Minggu, 26 Oktober 2014

Travel / Travel Story

Kisah Beruk Pemetik Kelapa

Minggu, 1 September 2013 | 08:42 WIB
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Warga berkeliling menjajakan jasa beruk pemetik kelapa di Padang Pariaman, Sumatera Barat, pertengahan Juli 2013.
BERUK juga perlu ”sekolah”. Bukan untuk belajar baca tulis, melainkan belajar memetik kelapa. Setelah lulus, mereka dipekerjakan di kebun-kebun kelapa milik warga. Dengan begitu, beruk-beruk itu menjadi makhluk yang berguna dalam rantai bisnis kelapa.

Beruk (Macaca nemes trina) kecil berusia setahun itu bukanlah siswa yang manis. Ia terus meronta ketika dilatih memilin sebutir karambia atau kelapa yang digantung di dahan. Sang pelatih, Masrizal (34), dengan sabar mengulangi perintahnya. Mulutnya mengeluarkan bunyi seperti yang dikeluarkan ”beruk didiknya”. Dengan cara itu, ia berkomunikasi dengan beruk.

Sepuluh menit berlalu, akhirnya beruk kecil itu menghampiri kelapa yang digantung dan memilinnya dengan tangan dan kaki. Sejurus kemudian, kelapa itu jatuh ke tanah. Masrizal tersenyum senang karena ”beruk didiknya” bisa melewati pelatihan tingkat dasar sebagai beruk pemetik kelapa.

Di tahap selanjutnya, beruk dilatih untuk membedakan mana kelapa tua dan yang muda. Kelapa tua umumnya bertangkai rapuh dibandingkan kelapa muda. Setelah dilatih satu-dua bulan, beruk-beruk itu sudah bisa dipekerjakan di kebun-kebun kelapa. Harga jual beruk-beruk terlatih itu pun naik berkali lipat daripada harga beli pertama. ”Kami beli ratusan ribu seekor. Kalau sudah dilatih dan terampil, satu ekor beruk bisa berharga Rp 2 juta-Rp 4 juta,” ujar Masrizal.

Masrizal sejak remaja melatih beruk. Keahlian itu ia peroleh dari ayahnya, Oroh (60), yang juga pelatih beruk. Berkat keahliannya melatih beruk, nama mereka berdua cukup dikenal di kampungnya, Nagari Kandang Gadang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Sebut saja nama Pak Oroh atau Masrizal, orang menunjuk rumahnya yang disebut ”sekolah beruk”.

”Sekolah” itu selama bertahun-tahun ”meluluskan” ratusan beruk pemanjat kelapa. Beruk-beruk itu selanjutnya dipekerjakan para tukang ojek beruk yang bertebaran di Padang Pariaman, Payakumbuh, dan kota-kota lain di Sumbar. Tukang ojek beruk setiap hari berboncengan dengan satu-dua ekor beruk ke desa-desa menawarkan jasa memetik kelapa.

Di antara tukang ojek beruk itu ada Iswardi (31) yang beroperasi di Padang Pariaman dan sekitarnya. Ketika embun belum kering, Iswardi telah mengomando seekor beruk betina miliknya. Hanya dengan menghela tali panjang yang mengikat leher beruk, beruk itu memanjat kelapa yang tinggi dan ramping hingga ke pucuknya. Sejurus kemudian, beruk itu telah memilin beberapa kelapa hingga terlepas dari tangkainya dan jatuh dengan suara berdentum-dentum.

Ketika kelapa tua di pohon itu habis, Iswardi menunjuk ke pohon selanjutnya sambil berteriak, ”Pindah ke sebelah!” Beruk itu diam sebentar dan tiba-tiba, ciaaaat... beruk langsung melompat ke pohon kelapa sebelahnya yang berjarak 1,5 meter. Pagi itu, kata Iswardi, beruk betinanya sudah memanjat 10 pohon kelapa dan merontokkan puluhan butir kelapa tua.

Dari pagi hingga sore, beruk betinanya bisa merontokkan 1.000 butir kelapa. Dari setiap butir kelapa yang dipanen, Iswardi mendapat upah Rp 150 dari pemilik kebun. ”Jadi, sehari saya mendapat Rp 150.000,” katanya.

Tidak jauh dari Iswardi, Isal (33) mengomando dua beruk miliknya. Satu beruk betina, satu lagi beruk jantan. Beruk betina bekerja dengan cekatan, sedangkan beruk jantan lebih sering bermalas-malasan. Ketika Isal tidak memperhatikannya, beruk jantan itu diam saja. Itulah sebabnya, Isal sering naik darah dan mendampratnya. ”Hooooiii... jan bamanuang juo! Jangan bengong saja.”

Isal mengatakan, beruk jantan memang nakal, susah diatur, dan suka melawan. ”Seperti manusia jugalah,” katanya sambil tertawa.

Persoalan beruk betina hanya satu: mereka cemburuan. ”Seandainya tali yang mengikat dia dipegang orang lain, dia akan menyerangnya karena dianggap merebut saya, ha-ha-ha,” kata Isal.

Lantaran tidak banyak polah, beruk betina lebih disukai tukang ojek beruk. Usia produktifnya pun lebih panjang, yakni 10-15 tahun. Bandingkan dengan beruk jantan yang usia produktifnya 5-7 tahun saja. ”Kalau sudah pensiun, dia (beruk jantan) seperti orang berpangkat saja, tidak mau disuruh-suruh lagi,” kata Isal.

Jasa beruk

Biasanya, beruk yang telah pensiun tetap dipelihara dan diberi makan cukup hingga ajal menjemputnya. Beruk-beruk itu tidak akan disia-siakan di hari tuanya sebab semasa mudanya telah bekerja untuk manusia. ”Bahkan, kalau beruk yang berguna mati, kami buatkan upacara. Kami menurunkan baju dalam yang biasa kami pakai sebagai ganti kain kafannya. Dengan cara itu, kami menghormati jasa-jasanya.”

Begitulah, beruk menjadi ”mesin bernyawa” yang amat berguna dalam rantai bisnis kelapa. Itu sebabnya, sejumlah majikan beruk menunjukkan rasa hormat kepada beruk-beruknya. Tengoklah apa yang dilakukan Oroh ketika memberi makan tujuh beruknya. Ia membawakan nasi putih hangat dan menakarnya di mangkuk dari batok kelapa yang sudah dicuci bersih. Oroh menyerahkan batok kelapa berisi nasi sambil membungkuk dan beruk-beruknya berdiri menyambutnya dengan kedua tangan.

Menu makan siang itu adalah nasi dengan lauk daging kelapa. Oroh mengatakan, jika ia masak asam padeh (asam pedas) dan gulai, beruk-beruknya juga mendapat bagian. ”Pokoknya apa yang kami makan, itulah yang dimakan beruk-beruk.”

Rasa hormat, lanjut Isal, wajar ditunjukkan kepada beruk-beruk yang telah bekerja kepada manusia. ”Tanpa beruk, kami belum tentu bisa makan.”

Isal menceritakan, sebelum bekerja sebagai tukang ojek beruk, ia merantau selama 20 tahun di Slawi, Tegal, Jawa Tengah. Di kota itu ia menjadi juragan pakaian. Belakangan usaha itu bangkrut. ”Saya terpaksa pulang. Di kampung, saya bingung mau kerja apa. Akhirnya, tiga tahun lalu saya beranikan diri jadi tukang ojek beruk,” ujar Isal.

Di kawasan Padang Pariaman, profesi tukang ojek beruk menjadi pilihan laki-laki yang belum memiliki pekerjaan. Menurut Isal, ada seloroh, ”Kalau ada laki-laki nganggur, beri saja beruk. Ia akan giat bekerja.” (Budi Suwarna dan Indira Permanasari)
Editor : I Made Asdhiana
Sumber: KOMPAS CETAK