Sabtu, 26 Juli 2014

News / Travel

Kuliner Penyambung Lidah Belanda-Indonesia

Jumat, 26 April 2013 | 20:34 WIB

ADA satu hal yang menarik dari pembukaan Pasar Malam Indonesia 2013 yang digelar di Lapangan Malieveld, Den Haag, Belanda, 20 Maret 2013. Makanan yang disuguhkan kepada para tamu adalah sate ayam. Daging ayam yang dipotong dadu, ditusuk, dipanggang lalu disajikan kepada undangan.

Sekadar catatan, ini adalah acara formal dengan tamu utama yang hadir seperti Menteri Luar Negeri Belanda Frans Timmermans, dengan tuan rumah yakni Duta Besar Indonesia untuk Belanda Retno Lestari Priansari Marsudi. Cukup unik melihat para undangan yang mengenakan pakaian resmi berbincang santai dengan tangan kanan memegang tusuk sate, sementara tangan kiri memegang gelas berisi jus apel hingga minuman beralkohol.

Kisah berikutnya didapatkan sewaktu singgah di kedai Paviljoen Poffertjes, yang terkenal dengan kue khas yang disajikan dengan taburan gula halus dan krim. Kedai yang terletak tidak jauh dari Lapangan Malieveld ini menyajikan menu sate ayam dengan harga 15 euro atau sekitar Rp 180.000 per porsi.

”Anda ingin menyantap bersama kentang goreng atau roti?” ujar pelayan melontarkan pertanyaan yang tidak diduga.

Karena penasaran, dua jenis penyajian itu dipesan bersama-sama. Saat disajikan, tiga tusuk sate dengan ukuran daging yang jauh lebih besar di Indonesia itu diguyur saus kecap yang digiling halus dan didampingi kentang goreng yang dipotong balok. Piring lain ada roti tawar tanpa olesan apa pun.

Kami menyantapnya, sedangkan meja di samping hanya memesan kopi pahit ditemani sekeping stroopwafel. Di luar, jalanan Den Haag dipenuhi pepohonan yang kering dengan suhu udara menyentuh nol derajat celsius.

Menu kedua

Retno mengungkapkan bahwa masakan Indonesia sudah dianggap sebagai menu nasional kedua di Belanda meskipun penduduk negara tersebut heterogen, dari Benua Afrika ataupun Asia. Berdasarkan catatan mereka, setidaknya ada 1.600 restoran Indonesia di Belanda yang terdaftar.

Putri Maxima bahkan pernah memberikan pengakuan secara pribadi atas keberadaan masakan Indonesia dalam sebuah acara di Universitas Leiden yang juga dihadiri Retno.

Meski hanya 16.000 warga negara Indonesia yang terdata oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia, Retno memperkirakan bahwa 10 persen dari populasi Belanda memiliki kaitan dengan Indonesia. Entah menikahi warga Indonesia, pernah tinggal di Indonesia atau lahir dari keturunan orang Indonesia. Jumlah itu bisa mencapai angka 1,7 juta jiwa.

Entah kebetulan, WNI yang mengadu nasib di Belanda umumnya terampil memasak lalu memilih untuk membuka warung makan. Salah satunya dilakukan pasangan Chris Tjhay-Maheri Deru setelah mereka memutuskan berhenti dari pekerjaan kantoran.

”Kami membuka warung di Delft,” ujar Chris menyebut kota kecil yang berjarak 10 kilometer dari Den Haag.

Penuturan serupa diungkapkan Lili, pemilik warung masakan Jawa Timur, Maduratna, yang sudah berjalan selama empat tahun. Masakan Indonesia selama ini sudah akrab dengan lidah orang Belanda. Apalagi di Delft, yang dikenal sebagai kota pelajar seperti Rotterdam, banyak mahasiswa asal Indonesia.

Dalam peta wisata, restoran Indonesia juga dicantumkan sebagai daya tarik, mulai dari warung sederhana hingga restoran berkonsep fine dining dengan menu Indonesia tersebar di Belanda.

Pasar Malam Indonesia 2013 yang berlangsung selama lima hari juga menjadi bukti. Sebanyak 40 kios makanan dari penjuru Belanda yang berdagang di sana turut menarik pengunjung hingga 38.000 orang. Padahal, banyak orang yang semula pesimistis karena pasar malam tahun ini digelar sebelum tanggal gajian dan suhu belum juga menghangat.

Tidak berlebihan bila kemudian Timmermans berkomentar, ”Terima kasih sudah menghadirkan musim semi lebih cepat,” sewaktu membuka Pasar Malam Indonesia 2013.

Etalase

Dalam sambutannya, Timmermans mengakui kaitan unik antara Indonesia dan Belanda. Awalnya oleh sejarah, kini tidak bisa memisahkan Indonesia dari Belanda. Dia bahkan mengakui punya darah Indonesia dari orangtuanya.

”Indonesia selalu memiliki tempat di Belanda. Jangan sampai hubungan ini berkurang atau bahkan hilang,” ujarnya penuh harap.

Relasi unik ini disadari betul oleh Pemerintah Indonesia. Oleh karena itu, ujar Retno, pihaknya tidak berpangku tangan dengan adanya banyak restoran Indonesia di Belanda. Tindak lanjut harus dilakukan agar hal itu memberikan nilai tambah.

Belanda adalah sebuah persimpangan di Benua Eropa, katanya. Sebagian besar penerbangan antarbenua selalu singgah di Bandara Schiphol, Amsterdam. Itulah kenapa Belanda bisa menjadi etalase Indonesia di Eropa dan tercatat 50-80 juta turis asing berseliweran di Belanda setiap tahun.

”Dengan tiba di Belanda, turis bisa mendapatkan informasi mengenai Indonesia. Restoran yang ada bisa menjadi agen informasi pariwisata,” kata Retno.

Di tengah pelaksanaan Pasar Malam Indonesia 2013, Kementerian Perdagangan meluncurkan direktori restoran Indonesia yang ada di Belanda. Direktori berupa situs web ini diharapkan menjadi panduan bagi siapa pun yang berkunjung di Belanda. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi khusus datang meresmikannya sendiri.

Please, take a bite of Indonesia,” ujarnya penuh semangat. (Didit Putra Erlangga Rahardjo)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: