasi dari Manado ke Ratatotok biasanya dengan taksi mobil station wagon seperti Kijang atau Innova. Per orang Rp 35.000. Bisa juga dengan Bus Damri, Rp 20.000. Perjalanan ke Ratatotok ditempuh sekitar 3 jam. Kalau mau juga bisa naik ojek motor (Rp 100.000). Kalau mau carter mobil juga bisa. Mobil seperti Avanza sekitar Rp 250.000 per hari tanpa bensin dan tanpa sopir. Mobil bisa disewa di Manado.

Penginapan

Untuk penginapan bisa menginap di rumah penduduk dengan tarif sekitar Rp 200.000 – Rp 400.000 tergantung jenis rumah. Itu sudah termasuk sekali makan. Tapi laundry tidak termasuk.

Ada juga penginapan yang dikelola oleh Yayasan Ratatotok Buyat yang didirikan PTNMR. Tetapi untuk menginap harus mendapatkan rekomendasi dari PTNMR dulu karena masih merupakan wilayah perusahaan. Rate penginapan disini sekitar Rp 200.000 – 350.000 tergantung jenis kamar dan fasilitas (ada yang kipas angin atau AC). Itu sudah termasuk makan 3 kali sehari dan laundry. Biasanya yang menginap adalah tamu-tamu PTNMR dan para penyelam yang banyak datang sekitar bulan November hingga Mei saat cuaca di Teluk Buyat bersahabat.

Sesampai di Minahasa Tenggara ada beberapa obyek wisata yang harus dikunjungi, apa sajakah objek wisata tersebut.

Pantai Lakban

Pantai Lakban ini berada di Ratatotok, Minahasa Tenggara. Saat yang paling tepat untuk menikmati pantai ini saat pagi hari. Pantai Lakban sangat terawat dan mempunyai pemandangan yang indah. Di sisi pantai banyak terdapat bukit-bukit yang mengelilinginya dan kita bisa menaiki bukit tersebut dan menikmati keindahan Teluk dari atas bukit ini.

Selain menikmati aktivitas pantai kegiatan wisata yang dapat dilakukan di tempat ini antara lain menikmati taman laut dengan berkeliling menggunakan kapal nelayan, naik perahu berkaca snorkeling dan menyelam.

Karena kondisi saya waktu itu sedang tidak fit, maka saya memutuskan untuk berenang dan snorkeling saja. Dengan menyewa kapal dari penduduk desa nelayan sekitar Rp 500.000 sampai Rp 700.000 per harinya.

Ketika snorkeling, saya banyak melihat ikan-ikan berwarna-warni dan terumbu karang yang sebagian besar sudah tumbuh. Sepertinya biota laut di Pantai Lakban ini sangat sehat karena banyaknya ikan dan terumbu karang yang tumbuh. Hanya sayangnya sebagian terumbu karang yang rusak akibat pengeboman dari oknum nelayan nelayan saat mereka mencari ikan.

Nama pantai Lakban ini dahulu dinamakan Teluk Buyat dan sempat santer diisukan pantai di sini tercemar limbah tambang pada tahun 2004. Setelah aktivitas penambangan tutup Pantai Buyat ini diubah menjadi Pantai Lakban dan sekarang menjadi destinasi wisata pantai yang diunggulkan di Minahasa Tenggara.

Danau Messel

Danau ini dinamakan Messel karena pada saat ditemukan ada bangunan dari beton yang diperkirakan ada sejak zaman Belanda, sehingga dinamakan Danau Messel. Untuk mencapai Danau Messel ini cukup sulit karena harus melalui jalan yang berbatu.

Sebetulnya Danau Messel ini bukanlah danau alami, tetapi bekas site Tambang PT Newmont Minahasa Raya yang sudah direklamasi dan saat ini menjadi danau tempat wisata. Buat yang hobi memancing di danau ini -- menurut indo dari polisi hutan yang menjaganya -- banyak terdapat ikan mas dan mujair.

Setelah puas menikmati beberapa obyek wisata di Minahasa Tenggara, saatnya pulang menuju ke Manado dan dilanjutkan ke Jakarta. Ada baiknya kita menginap di Manado sehari dan pulang dari Minahasa Tenggara ini di pagi hari. Alasannya, selama perjalanan pulang kita bisa mampir di Tomohon dan menikmati pemandangan Pegunungan Lokon yang saat ini masih aktif. Karena kita melewati jalur selatan saya sangat merekomendasikan untuk mampir di Danau Linow.

Danau Linow

Danau Linow ini terbilang baru untuk destinasi wisata di Sulawesi Utara, saat memasuki kawasan danau saya cukup kaget juga karena tiket yang dibayarkan adalah Rp 25.000 dan relatif agak mahal untuk wisata  lokal.

Tetapi setelah tiba di tepi Danau Linow, saya sangat terkesima dengan keindahan danaunya, suatu destinasi yang sangat terawat dan bersih. Di sepanjang tepi danau kita bisa melihat itik dan angsa yang berseliweran dengan lucunya mereka berenang bersama anak-anak itik.

Yang membuat spesial Danau Linow ini adalah warna danaunya yang bisa berubah berwarna warni ketika terkena sinar matahari. Yang membuat warna-warni danau ini ternyata karena tingginya kadar belerang yang ada di danau ini.

Di sudut-sudut danau ada disediakan kafe yang menghadap danau dengan pemandangan indah langsung menuju danau. Tiket masuk tadi ternyata bisa ditukarkan dengan secangkir teh hangat atau kopi disertai dengan kue bangket yaitu kue tradisional Minahasa yang terbuat dari sagu. Menikmati teh hangat disuguhi pemandangan indah Danau Linow adalah pengalaman yang sangat berkesan. (BARRY KUSUMA)

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: