Gubernur: Saya Tidak Menjual Bali - Kompas.com

Gubernur: Saya Tidak Menjual Bali

Kompas.com - 06/08/2013, 08:25 WIB
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Siswi sekolah dasar berlatih menari di sela-sela acara pemberian beasiswa secara simbolik oleh Bank International Indonesia di Wantilan Kertayasa, Desa Bona, Kecamatan Belahbatu, Gianyar, Bali, Sabtu (15/6/2013).
DENPASAR, KOMPAS — Gubernur Bali Made Mangku Pastika meminta masyarakat melihat prospek reklamasi untuk lima tahun mendatang. Reklamasi pulau bisa menjadi alternatif membuka lahan baru untuk lapangan pekerjaan baru.

”Reklamasi juga menjadi alternatif untuk menghentikan alih fungsi lahan pertanian. Yakinlah, saya tidak menjual Bali. Justru Bali itu dibuatkan pulau oleh investor. Bali yang mempunyai pulau baru itu,” kata Pastika di Denpasar, Bali.

Pastika menyampaikan hal itu terkait polemik rencana reklamasi kawasan Teluk Benoa, Bali, termasuk kawasan Pulau Pudut. Warga Pudut mendukung rencana reklamasi itu karena pulau itu nyaris habis tergerus abrasi dan pengerukan.

Dari reklamasi, Pastika memperhitungkan terbentuknya pulau baru seluas 838 hektar. Pulau baru itu akan dibagi sekitar 400 hektar untuk kawasan hutan serta sisanya untuk fasilitas publik dan wisata modern. Kawasan baru itu akan memberikan lapangan kerja baru bagi sekitar 200.000 tenaga kerja di Bali serta pemasukan untuk daerah dan masyarakat hingga Rp 50 miliar per hari.

Terkait polemik itu, Gubernur Bali pun minggu lalu menggelar dialog dengan masyarakat mengenai rencana reklamasi Teluk Benoa, termasuk Pulau Pudut. Dialog selama hampir sembilan jam itu untuk menjaring masukan dari masyarakat. Namun, hingga Senin (5/8/2013) polemik itu terus berlangsung.

Sejumlah kalangan memberikan masukan dan berharap Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana, Bali, yang melakukan kajian terhadap rencana reklamasi itu bisa independen. Kajian LPPM Unud belum selesai 100 persen.

Hentikan polemik

Secara terpisah, Senin, anggota DPRD Bali, Made Arjaya, mengajak masyarakat menghentikan polemik rencana reklamasi Teluk Benoa. Ia meminta masyarakat menunggu hingga kajian selesai.

”Jikalau kesimpulan akhirnya reklamasi itu tidak layak, mari kita hentikan bersama. Jika layak, mari kita pikirkan pula bagaimana jalan terbaiknya,” kata Arjaya.

Untuk reklamasi Teluk Benoa, Gubernur Bali sudah mengeluarkan izin prinsip untuk PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI). Dalam perbincangan dengan Kompas, beberapa saat lalu, Direktur PT TWBI Hendi Lukman memastikan, reklamasi Teluk Benoa tidak untuk merusak lingkungan kawasan itu. Hal ini sesuai kesepakatan dengan pemerintah dan warga sekitar Teluk Benoa, khususnya warga Pulau Pudut.

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI Seorang warga tengah memandang Pulau Pudut, Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (16/7/2013). Pulau tersebut terancam hilang akibat pengerukan dan abrasi jika tidak direklamasi kembali. Selain dimanfaatkan sebagai obyek wisata oleh masyarakat adat, pulau tersebut juga digunakan sebagai kawasan konservasi penyu.
Reklamasi belum segera dilakukan, lanjut Hendi, sebab masih menanti hasil akhir kajian LPPM Unud. Reklamasi itu juga akan memperhatikan kearifan lokal dan aturan adat di Bali.

Sebaliknya, Direktur Eksekutif Conservation International Indonesia, Ketut Sarjana mengatakan, reklamasi bisa menimbulkan naiknya ombak menjadi lebih dari empat meter berdasarkan penelitiannya terhadap Teluk Benoa. Hal itu berbahaya bagi masyarakat dan lingkungan karena menimbulkan banjir atau rob.

”Reklamasi Teluk Benoa cenderung menutup aliran air dan ombak yang masuk akan sulit keluar lagi sehingga diam menjadikan air masuk ke lahan di sekitarnya. Bahkan, efeknya tidak hanya di sekitar Banoa, tetapi juga ke sekitar bandara hingga sebagian Kota Denpasar,” ujarnya. (AYS/COK/TRA)

EditorI Made Asdhiana
Komentar

Terkini Lainnya

Selain Alam, Kini Raja Ampat Kembangkan Wisata Olahraga

Selain Alam, Kini Raja Ampat Kembangkan Wisata Olahraga

News
'Marble' pada Daging Sapi, Apakah Itu?

"Marble" pada Daging Sapi, Apakah Itu?

Food Story
Layanan Antar Jemput Bagasi di Bandara, Seperti Apa?

Layanan Antar Jemput Bagasi di Bandara, Seperti Apa?

News
Festival Terbesar di Raja Ampat Kembali Digelar

Festival Terbesar di Raja Ampat Kembali Digelar

News
PT Angkasa Pura I Sediakan Layanan Antar Jemput Bagasi

PT Angkasa Pura I Sediakan Layanan Antar Jemput Bagasi

News
Ketika Djarot Ingin Lihat Komodo

Ketika Djarot Ingin Lihat Komodo

News
Pelancong, Kyoto, dan Kimono...

Pelancong, Kyoto, dan Kimono...

Travel Story
Lewat Karnaval, Tasikmalaya Siap Menuju Destinasi Industri Kreatif

Lewat Karnaval, Tasikmalaya Siap Menuju Destinasi Industri Kreatif

News
Numpang Sarapan di Atas Jukung Pasar Apung

Numpang Sarapan di Atas Jukung Pasar Apung

Travel Story
Tuturangiana Andala, Tradisi Sedekah Laut Masyarakat Pulau Makasar

Tuturangiana Andala, Tradisi Sedekah Laut Masyarakat Pulau Makasar

Travel Story
Prefektur Gunma, dari 'Onsen' sampai Museum Mainan

Prefektur Gunma, dari "Onsen" sampai Museum Mainan

Jepang Terkini
Venesia Belum Tenggelam...

Venesia Belum Tenggelam...

Travel Story
Wave Rock, Ini Batu Ombak Tertinggi di Australia Barat!

Wave Rock, Ini Batu Ombak Tertinggi di Australia Barat!

BrandzView
Ini Kuil Terbaik untuk Panorama Musim Gugur di Kyoto

Ini Kuil Terbaik untuk Panorama Musim Gugur di Kyoto

Jepang Terkini
Pantai Bantayan di Aceh Utara Kembali Dibuka

Pantai Bantayan di Aceh Utara Kembali Dibuka

News

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM