Selasa, 2 September 2014

News / Travel

Mengintip Burung Bidadari Memadu Kasih

Senin, 15 April 2013 | 20:23 WIB

MATAHARI belum tampak saat kaki mulai melangkah ke belantara hutan di Kobe, Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, akhir Januari lalu. Kicau beragam jenis burung menemani sepanjang perjalanan. Kicauan mereka seakan menyambut kami, menyambut pula datangnya pagi yang akan segera tiba.

Berjalan setengah jam, gelap hari mulai berganti terang. Di pucuk pohon yang tinggi dan rapat mulai terlihat beragam burung bebas terbang. Kicauan mereka yang juga beragam seakan menghidupkan suasana hutan yang sepi.

Di antara burung-burung itu terlihat sepasang burung bidadari atau dikenal pula dengan nama Standardwing Bird of Paradise (Semioptera wallacei). Yang jantan memiliki mahkota berwarna ungu dan dada berwarna hijau. Adapun yang betina berwarna coklat dan memiliki ekor lebih panjang.

Berulang kali bidadari jantan memamerkan kecantikan bulu dan bentang sayapnya sambil berkicau. Yang betina tampak tertarik dengan aksi si jantan sehingga keduanya terlihat saling mengejar. Beberapa kali mereka terlihat berpelukan.

”Mereka begitu mungkin pacaran. Bahkan, pernah dua burung itu terjatuh dari pohon saat pacaran. Setelah itu, mereka terbang lagi,” ujar Yulius Timbangnusa, warga Sawai Itepo, Weda Tengah, yang biasa memandu wisatawan melihat burung endemik di hutan Kobe.

Burung bidadari ditemukan pertama kali oleh Alfred Russel Wallace saat ekspedisi ke Bacan (sekarang masuk Kabupaten Halmahera Selatan) pada Oktober 1858-April 1859. Dalam buku berjudul The Malay Archipelago yang ditulis Alfred disebutkan, burung itu dinamai Semioptera wallacei oleh Mr GR Gray dari Museum Inggris (British Museum).

Selain bidadari, terlihat pula burung endemik Maluku Utara lain yang dikenal warga dengan nama taong-taong atau Hornbill (Rhyticeros plicatus). Burung berwarna hitam itu bersuara khas saat terbang. Suara kepakan sayapnya seperti helikopter.

Deforestasi

Ada 22 spesies burung endemik Maluku Utara yang bisa ditemui di hutan Kobe. Luas hutan itu mencapai 400 hektar.

Pemilik Weda Reef and Rainforest Resort di Kobe, Rob Sinke, yang menemukan bahwa hutan Kobe itu kaya akan burung endemik, memberikan sejumlah uang kepada warga Desa Kobe dan Sawai Itepo, Weda Tengah, pemilik hutan itu. Tujuannya agar pepohonan tidak ditebang sehingga burung masih lestari.

Deforestasi hutan di Halmahera Tengah dikhawatirkan terus terjadi. Selain oleh warga, deforestasi juga terjadi untuk kepentingan perusahaan tambang. Perut bumi Halmahera Tengah yang kaya nikel menjadi incaran perusahaan tambang.

Hutan Kobe yang lestari, berdampak pada kelestarian burung endemik, kemudian dipromosikan Rob Sinke untuk memikat wisatawan. Turis asing paling banyak tertarik. Mereka datang dari berbagai belahan dunia—dari Eropa seperti Belanda dan Inggris, juga Australia dan Jepang. Tahun lalu, sedikitnya 150 wisatawan mancanegara yang datang.

”Kami membuat tur ke hutan Kobe untuk melihat burung-burung itu. Kami memulai tur pagi hari, sebelum matahari terbit, karena burung biasa terlihat pagi hari,” kata Rob Sinke.

Rob, yang berasal dari Belanda tetapi kini berkewarganegaraan Indonesia, pernah meraih penghargaan Kalpataru 2009 dari Provinsi Sulawesi Utara. Ia juga pernah diusulkan meraih Kalpataru tingkat nasional tahun 2010. Ia dinilai berprestasi menjaga kelestarian alam Selat Lembeh berikut Pulau Lembeh.

20 titik selam

Namun, tak hanya melihat burung endemik itu yang membuat wisatawan datang. Keanekaragaman hayati di dasar Teluk Weda juga menjadi daya tarik lain. Tabung oksigen berikut peralatan selam tersedia agar wisatawan bisa menyelam dan menikmati keindahan bawah laut.

Menurut Joni Mamidar (30), pemandu selam, ada sedikitnya 20 titik selam di Teluk Weda untuk melihat keindahan terumbu karang berikut beragam ikan dan hewan lain yang hidup di antaranya. Dengan menyelam hingga kedalaman 30 meter, keindahan itu bisa terlihat.

Menyelam bisa dilakukan pada siang atau malam hari. ”Binatang yang terlihat di bawah laut pada siang hari berbeda dengan malam hari,” kata Joni.

Saat siang hari, penyelam bisa melihat keindahan Clown Triggerfish (Balistoides conspicillum) yang berwarna-warni atau Denise’s Pygmy Seahorse (Hippocampus denise) yang warna tubuhnya berubah-ubah mengikuti warna terumbu karang tempatnya berada. Saat malam hari, bisa terlihat Berry’s Bobtail Squid (Eupryma berryi) yang hanya pada malam hari keluar dari persembunyiannya, dari bawah pasir di dasar teluk.

Ketika waktu menikmati seluruh pesona alam dan bawah laut usai, wisatawan melepas lelah di cottage, di Weda Resort. Bangunan cottage menyerupai rumah tradisional Maluku Utara dengan ciri khas atap dan dinding dari pelepah sagu. Berada di dalamnya terasa sejuk.

Bangunan cottage berada di pesisir Teluk Weda dengan halaman belakang pepohonan yang lebat. Sejumlah burung endemik kerap dijumpai terbang di antara pepohonan.

Suasana sunyi karena resor itu berada jauh dari kota. Jarak tempuhnya dari Weda, ibu kota Halmahera Tengah, sekitar satu jam. Hampir sepanjang jalan masih berupa pasir dan batu dengan pepohonan dan semak belukar yang lebat di kiri-kanan jalan.

Rob Sinke dengan Weda Resort hadir saat pemerintah daerah seperti mendiamkan saja pesona alam di wilayahnya. Padahal, pesona itu bisa menarik wisatawan. Pemerintah justru lebih mudah mengundang investor tambang yang bisa merusak alam dan mengancam keanekaragaman hayati alam Halmahera Tengah.

Weda Resort di Kobe baru beroperasi pada 2011. Sebelumnya, atau sejak 2010, resor berada di Sagea, Weda Utara, Halmahera Tengah. Resor dipindah sebab penambangan nikel di Sagea merusak lingkungan.

Kehadiran Weda Resort di Kobe juga berdampak positif bagi masyarakat, terutama warga Desa Kobe dan Sawai Itepo, dua desa di dekat resor. Hasil bumi masyarakat, seperti buah-buahan, sayuran, dan ikan sering kali dibeli pengelola dan penghuni resor. ”Ada juga warga yang dipekerjakan di resor. Mereka diajari untuk menjadi pemandu bagi wisatawan yang datang,” kata Kepala Desa Sawai Itepo, Yansen Papaceda.

Selain itu, warga juga menjadi lebih sadar menjaga alamnya. Menurut Yansen, banyak dari masyarakat yang dulu perambah hutan dan menangkap burung endemik untuk dijual kini berubah. ”Warga sadar jika hutannya kaya akan burung langka yang bisa menarik wisatawan. Kekayaan ini yang membuat warga berubah dan ikut menjaga hutan,” katanya.

Warga kini bergantung sepenuhnya pada hasil bertani, seperti sayuran dan buah-buahan, juga hasil menangkap ikan di laut. Rob Sinke juga mempersilakan lahan tidur di dekat resor untuk diolah menjadi kebun supaya warga tidak lagi merambah hutan.

Pendidikan dan kesehatan warga desa di dekat resor juga menjadi perhatian Rob. Ia membangun satu gedung di Sawai Itepo untuk pendidikan anak usia dini. Selain itu, tempat mandi, cuci, dan kakus dibangun bagi warga Sawai Itepo. ”Saya sedih melihat ketertinggalan warga desa. Jadi, sebagian pendapatan untuk membantu mengeluarkan mereka dari ketertinggalan,” ujarnya. (A Ponco Anggoro)

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: