Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Travel

Jejak Kopi di Negeri Kafe

Sabtu, 30 Maret 2013 | 17:15 WIB

GEDUNG itu tampak menjulang di pinggir Sungai Seine, Paris, Perancis. Dari arsitekturnya, bangunan ini tidak memiliki keistimewaan. Para pelancong tak akan memperhatikan gedung ini jika hanya melihat seni bangunannya. Orang yang penasaran dengan sejarah kuliner saja yang mungkin memperhatikannya.

Gedung yang pada bagian atasnya terdapat tulisan Samaritaine itu semula pasar swalayan. Namun, setelah berganti pemilik, gedung ini digunakan sebagai apartemen, kantor, dan tempat penjualan ritel. Kisah tentang kepemilikan gedung yang berganti-ganti menarik. Namun, yang lebih menarik lagi, sebelum gedung itu didirikan, ada sebuah warung kopi yang menjadi jejak awal masuknya kopi dan kafe yang kemudian terkenal seantero jagat.

Awalnya adalah penemuan pemanfaatan kopi di Timur Tengah pada abad ke-15. Orang mulai mengenal dan minum kopi. Saat itu sempat muncul polemik soal halal-haram komoditas ini. Beberapa tokoh agama sempat menyatakan kopi merupakan barang haram karena membuat orang-orang ketagihan dan melupakan ritual agama. Akan tetapi, perdebatan ini tidak lama.

Kemunculan Kesultanan Ottoman yang diikuti maraknya perdagangan menjadikan kopi ikut terbawa ke Istanbul, ibu kota Kesultanan Ottoman. Menurut Cemal Kadafar dalam naskah A History of Coffe, Hakam dari Aleppo dan seorang pelawak, Shams, asal Damaskus, Suriah, datang ke Istanbul dan masing-masing membuka warung yang menyediakan kopi.

Warung itu menjadi tempat pertemuan warga kota. Kopi banyak dimanfaatkan kaum sufi agar tidak mengantuk pada malam hari saat melakukan ritual. Awal tumbuhnya warung kopi atau kafe sebenarnya dari sini. Sayangnya, dari tempat ini gaya hidup kafe tidak mendunia.

Adalah kemudian pedagang dari Armenia, negeri kecil yang terletak di antara Eropa-Asia, yang membawa kopi ke Eropa. Pedagang Armenia dikenal sebagai perantau dan sukses berbisnis. Jika di Indonesia, orang Armenia dapat dipadankan dengan orang Minangkabau yang gemar merantau dan sukses berbisnis. Orang Armenia menyebar ke Eropa untuk berdagang dan berusaha. Tidak sedikit yang sampai ke Belanda kemudian ikut kapal untuk berdagang di Nusantara.

Di Nusantara, mereka sangat sukses. Ada yang mendirikan pabrik gula dan ada pula yang berbisnis hotel. Sayangnya, karena memilih berafiliasi dengan Belanda, saat perang kemerdekaan mereka termasuk yang dikejar-kejar laskar rakyat. Banyak yang meninggalkan bisnis mereka di Nusantara lalu mengungsi ke Singapura.

Kembali ke perantauan orang Armenia di Eropa. Perancis adalah salah satu tujuan mereka. Saat itu Perancis termasuk negeri yang kaya dan makmur hingga banyak orang bermigrasi ke Perancis.

Orang Armenia berdagang berbagai komoditas, salah satunya kopi. Menurut buku le Procope, Once Upon a Time 3 Centuries of History, sebelum tahun 1644 kopi diperkirakan belum masuk ke Perancis. Pada tahun itu untuk pertama kalinya kopi masuk ke Pelabuhan Marseille di selatan Perancis. Kopi ini dibawa oleh pedagang-pedagang dari Timur.

Pedagang inilah yang mengubah kebiasaan minum orang-orang Perancis. Dalam istilah mereka, para pendatang itu ”membawa secangkir kecil keindahan yang agung yang terbuat dari porselen indah dengan kain yang berhiaskan emas, perak, dan sutra”. Kalimat simbolis ini untuk menunjukkan kenikmatan kopi yang bijinya kemilau seperti porselen.

Akan tetapi, minum kopi hingga 15 tahun kemudian merupakan kebiasaan yang hanya dikenal di kalangan tertentu, sangat terbatas, dan orang-orang kaya. Dalam tulisan berjudul The Coffee Trail: A Muslim Beverage Exported to the West, mengutip buku karya Antoine Galland (1699), disebutkan bahwa de la Croix, penerjemah Raja Louis ke-14, menginformasikan kepada raja bahwa ada orang bernama Thevenot berkelana ke wilayah Timur dan membawa pulang kopi. Thevenot menggunakan biji kopi untuk dirinya sendiri dan saat menjamu kawan-kawannya.

Setelah kopi habis, Thevenot bisa mendapatkan kopi dari pedagang Armenia yang menjual biji kopi di Paris. Kopi baru diperkenalkan di Paris pada 1657. Di Paris, para peminum kopi juga sangat terbatas. Apresiasi terhadap kopi hanya ada di sedikit rumah, seperti mereka yang ada di Marechal de Gramont atau Cardinal de Mazarin.

Secara masif, kopi banyak dikonsumsi di Paris pada tahun 1669. Saat itu Duta Besar Ottoman untuk Perancis, Suleiman Agha, membawa kopi dan dibagi-bagikan kepada kenalannya. Bukan hanya itu, ia juga membagikan kopi kepada kerajaan. Pada saat yang sama ia memperkenalkan cara minum kopi yang tentu baru dikenal orang Paris.

Dua tahun kemudian pedagang Armenia bernama Pafeal atau ada yang menyebut Pascal membuka warung kopi dalam acara Pekan Raya Saint German. Akan tetapi, seiring dengan penutupan pekan raya, Pafeal juga menutup warung kopinya itu. Ia kemudian memindahkan warung kopinya ke tanah yang kini berdiri bangunan Samaritaine itu.

Usaha Pafeal tersebut tergolong tidak sukses. Dekorasi warung yang kurang menarik menjadi salah satu sebab. Ia semula berpikir dekorasi di pekan raya yang cenderung mengadopsi hiasan Timur diperkirakan bisa diterima warga Paris. Ternyata perhitungannya meleset. Ia kemudian menutup warung kopinya. Kabarnya Pafeal pindah ke London dan sukses berbisnis di tempat barunya itu.

Meski demikian, masuknya kopi dan warung kopi milik Pafeal telah membawa alternatif baru dalam hal penyediaan minuman bagi warga Paris. Setelah itu beberapa orang Armenia mencoba membuka warung kopi, tetapi tidak sukses. Beberapa orang Perancis kemudian mencoba keberuntungan usaha ini, tetapi gagal.

Akhirnya mereka kembali membuka warung dengan dekorasi yang berbeda serta menjual beberapa komoditas lainnya, seperti cokelat dan teh. Salah seorang pekerja Pafeal juga kemudian diketahui membuka kafe dan belakangan membuka restoran. Upaya ini berhasil menarik minat warga Paris, mulai dari orang kaya hingga peminat mode. Jumlah warung kopi kemudian mencapai 300 gerai. Warung kopi kemudian meluas ke beberapa kota lainnya. Orang Perancis menyebut warung kopi yang demikian sebagai kafe.

Sebenarnya Perancis bukanlah tempat asal usul kafe. Kafe sudah dikenal di London dan Venesia. Akan tetapi, kafe menjadi terkenal setelah tempat itu digunakan untuk debat dan diskusi politik selaras dengan perkembangan politik di Perancis yang memanas. Beberapa kaum intelektual, seperti Voltaire, JJ Rousseau, dan Denis Diderot kerap nongkrong di kafe untuk mendiskusikan ide-ide mereka.

Begitulah kafe terus berkembang dan menjadi tempat untuk berdebat, termasuk debat-debat revolusi. Banyak pihak sependapat bahwa ide-ide Revolusi Perancis pada 1789 muncul di kafe. Keberadaan kafe bukan hanya menjadi bagian dari sejarah ekonomi, melainkan juga sejarah sosial politik Perancis. Kafe juga makin mendunia karena menjadi tempat nongkrong untuk beristirahat, berdiskusi, atau sekadar ngobrol. (ANDREAS MARYOTO)

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: