Kamis, 23 Oktober 2014

News / Travel

Jelajah Kota Tua Petra ala Indiana Jones

Rabu, 10 April 2013 | 16:45 WIB

AWAL April. Suhu udara 20 derajat celcius. Saat yang tepat untuk mengunjungi Yordania. Hanya dua jam empat puluh lima menit naik pesawat dari Dubai, Uni Emirat Arab, menjadi waktu tempuh petualangan saya di akhir pekan ini.

Berawal dari relaksasi di Laut Mati. Tubuh pun menjadi segar dan saya siap untuk menjelajahi Petra. Tiga jam perjalanan dengan mobil menuju Petra tidak bisa dibilang membosankan. Suguhan pemandangan Laut Mati, dilanjutkan dengan belahan bukit berbatu sebelum memasuki daerah kota.

Awalnya, Petra di benak saya adalah pegunungan batu, tempat Al Khazneh (The Treasury) tersembunyi layaknya harta karun. Betul walau kurang tepat.

Menurut Pusat Informasi Wisata, tempat saya membeli karcis masuk, waktu yang saya butuhkan untuk menjelajahi Kota Tua ini adalah 3 sampai 4 jam. Dan, “The Treasury” hanyalah salah satu dari belasan titik tujuan lainnya di daerah arkeologi Petra.

Karcis masuk Petra adalah 50 dinar Yordania (sekitar Rp 680.000), sudah termasuk mengendarai kuda dari gerbang utama sampai daerah “The Siq”. Dengan jatah waktu yang cukup sempit, bagaimana caranya menikmati Petra seoptimal mungkin? Tentunya ada beberapa sarana ‘taksi’ seperti kuda, keledai, unta, kereta kuda, yang membantu mempercepat sampai ke tujuan utama.

Lakukan saja penjelajahan ala Indiana Jones. Sebelum dipopulerkan oleh film box office Tranformers. Serta jauh sebelum Petra menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia terkini, tempat ini sudah memukau para penonton film klasik Indiana Jones.

Syarat utamanya adalah dengan berkuda sampai ke titik tertinggi di pegunungan Petra. Mengendarai kuda adalah satu hal, tetapi baru kali ini saya belajar untuk mendaki dan menuruni gunung berbatu dengan kuda. Ditambah dengan tebing terjal tanpa batas pengaman di sisi. Sungguh menegangkan dan memacu adrenalin.

Saya memacu kuda agak cepat ketika mulai mendekati puncak yang merupakan salah satu titik tertinggi di Petra. Sejauh mata memandang terhampar gunung berbatu dalam berbagai semburat warna merah.

Tidak heran Petra dinamakan “The Rose-Red City” atau kota mawar merah. Dari tempat ini terlihat jelas “Amphitheatre”, sebuah teater ala Romawi, serta “The Monastery” di sisi kiri dan jalan menuju “The Treasury” yang tersembunyi oleh bukit batu di belahan kanan.

Jauh di hamparan hijau di bagian kanan saya adalah Wadi Musa, perbukitan yang dipenuhi dengan rumah-rumah kecil khas Petra berbentuk kotak berwarna coklat muda.

“Ingat, Anda tidak punya banyak waktu,” tutur joki kuda saya seakan mengembalikan saya ke dunia nyata.

Untuk menuju ke area monumen-monumen, saya harus menuruni “The Steps”, pahatan tangga yang menyatu dengan gunung batu. Jarak yang cukup jauh ini hanya bisa ditempuh dengan kaki atau keledai. Walau tidak terasa karena suguhan alam yang tidak henti-hentinya memanjakan mata.

Dan akhirnya.. “The Treasury”. Bangunan setinggi 150 kaki yang kokoh menyatu dengan tebing di sekitarnya. Seperti semua bangunan lainnya di Petra, “The Treasury” dipahat dari bebatuan pasir dari masa 2.000 tahun silam dan menyatu dengan pegunungan berbatu Petra.

petra
"The Treasury" dari balik "The Siq" (kiri). Bangunan arkeologi "The Treasury", Petra, Yordania (kanan).
(Foto: Asih Wulansari)


Tidak kalah memukau dengan bangunan “The Treasury” adalah jalan keluarnya yang dinamakan “The Siq”, sebuah jalan setapak sempit yang diapit oleh tebing-tebing batu.

Selepas dari tempat ini, kuda saya sudah setia menunggu untuk mengantar saya kembali ke pintu gerbang utama. Saat ini matahari mulai terbenam. Momen yang tepat untuk menutup petualangan kecil saya hari ini.

Saat kembali ke Dubai hari berikutnya, saya memulai rutinitas dengan badan yang hampir rontok. Tetapi kalau diberi kesempatan untuk mengulangi lagi, saya tidak akan menjalani petualangan di Kota Tua Petra dengan cara yang berbeda.

Namun, mungkin saja saya akan mengunjungi lagi Petra di hari-hari tertentu saat tur Petra dibuka pada malam hari. Saat itu “The Treasury” dan sekitarnya dipenuhi ribuan lilin dengan hiburan teh khas Arab dan musik gurun Bedouin. (ASIH WULANSARI, penulis menetap di Dubai, Uni Emirat Arab, dan bisa dihubungi melalui twitter @woewland)

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel


Editor : kadek