Rabu, 16 April 2014

News / Travel

Martavan, Kepingan Kisah di Nusa Kencana

Selasa, 7 Mei 2013 | 09:47 WIB

Baca juga

TIDAK ada yang tahu bahwa Nusa Kencana, sebutan lain Kalimantan, menyimpan martavan-martavan terbaik dari zaman China klasik. Sejak lama martavan sudah menjadi bagian budaya suku Dayak. Saking berharganya, orang setempat menamakan desanya dengan nama Tajau Pecah. Tajau tak lain berarti tempayan.

Martavan-martavan (tempayan) itu awalnya hanya menjadi wadah barang yang diimpor dari China. Namun, lama kelamaan, martavan menjadi bagian budaya suku Dayak. Martavan menggambarkan status sosial, peranti ritual, dan komunikasi antarsesama.

Martavan-martavan indah buatan ribuan tahun lalu itu dipamerkan di Museum Nasional Jakarta, 27-28 April 2013. Sebanyak 56 martavan buatan abad ke-14 sampai ke-19, koleksi Boedi Mranata, disuguhkan untuk mengingatkan kita akan salah satu jejak sejarah Borneo.

Boedi Mranata juga merupakan penulis buku Ancient Martavan A Great Forgotten Heritage. Saat itu juga dilakukan bedah buku mengenai martavan yang ditulis bersama Handojo Susanto. Keduanya membutuhkan waktu 12 tahun untuk menyelesaikannya.

Saat melempar pandang dalam ruang pameran, beberapa martavan langsung menyita mata. Ada satu martavan bentuknya cenderung bulat dengan empat buah telinga (bagian kecil di bahu tempayan). Keempat telinga terhubung dengan rangkaian alur daun Chrysanthemum yang bertautan. Di bagian tubuh martavan terdapat gambar wajah manusia tersenyum. Ini adalah selintas keelokan martavan perdamaian.

Tempayan perdamaian oleh masyarakat Dayak Kalimantan akan dijadikan persembahan bagi pemenang perang (jika dua suku bertempur) oleh pihak yang kalah. Penyerahan tempayan perdamaian melambangkan niat baik untuk berdamai di antara dua belah pihak.

Di sudut lain, dua martavan dengan motif dua naga berimpitan (naga kawin) dipajang bersebelahan. Satu martavan berwarna hijau dengan enam telinga lengkap dan satu lagi berwarna putih tetapi dengan sebuah telinga yang hilang.

Hilangnya sebuah telinga martavan ini bukan tanpa arti. Orangtua dari suku Dayak akan membuang sebuah telinga tempayan, yang dikenal dengan sebutan ”tempayan perawan” ini, jika anak gadisnya sudah menikah.

Saat anak gadisnya memasuki usia siap menikah, orangtua di suku Dayak akan memasang ”tempayan perawan” ini di depan rumah. Itu bentuk komunikasi mereka bagi yang lewat bahwa ada gadis siap dinikahi di rumah tersebut. Jika akhirnya si anak gadis menikah, satu telinga tempayan itu akan dibuang. Begitu seterusnya hingga anak perawan di rumah itu menikah semua.

Harap diketahui martavan perdamaian dan martavan perawan tersebut sama-sama berasal dari masa Dinasti Ching (1644-1911) di China.

Suhu tinggi

Martavan merupakan kerabat dari keramik dan gerabah. Yang membedakan adalah proses pembuatannya. Martavan dibuat dengan pembakaran bersuhu tinggi, 1.200-1.350 derajat celsius, sehingga menghasilkan guci terbaik. Adapun untuk produk lain dibakar dengan suhu di bawah 1.000 derajat celsius sehingga menghasilkan produk yang diyakini memiliki kualitas di bawahnya.

Pulau Kalimantan, pada masanya, menjadi lokasi penyimpanan martavan-martavan terbaik dari China. Bahkan diyakini di China saat ini sudah tidak banyak ditemukan martavan-martavan terbaik yang muncul mulai era Dinasti Tang (618-907 M) tersebut.

Suku Dayak pencinta martavan sejati. Bukan lantaran sekadar keindahan warna-warni dan kilau glasirnya, melainkan lebih dari itu, guci-guci indah tersebut memiliki makna budaya. Saking cintanya dengan martavan, ada martavan yang hanya disimpan di dalam lumbung padi dengan ditutupi kain. Martavan yang disebut putussibau ini baru dikeluarkan saat dilakukan ritual budaya Dayak.

Begitu berharganya tempayan-tempayan, orang Kalimantan menamakan desa mereka dengan nama Tajau Pecah (salah satu desa di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan).

Menurut Boedi Mranata, ribuan martavan terbaik dari China ditemukan di Kalimantan. Martavan tersebut awalnya hanya merupakan belanga untuk mewadahi produk seperti alkohol, kecap, atau benda-benda lain yang diekspor China ke wilayah Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Filipina (daerahnya rata-rata di dekat sungai atau laut karena menyesuaikan dengan sarana transportasi masa lalu, yaitu kapal).

Lama-kelamaan, martavan bergeser bukan lagi menjadi sekadar wadah, melainkan justru menjadi produk utama ekspor karena keindahannya. Martavan kemudian menjelma menjadi barang berharga bagi orang Kalimantan.

Perajin martavan China pun menyesuaikan martavan dengan budaya Kalimantan. Dibuatlah motif-motif naga kurus (lebih kurus dari gambar naga orang China) atau gambar topeng etnik yang menggambarkan ciri khas kesukuan.

Martavan terus dibuat dari waktu ke waktu. Sejak diawali oleh perajin China pada masa Dinasti Tang (618-907 M) hingga Dinasti Ching (1644-1911), lalu berkembang dibuat oleh perajin Vietnam, Myanmar, Thailand, dan Kalimantan, hingga awal abad ke-20.

”Yang harus disadari saat ini adalah begitu banyak peninggalan sejarah di negeri ini. Mari coba dikenali, dicintai, dan dilestarikan. Jangan sampai suatu saat bagian sejarah bangsa ini benar-benar hilang,” ujar Handojo Susanto, Wakil Ketua Himpunan Keramik Indonesia.

Setiap kisah dari pelosok negeri ini adalah keping sejarah. Kepingan yang bersatu membentuk Indonesia. Tidak terkecuali kisah dari Nusa Kencana ini, melalui martavan-martavan indahnya. (Dahlia Irawati)

 


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: