Jumat, 25 Juli 2014

News / Travel

Sukacita di Balik Lezatnya Buah Kiwi

Selasa, 7 Mei 2013 | 20:30 WIB

Oleh Frans Sartono

Jika Anda menikmati buah kiwi, di balik rasa lezatnya ada kerja sepenuh jiwa para petani di Selandia Baru. Mereka bekerja dengan niat memanen buah paling enak dan berguna bagi kesehatan. Dengan cara itu, hidup mereka bermakna.

Buah kiwi yang ranum menggerompol di ranting-ranting. Ribuan jumlahnya, menunggu tangan-tangan untuk memetiknya, dan sangat mengundang selera. Roger Hoebers (45), seorang grower atau petani kiwi di Bay of Plenty, Selandia Baru, mengajak kami jalan-jalan di orchard atau kebun kiwinya yang siap panen pada pertengahan April lalu.

Buah kiwi dari kebun Roger ini itu nantinya akan menjadi bagian dari kiwi yang diekspor ke 50 negara, termasuk Indonesia. Jika Anda membeli buah kiwi di supermarket di Indonesia, boleh jadi salah satunya dipetik dari kebun Pak Roger.

Dengan celana pendek dan sepatu kebun, Roger melingkarkan tas besar di pinggang. Tas itu digunakan untuk menampung buah hasil petikan. Ia disertai istrinya, Deborah, yang menggendong putrinya, Alexy, yang berumur hampir 2 tahun.

”Saya menjadi petani buah kiwi karena saya memang selalu suka makan kiwi,” kata Roger, yang baru dua tahun ini memiliki kebun seluas 1,2 hektar di Taurangga, Bay of Plenty, yang terletak 200 kilometer dari Auckland, Selandia Baru.

Berjalan-jalan di kebun kiwi adalah bertamasya ke alam hijau, dengan udara bersih, segar, dan damai. Kawasan sekitar kebun masih berupa hutan dengan kontur tanah berbukit di mana burung bebas terbang berkicau. ”Tadi baru saja ada burung merak terbang sebelum kita datang ke sini,” kata Deborah.

Menikmati hidup

Kebun kiwi Roger terdiri atas tiga blok. Setiap blok dibatasi oleh pohon pinus yang rapat berjajar membentuk tembok alami yang ketat memagari. Pagar pohon itu melindungi tanaman kiwi dari angin kencang yang kurang bagus untuk buah kiwi.

Roger terlibat dalam industri hortikultura selulus sekolah menengah pada usia 16 tahun. Ia kemudian kuliah di jurusan hortikultura lalu bekerja di Zespri sebagai manajer. Setelah belasan tahun bekerja, baru dua setengah tahun lalu ia membeli lahan perkebunan kiwi itu.

You know, saya sudah semakin tua dan saya ingin menikmati hidup dengan bekerja sehari-hari di kebun kiwi. Saya bisa memiliki kebun ini selamanya dan saya masih bisa mendapat pemasukan dari kebun ini,” katanya tentang alasan bertani kiwi pada usia 45 tahun.

”Ketika saya mulai bekerja di kebun kiwi, saya selalu bermimpi suatu hari saya akan memiliki kebun kiwi sendiri ketimbang terus bekerja untuk orang lain. Jadi, ini merupakan a dream comes true, ha-ha-ha,” kata Roger sambil memetik kiwi.

Roger memahami benar filosofi petani kiwi yang tergabung dalam Zespri. Intinya adalah merawat, membudidaya tanaman sebaik mungkin, agar menghasilkan buah lezat. Dengan demikian, konsumen akan terlayani kepuasannya dan pada gilirannya buah kiwi akan menghidupi mereka.

”Aspek paling menggembirakan bagi saya sebagai petani adalah bekerja dengan alam dan menghasilkan buah dengan kualitas tinggi,” kata Roger yang menanam kiwi jenis sun gold, yang daging buahnya berwarna kuning.

”Tentu saja alam sangat berpengaruh terhadap apa yang terjadi pada hasil panen, yang cukup sulit untuk diprediksi. Jadi seperti sedikit gambling juga, he-he-he. Tetapi saya menikmatinya.”

Tahun ini menjadi tahun pertama bagi Roger memanen kiwi jenis sun gold.

Sebelumnya ia menanam kiwi hijau (sweet green). Kebunnya per hektar menghasilkan 22 ton buah kiwi kelas satu yang ia sebut rasanya sebagai super-tasty. Enak tenan.

Paguyuban petani

Roger Hoebers adalah salah satu petani buah kiwi Selandia Baru yang terhimpun dalam Zespri, organisasi petani buah kiwi dari Bay of Plenty. Sebanyak 80 persen hasil kiwi dari Selandia Baru ditanam di daerah ini dan diekspor ke 50 negara, termasuk Indonesia.

Kompas berkunjung ke pusat penghasil buah kiwi di Selandia Baru itu bersama undangan lain dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Hongkong, dan Bahrain. Rombongan diundang oleh Zespri. Organisasi ini benar-benar melindungi kepentingan 2.600 petani kiwi di negeri itu. Mereka benar-benar mengabdi pada kepuasan konsumen, dan hasilnya memang luar biasa. Tahun lalu mereka menyumbang pemasukan negara sebesar 1,6 miliar dollar Selandia Baru, sekitar Rp 13,28 triliun.

”Pada masa panen ini kami mengalami musim panas yang bagus dengan sinar matahari yang melimpah. Cuaca seperti ini yang membikin buah kiwi menjadi semakin enak,” kata Blair Hamill, General Manager Global Supply, Zespri, pertengahan April lalu, di Taurangga, Selandia Baru.

Sebagai gambaran, pada panen tahun 2012, petani kiwi yang tergabung dalam Zespri menghasilkan 410.000 ton kiwi yang dipetik dari 2.700 kebun dengan luas total 12.500 hektar. Jutaan kiwi itu kemudian dikapalkan dalam 55 pengapalan, mengangkut 6.880 kontainer yang dilengkapi pendingin.

Meski tingkat konsumsi buah kiwi Indonesia masih tergolong rendah, dibandingkan Jepang, Korea atau Thailand, negeri ini sangat menjanjikan sebagai pasar. ”Terutama dengan munculnya kelas menengah baru di Indonesia,” kata Blair Hamill yakin.

Kelas menengah ditengarai sebagai masyarakat yang sadar mengonsumsi makanan. Eating with reason, katanya. Riset Zespri menunjukkan, mereka mengonsumsi buah dengan pertimbangan rasa dan manfaat kesehatan.

Melayani konsumen

Petani kiwi dalam Zespri itu bekerja dengan orientasi melayani konsumen. Dari tahapan, tanam, petik, pemeriksaan kualitas buah, pengepakan, pengiriman, riset, penelitian, dilakukan sangat cermat dan teliti.

Kompas mengunjungi perusahaan pengepakan dan penyimpanan buah kiwi Trevelyan’s Pack and Cool Ltd di Te Puke, kota kecil berjarak 28 km dari Bay of Plenty. Perusahaan rekanan Zespri ini melayani pengepakan kiwi untuk 220 kebun. Buah melewati beberapa tahapan penyeleksian. Jika didapati buah yang dianggap cacat, buah akan dikembalikan kepada petani dengan catatan teknis untuk perbaikan di kemudian hari.

Dengan proses sedetail itu, Trevelyan’s pada tahun 2012 mengemas 8.097.254 tray kiwi (satu tray atau baki berisi 30-an buah). Trevelyan’s memastikan tidak satu buah pun yang tak layak bisa lolos pengiriman.

Setelah diberi label Zespri, kiwi disimpan dalam gudang pendingin bersuhu nol derajat celsius. Kompas yang sempat masuk ke gudang penyimpanan kiwi tanpa jaket hanya tahan 3 menit.

Kiwi kemudian dikapalkan dalam kontainer yang dilengkapi pengatur suhu. Untuk sampai Jakarta perlu waktu pengapalan sekitar 18-22 hari. Temperatur selalu dijaga untuk pengiriman kiwi sampai ke tangan konsumen dalam kondisi optimal.

Para petani kiwi itu memang bekerja secara serius, tekun, tetapi penuh sukacita. ”Saya menikmati bekerja di orchard dengan penuh sukacita, sepenuh jiwa (full of passion). Ini sudah menjadi gaya hidup kami, petani kiwi,” kata Roger Hoebers.

Prinsip mereka tidak muluk-muluk. Pada ruang kerja Trevelyan’s, misalnya, terpampang moto Success is not doing extraordinary things, but doing ordinary things extraordinarily well (Sukses bukanlah melakukan hal yang luar biasa, tetapi melakukan hal yang biasa secara luar biasa bagus).

Dengan prinsip tersebut, buah kiwi dari petani Zespri mengembara ke berbagai penjuru dunia.


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: