Rabu, 22 Oktober 2014

News / Travel

Meriahnya Pesta Rakyat di Tanah Moloku Kie Raha

Rabu, 3 April 2013 | 15:05 WIB

KOMPAS.com - Festival Legu Gam 2013 dibuka secara resmi pada 31 Maret 2013 di Lapangan Ngara Lamo,  Kelurahan Letter C, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Pembukaan menghadirkan Ketua Panitia Arifin Djafar, Dirjen Pemasaran Kemenparekraf Esthy Reko Astuty, Wakil Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba, Direktur Promosi Dalam Negeri M. Faried, serta tentunya Sultan Mudaffar Sjah sendiri yang akan merayakan hari lahirnya. Turut hadir pula dalam acara ini adalah sultan dan permaisuri dari tiga kesultanan  yang ada di Maluku Utara, yaitu Tidore, Jailolo, dan Bacan.

Pembukaan festival diisi salah satunya dengan prosesi adat di mana sultan bersama permaisuri memasuki tempat acara dengan cara diusung  prajurit kesultanan. Tampil juga beberapa atraksi kesenian Maluku Utara termasuk tarian soya-soya. Ribuan masyarakat yang hadir memenuhi Lapangan Ngara Lamo tampak antusias mendengarkan setiap sambutan dan atraksi kesenian yang ditampilkan. Bahkan, selepas acara pembukaan, mereka beramai-ramai berfoto bersama para penampil dan mengerumuni jalur Sultan dan Ratu yang diusung kembali ke Kedaton Ternate.

Dengan pembukaan festival ini maka dimulai pula Legu Gam Expo yang akan berlangsung hingga 13 April 2013. Pameran tersebut menampilkan berbagai komoditi unggulan ekonomi kreatif dan hasil pembangunan di Ternate. Pengunjung dapat pula melihat berbagai karya seni seperti lukisan, fotografi, hasil pahatan, ukiran patung, dan lainnya. Tersedia juga ragam kuliner khas Maluku Utara yang sangat bervariasi dan belum banyak dikenal masyarakat luas.

Festival Legu Gam 2013 merangkai beberapa acara secara simultan dimulai pada 30 Maret hingga 13 April 2013. Sehari sebelum pembukaan (Sabtu, 30/3/2013) digelar Pawai Obor Gam ma Cahaya, yaitu ritual mendoakan Kota Ternate dengan mengarak obor besar dan obor kecil dari halaman Kedaton Kesultanan Ternate kemudian mengelilingi kota. Di setiap kelurahan, obor-obor tersebut dijemput secara estafet hingga tiba kembali di Kedaton Kesultanan Ternate.

Pada 1 April akan ada Ritual Ora Barakati, yaitu menerima ‘barakat’ Sultan ternate di depan Kedaton. Selepas itu, pada hari yang sama digelar Kirab Budaya Pelangi Kie Raha yang menampilkan ragam budaya dan adat Ternate. Di dalamnya termasuk juga acara Ternate Fashion Street karya muda mudi di Maluku Utara.

Pada 4 April digelar ziarah ke makam leluhur kesultanan dengan menggelar doa dan ritual adat. Ritual Fere Kie dilakukan dengan mendaki ke puncak Gunung Gamalama melibatkan masyarakat adat serta wisatawan. Kegiatan tersebut ditandai pembacaan doa di makam keramat di puncak gunung bertujuan memohon perllindungan Tuhan agar masyarakat Ternate dan Maluku Utara terbebas dari bencana.

Pada 6 April dilakukan Napak Tilas Moti Verbon, yaitu mengingat kembali peristiwa tahun 1332 saat para sultan Moloku Kie Raha, yaitu: Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan  (disebut Kolano) melakukan musyawarah untuk mengatur kesamaan sistem politik, sosial, dan budaya di empat kesultanan tersebut. Dalam acara ini juga akan ada Panggung Budaya yang menampilkan pertunjukan hiburan dan kesenian tradisional di beberapa tempat, yaitu semalam di Ternate, semalam di Bacan, semalam di Tidore, dan semalam di Jailolo.

Festival Legu Gam 2013 tentunya akan menampilkan atraksi bambu gila dan atraksi kekebalan tubuh. Bambu gila sendiri merupakan salah satu atraksi kental aura mantra yang dimainkan sekelompok pria melawan sebatang bambu (sepanjang 2,5 meter dan berdiameter 8 cm). Itu bukan bambu biasa melainkan telah diberi mantra oleh pawangnya. Bambu pun bergerak ke berbagai arah dengan kekuatan magis sesuai perintah pawang dan para pemuda mencoba untuk mengendalikan.

Acara menarik lainnya adalah upaya pemecahan rekor menari soya-soya di bawah air sekitar kawasan Dodoku Ali, tepat di depan Kedaton Kesultanan Tidore. Akan ada 12 wanita yang merupakan dive master menyelam dan menari soya-soya dipimpin langsung oleh Arifin Djafar (ketua panitia sekaligus Wakil Wali Kota Ternate). Rencananya kegiatan tersebut akan menempatkan sound system untuk pengiring musiknya di bawah air. Dipilihnya 13 wanita menyimbolkan tanggal kelahiran Sultan Ternate Mudaffar Sjah.

Festival Legu Gam seakan tidak ingin menghentikan upaya pemecahan rekor MURI dari tahun ke tahun penyelenggaraannya. Kali ini akan ada juga upaya pemecahan rekor spektakuler, yaitu pembuatan nasi jaha sepanjang 10 km. Kuliner khas Maluku Utara berupa beras ketan bercampur santan yang dimasak dalam bambu sepanjang 50 cm kemudian dirangkai dari kawasan Bandara Ternate hingga ke depan kantor DPRD Maluku Utara. Warga dari setiap kelurahan akan mengolah sekira 60 ton nasi ketan dalam 2.000 bambu.

Untuk mendukung dan menghormati jasa pendahulu sultan sebelumnya, pada 9 April 2013 digelar Seminar Sejarah untuk mengusung Sultan Iskandar Muhammad Djabir Sjah sebagai Pahlawan Nasional. Seminar ini melibatkan pakar sejarah dari berbagi daerah di Indonesia. Sehari selepas seminar (10 April 2013) akan ada kegiatan Kololi Kie Moto Ngolo, yaitu mengelilingi Pulau Ternate melalui jalur laut menggunakan kora-kora (perahu tradisional) dengan diiringi musik tradisional.

Pada 10 April digelar Legu Gam on The Tobololo Beach (Casual Fashion Music Reggae-Accoustic) di Pantai Tobololo yang merupakan satu-satunya pantai berpasir putih di Kota Ternate.

Pada 11 April dilakukan pemilihan duta budaya dan pariwisata Moloku Kie Raha yang diikuti pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum.

Selanjutnya pada 12 April dihelat pertunjukan musik jazz dari musisi Perancis atas kerja sama dengan Yayasan Saloi Weda Bay Nickel. Upacara selamatan hari kelahiran Sultan Ternate Mudaffar Sjah sendiri dilakukan pada 12 April dengan ritual tradisional. Penutupan festival akan menampilkan artis daerah dan Ibu Kota pada 13 April 2013.

Sultan Mudaffar Sjah Memimpin Kesultanan Ternate

Sultan Mudaffar Sjah adalah anak ketiga Sultan Ternate ke-47, Iskandar Muhammad Djabir Sjah (1929- 1975). Ia lahir di Ternate, Maluku Utara,  pada 13 April 1935 dan diangkat menjadi Sultan Ternate ke-48 setelah ayahnya yang meninggal tahun 1975. Mudaffar Sjah ditunjuk sebagai sultan oleh bobato 18, yaitu 18 pemimpin dari Lembaga Adat Tradisional Kesultanan Ternate. Sultan Mudaffar Sjah dilantik pada 29 November 1986 dalam suatu upacara tradisional yang dikenal sebagai Kabasarang Kolono di Istana Kesultanan Ternate.

Sejak masa awak kepemimpinannya, Sultan Mudaffar Sjah menata struktur adat Kesultanan Ternate dan menjalankan sejumlah hukum adat sebagai perekat masyarakat di Maluku Utara. Selain itu, ia juga berupaya mengembalikan eksistensi Kesultanan Ternate melalui jalur politik nasional dengan menjadi anggota DPRD Maluku dan kemudian menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

Kini Sultan Mudaffar Sjah yang berusia 78 tahun memimpin Kesultanan Ternate yang merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara sejak didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada 1257. Nama asli kerajaan ini sebenarnya adalah Kerajaan Gapi tetapi lebih dikenal Ternate karena mengikuti nama ibu kotanya.

Masa kegemilangannya pada abad ke-13 hingga ke-17 dimana saat itu memegang peranan dalam perdagangan rempah-rempah dan memiliki kekuatan militernya yang disegani. Wilayah kekuasaannya membentang luas di wilayah Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Timur dan Sulawesi Tengah, hingga bagian selatan Kepulauan Filipina dan bahkan sejauh Kepulauan Marshall di Pasifik.

Pengaruh budaya Kesultanan Ternate masih terasa hingga kini di berbagai wilayah kekuasaannya. Bentuknya terlihat dalam sistem pemerintahan, trnasportasi laut, dan beragam jenis kuliner. Selain itu, juga dalam pengaruh bahasa Melayu-Ternate yang digunakan luas di Indonesia Timur terutama Sulawesi Utara, pesisir timur Sulawesi Tengah dan Selatan, Maluku dan juga di pesisir Papua.

Bahkan, kini juga diketahui bahwa ada dua naskah Melayu tertua di dunia berupa naskah surat  dari Sultan Ternate Abu Hayat II kepada Raja Portugal tertanggal 27 April dan 8 November 1521 yang saat ini tersimpan di Museum Lisabon, Portugal.

Kesultanan Ternate adalah kerajaan di Nusantara yang berhasil meraih kemenangan pertama perlawanan pribumi Indonesia melawan kolonial Portugal pada 1575. Keberhasilan tersebut bukan saja keberhasilan peperangan pertama melainkan juga telah menunda penjajahan Kerajaan dari Eropa atas kerajaan di Nusantara selama 100 tahun.


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: