Senin, 24 November 2014

News / Travel

Indahnya Jembatan Ampera pada Malam Hari

Selasa, 2 April 2013 | 20:33 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com — Mengunjungi Kota Palembang, Sumatera Selatan, kurang afdal jika tidak mengunjungi ikon kota tersebut, yakni Jembatan Ampera di Jalan Sultan Mahmud Badarudin. Jembatan yang memotong Sungai Musi itu sangat indah dilihat pada malam hari. Lampu yang menyala pada dua kawat besar penahan sisi kiri dan kanan serta dua tiang tembok di atas jembatan memberi kesan indah pada bangunan yang didirikan pada tahun 1962 itu.

Lampu mobil-mobil yang berlalu lalang ikut menghiasi Jembatan Ampera, sehingga dari kejauhan tampak jembatan tersebut seperti diberi lampu kelap-kelip. Pantulan cahaya dari lampu Jembatan Ampera di Sungai Musi juga menambah cantiknya jembatan yang dibangun pada era kepemimpinan Soekarno itu. Sesekali juga akan terlihat lampu kecil di atas Sungai Musi. Lampu tersebut adalah penerang kapal kecil yang kerap melintasi Sungai Musi.

Indahnya Jembatan Ampera pada malam hari bisa dilihat dari pelataran Benteng Kuto Besak yang berada sekitar 800 meter dari sisi kiri jembatan. Ruang publik itu berada tepat di sisi Sungai Musi seberang Ulu.

“Jembatan Ampera bisa dinikmati dari sini juga (pelataran Benteng Kuto Besak), dan akan terlihat indah jika malam hari,” ucap Wildan, salah seorang pengunjung yang kebetulan bersama Kompas.com, Kamis (29/3/2013) malam. Wildan adalah warga Kota Bandung yang kebetulan sedang menggarap proyek tower operator seluler di Palembang.

Memang, sebagian besar pengunjung Kota Palembang kerap menikmati megahnya Jembatan Ampera pada malam hari dari pelataran Benteng Kuto Besak. Apalagi, di kawasan yang cukup luas itu berjejer pula para pedagang yang menyediakan makanan dan minuman. Beberapa di antaranya ada yang menjual pempek bakar, mi tektek, dan minuman ringan plus kerupuk khas Palembang.

Para pedagang ini menempatkan lapak jualannya berderet menghadap Benteng Kuto Besak dan membelakangi Sungai Musi. Mereka juga menyediakan kursi duduk plastik yang pendek persis seperti kursi untuk anak-anak. Kursi-kursi tersebut diletakkan menghadap Jembatan Ampera dan Sungai Musi. Rupanya para pedagang sengaja menempatkan kursi sedemikian rupa sehingga pengunjung bisa memandang Jembatan Ampera sambil menikmati makanan yang dijajakan.

Setiap malam, pelataran Benteng Kuto Besak kerap dikunjungi wisatawan atau warga setempat. Tentu saja tujuan utamanya adalah ingin melihat keindahan Jembatan Ampera. Apalagi kalau malam minggu, pengunjung memenuhi pelataran Benteng Kuto Besak untuk menghabiskan akhir pekan mereka bersama keluarga atau orang-orang yang tercinta.

“Kalau malam Minggu dan Senin pelataran ini ramai dikunjungi pengunjung atau wisatawan. Kalau hari-hari biasa, ya pengunjungnya tidak banyak,” kata Kamaludin, salah seorang pedagang minuman ringan. Kamaludin mengaku sudah 20 tahun berjualan minuman ringan di pelataran Benteng Kuto Besak. Kamis malam memang bukan momen hari libur.

Namun demikian, terlihat ada beberapa pengunjung, baik yang sudah berkeluarga maupun pasangan muda-mudi yang kongko di pelataran Benteng Kuto Besak. Kebanyakan dari mereka duduk-duduk di pagar tembok pinggir Sungai Musi. Pagar tersebut tingginya sekitar satu meter dan bagian atas lebarnya sekitar setengah meter sehingga bisa dijadikan tempat duduk para pengunjung.

Sesekali muncul pengamen yang mengais rezeki dengan “konser” di depan para pengunjung. Mirip di Malioboro, Yogyakarta, para pengamen ini seperti antre bergiliran menunjukkan kebolehan menyanyi demi mendapatkan uang receh dari pengunjung. Dengan demikian, jika Anda mengunjungi pelataran Benteng Kuto Besak, sediakan pula banyak uang recehan.

Tarif parkir Rp 5.000, Mobil aman

Anda yang membawa kendaraan untuk mengunjungi pelataran Benteng Kuto Besak tidak usah khawatir. Di sana juga tersedia tempat parkir yang cukup aman. Hanya cukup memberi uang Rp 5.000 ke tukang parkir, maka kendaraan Anda akan dijaga.

“Parkir mobil Rp 5.000, Bang. Kami akan menjaganya,” kata seorang pria sambil meniupkan peluit, khas tukang parkir. Untuk parkir sepeda motor, pria itu mematok tarif Rp 2.000. Katanya sih memang standarnya seperti itu di pelataran Benteng Kuto Besak.

Sebenarnya tempat yang dijadikan parkir kendaraan itu bukan kawasan khusus parkir. Tempat itu berupa jalan selebar 4 meter yang berada di pinggir pelataran Benteng Kuto Besak. Namun, badan jalan itu kerap dijadikan tempat parkir mobil.

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel


Penulis: Farid Assifa
Editor : I Made Asdhiana