Rabu, 26 November 2014

News / Travel

Menikmati Sate Betawi Haji Miin

Selasa, 7 Mei 2013 | 08:05 WIB

MENIKMATI akhir pekan, cobalah sesekali menikmati makanan khas di rumah makan tradisional yang ada di Jakarta. Sate betawi Haji Miin salah satunya yang patut dicoba.

Rumah makan sate yang sudah berdiri sejak 1986 ini berada di Jalan Setu, Cipayung, Jakarta Timur. Lokasinya tidak jauh dari Markas Besar TNI. Rumah makan ini gampang ditemukan karena memiliki ornamen atap khas rumah betawi.

Seperti sate pada umumnya, bumbu sate di rumah makan ini juga menggunakan kecap dan rajangan bawang merah, cabai, dan tomat. Namun, yang berbeda, sate ini memiliki daging yang empuk dan tidak berbau perengus. Bahkan kalau dibawa pulang, daging sate itu juga tetap empuk.

Setiap tusuk satenya juga hanya sedikit sekali ditemukan potongan lemak dan otot. Sate Haji Miin lebih banyak potongan dagingnya.

Kata salah satu pengelola rumah makan ini, Fatimah (43), sate di rumah makan itu memang hanya menggunakan daging.

”Kalau ada lemak, sebagian besar kami buang,” katanya.

Segarnya sate Haji Miin ini, pengunjung bisa melihat pada salah satu sudut di rumah makan itu, yaitu tempat memotong daging kambing menjadi potongan-potongan kecil untuk sate. Daging yang digunakan tampak merah segar dan kering, khas daging yang diperoleh dari hewan ternak yang baru disembelih.

Kata Fatimah, daging yang digunakan memang berasal dari kambing yang baru disembelih. Seperti sebagian kalangan orang Betawi, Fatimah mengaku ada kerabatnya yang sejak dulu menjadi pedagang kambing. Dari kerabatnya itulah, ia memperoleh pasokan kambing untuk disembelih dan dijadikan sate yang dijual di rumah makan Haji Miin.

”Tiap kali kehabisan daging, langsung potong kambing baru. Dalam sehari bisa motong dua sampai tiga ekor,” kata Fatimah.

Tak hanya sate, di rumah makan Haji Miin ini juga disediakan sop kambing betawi yang cukup dikenal dengan racikan bumbunya yang terdiri dari jahe, kapulaga, kayu manis, dan kembang lawang.

Racikan bumbu yang khas itulah yang memunculkan rasa istimewa ketika berpadu dengan kaldu daging dan tulang kambing.

”Di sini sopnya enak, rasanya segar,” kata Maryati (45), seorang karyawati yang sudah cukup lama menjadi pelanggan dan menyukai sop kambing Haji Miin ini.

Untuk memuaskan pelanggan, rumah makan ini juga menyediakan sate ayam, tongseng, sop buntut sapi, gulai, ayam goreng, pepes ikan, dan sayur asem.

Menurut Fatimah, rumah makan ini merupakan peninggalan ayahnya yang tak lain adalah Haji Miin. Haji Miin mulai berjualan sate sekitar tahun 1970. Ketika itu, menurut Fatimah, ayahnya berdagang sate dengan cara keliling dari satu tempat ke tempat lain. Kalau ada keramaian seperti pesta rakyat, pesta pernikahan yang menggelar layar tancap, Haji Miin pasti hadir menjajakan satenya.

”Babe jualan sate dengan berjalan kaki, keliling, pakai pikulan,” katanya.

Ilmu membuat sate, tutur Fatimah, diperoleh ayahnya dari orang Betawi yang juga berjualan sate kambing. Saat itu, ayahnya menjadi tukang antar-arang ke rumah orang Betawi penjual sate tersebut.

”Karena sering nganter arang, Babe jadi ikutan belajar membuat sate, dah. Sampai akhirnya ikutan berjualan sate,” tutur Fatimah.

Pada tahun 1986, setelah memiliki modal yang cukup, Haji Miin mulai membuka warung sate ukuran kecil. Dari warung sederhana tersebut, usaha sate Haji Miin semakin berkembang.

Sambutan masyarakat dan penggemar sate yang besar, membuat warung sederhana itu berangsur-angsur berubah menjadi rumah makan yang cukup besar seperti yang ada saat ini, dan mempunyai areal parkir yang cukup luas.

Setelah Haji Miin meninggal, rumah makan sate itu dikelola Fatimah dan adiknya, Namin. Untuk menggerakkan usaha rumah makan, Namin yang menjalankannya. Sementara itu, untuk makanan ditangani Fatimah.

”Soal resep sate, warisan dari Babe. Kalau menu lainnya, saya belajar dari lidahnya pelanggan,” kata Fatimah. (MDN)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: