Rabu, 3 September 2014

News / Travel

Inilah Para Penakluk Puncak Dunia

Rabu, 15 Mei 2013 | 15:26 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Beberapa waktu lalu, Indonesia pernah digegerkan dengan sekelompok pemuda yang berhasil menaklukkan tujuh puncak tertinggi di dunia. Ya, mereka adalah kelompok mahasiswa pencinta alam Universitas Katolik Parahyangan Bandung, yang berhasil menjejakkan kaki di tujuh tempat tertinggi di dunia yang kini dikenal dengan Mahitala Seven Summits.

Mengulang memori tersebut, Selasa (14/5/2013), Kompas.com mendapat kesempatan bertemu dengan dua orang anggota Seven Summit, Broery dan Frans di Telaga Cikeas, Bogor, dan sedikit mengorek tentang pengalaman mereka pada saat melakukan pendakian.

Broery memaparkan, untuk bisa menaklukan 7 puncak gunung tertinggi tersebut berawal dari motivasi pribadi. Ia pun mengatakan pernah bermimpi untuk menjadi "the first seven summiters" dari Indonesia. Kini, mimpinya telah terwujud. Bersama dengan timnya, ia berhasil menaklukkan puncak dunia meski dengan cara yang tak mudah.

"Awalnya motivasi gue pribadi sih. Dari awal seneng naik gunung, akhirnya cari gimana sih untuk naik gunung aman. Akhirnya gue cari suatu wadah untuk naik gunung aman akhirnya gue masuk Mahitala. Gue sendiri punya mimpi pengen jadi the first seven summiters," kata Broery.

Untuk pendakian Seven Summit, lanjut Broery, ia dan tim melaksanakan selama dua tahun tepatnya dari tahun 2009 hingga 2011. Sedangkan, persiapan yang mereka lakukan sejak tahun 2008.

"Total dengan persiapan 3 tahun. Enggak langsung, kita pulang-pergi. Jadi kita jadwal tergantung high season di sana, soalnya kan di sana empat musim jadi kita ngikutin yang di sana," katanya.

Untuk itu, Broery yang saat itu masih tercatat sebagai mahasiswa, sempat menunda masa studinya dengan mengambil cuti akademis untuk melakukan pendakian. Bersyukur, kampus tempat ia menuntut ilmu sangat mendukung yang ia lakukan.

"Jadi kebetulan ada gunung yang bisa kita daki di pertengahan semester jadi pas libur semester kita meminta kampus biar ujiannya dimajuin atau ujiannya nyusul," ujarnya.

"Tapi ada juga yang enggak. Seperti Everest dan Papua itu butuh cuti karena kita ke sananya pas sepanjang semester masih aktif lah. Tapi karena kampus dukung, ya segala kesempatan ada konsekuensinya sih," paparnya.

Untuk tingkat kesulitan, lanjut Broery yang kini melanjutkan studi pasca sarjana di Universitas Katolik Parahyangan Bandung itu, masing-masing gunung memiliki tantangan yang berbeda. Misalnya saja untuk mencapai Puncak Everest, ia dan tim memakan waktu dua bulan lebih hingga mencapai puncak. Selain karena ketinggiannya, Everest juga mempunyai wilayah sangat dingin hingga mencapai minus 50 derajat dan hampir tak ada mahluk hidup yang bisa bertahan di sana.

"Jadi di sana ada namanya dead zone. Dead zone itu di mana mahluk hidup nggak bisa bertahan di situ karena kondisi oksigennya yang kurang. Mungkin untuk beberapa orang sih yang benar-benar super power ya bisa, cuma kalau kita belum seperti itu," katanya.

Akhirnya, Broery dan tim bernapas dengan bantuan oksigen. Tantangan lain juga ia temukan saat mendaki puncak Cartenz. Meski gunung bisa dibilang tak terlalu tinggi, namun untuk mencapai puncaknya diperlukan keahlian memanjat.

"Mungkin yang sulit Cartenz juga walaupun dia yang paling pendek tapi dari awal tuh butuh skill climbing. Dengan teknik climbing-nya jadi dari awal sampai akhir kita butuh tali," katanya.

Sementara itu, serupa dengan Broery, Frans pun memiliki kisah tersendiri dalam menaklukkan tantangan mendaki puncak tertinggi dunia tersebut. Menurutnya, yang paling berkesan adalah saat mendaki puncak Everest.

"Kita paling banyak pengalaman di Everest kali ya. Seperti ngadepin salju longsor, pertama kali ketemu pendaki meninggal. Walaupun di Everest sempat nge-down harus turun. Kita sudah sampai camp tiga (dari empat camp) terus tiba-tiba cuaca buruk, kita harus turun lagi sampai basecamp," ujar Frans yang kini pun sedang melanjutkan studi pasca sarjana di Universitas Katolik Parahyangan Bandung.

"Sudah hampir mau ke puncak. Rencananya memang hampir mau muncak itu tapi tiba-tiba ada berita cuaca buruk semua pendaki turun, jadi kita terpaksa turun juga. Nunggu seminggu lagi lah buat naik lagi," sambungnya.

Selain itu, saat pendakian menuju puncak Everest, ia pun menuturkan sempat semua tim terserang sakit batuk kering. "Kalau di Denali (Alaska) tuh pengalaman juga banyak. Denali tuh faktor pertama cuaca. Kita sempat nunggu pas mau pulang tiga hari nunggu nggak bisa kemana-mana. Sama seperti mau muncak juga kita nunggu dua hari dulu, jadi banyak nunggunya sebenarnya," paparnya.

Terakhir, Frans pun bersyukur pernah melakukan perjalanan tersebut. Karena telah banyak orang seperti dirinya dan tim yang ingin menaklukkan puncak tertinggi di dunia namun sayangnya tak berhasil. Sedangkan, dia bersama tim diberi kesempatan untuk bisa merasakan hal tersebut dan kembali ke Tanah Air dengan selamat.

"Banyak orang naik gunung yang tinggi-tinggi itu belum tentu berkali-kali ke sana berhasil. Kita kebetulan sekali ke sana sampai puncak terus," tambah Frans.


Penulis: Fitri Prawitasari
Editor : I Made Asdhiana