Kamis, 2 Oktober 2014

News / Travel

Kisah Sebutir Lada

Jumat, 5 April 2013 | 08:27 WIB

Berita Terkait

SEJAK puluhan tahun sebelum Masehi, lada (Piper nigrum L) yang tumbuh di Sumatera bagian utara telah dilirik para pedagang asing, khususnya para pelaut dari Tamil, India selatan. Puncak kejayaan lada Sumatera terjadi pada abad ke-16 kala Kesultanan Aceh berdiri. Kesultanan yang menguasai pantai barat hingga timur Sumatera ini pun kaya raya karena perdagangan lada.

Selain dipakai untuk menggenjot perekonomian, lada juga dipakai Kesultanan Aceh sebagai alat diplomasi. Syahdan, seorang Sultan Aceh memerintahkan sebuah misi untuk mengirim upeti berupa lada satu kapal penuh kepada Kerajaan Turki yang melindungi Kerajaan Aceh dari serangan Portugis dan musuh lain.

Singkat cerita, misi dari Aceh itu tiba di Istanbul. Namun, pegawai kerajaan tidak memperbolehkan mereka menemui Raja Turki. Setelah beberapa lama di Turki, perbekalan mereka pun habis hingga mereka terpaksa menjual sebagian demi sebagian lada upeti untuk biaya hidup.

Utusan Aceh itu akhirnya bisa bertemu dengan Raja. Dan, mereka hanya bisa mempersembahkan lada secupak (sekitar 675 gram) yang tersisa di kapal. Raja Turki tetap menerima upeti dengan perasaan senang. Ia membalas ”upeti” lada secupak dengan memberikan meriam yang kemudian diberi nama meriam secupak (Snouck Hurgronje, 1985).

Lada memang lama mengakar dalam kehidupan orang Aceh, sampai-sampai ada keyakinan bahwa lada di dunia berasal dari sana. Menurut dongeng yang dikutip JJCH Van Waardenburg (1936), tanaman lada ada berkat usaha seorang keramat bernama Teungku Lam Peuneu’eun yang makamnya terletak di daerah Aceh Besar (IX mukim Tungköb). Keramat itu dikatakan telah menyemai bibit kapuk (panjoe) dan dari bibit itulah berasal tanaman lada.

Untuk menghormatinya, sebagian masyarakat di Aceh Timur dan Aceh Barat setiap tahun menggelar kenduri saat tanaman lada mulai berbunga di usia tiga tahunan. Kenduri bunga lada itu dimaksudkan untuk mencegah bunga lada rontok sebelum panen tiba.

Waardenburg juga mencatat, masyarakat Aceh memiliki sejumlah istilah yang dipinjam dari kata lada. Satu penggal periode pertumbuhan janin dalam kandungan ibu, misalnya, dinyatakan dengan ukuran lada. Umur janin dua bulan disebut sebesar butir lada (dua buleuen ubó lada), tiga bulan berbentuk manusia (lhèe buleuen ka meusipheuet), empat bulan jadi manusia (peuet buleuen jeuet keu ma 'nusia).

Jika seseorang merantau dan tak kembali lagi ke daerah asal, ia dikatakan ”mate reudeueb maté lada” atau mati tanaman dadap, mati tanaman lada.

Bagaimana lada saat ini? Buku Statistik Perkebunan Aceh tahun 2011 mencatat, produksi lada di seluruh Nanggroe sebanyak 217 ton (2009), 205 ton (2010), dan 216 ton (2011). Bandingkan dengan sepenggal catatan produksi lada yang dibuat Tome Pires (1512-1515). Ia menyebutkan, Pelabuhan Pidie dan Pasai saja ketika itu memproduksi 16.000 bahar lada atau sekitar 2.718 ton lada per tahun. Belum lagi jika dihitung produksi lada dari perkebunan-perkebunan di sepanjang pesisir barat Aceh (Dasgupta, 1962).

Begitulah, kejayaan lada Aceh kini tinggal sepenggal cerita di masa lalu. (BSW/AIK)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : I Made Asdhiana
Sumber: