Kamis, 27 November 2014

Travel / Travel Story

Rumah Gadang, Simbol Budaya Merantau

Jumat, 27 September 2013 | 12:16 WIB
Dok. Kompas TV Gonjong (atap) rumah adat Minang berpadu di Kawasan Nagari 1000 Rumah Gadang
Oleh: Lusiana Indriasari

Ke rantau madang di hulu

Berbuah berbunga belum

Merantau bujang dahulu

Di rumah berguna belum

Dalam tradisi Minangkabau, merantau merupakan kewajiban bagi bujang (pemuda). Seorang laki-laki dewasa dianggap belum berguna jika ia belum merantau dan belajar hidup di tanah orang. Tradisi merantau orang Minang bahkan bisa ditelusuri dari filosofi rumah gadang.

Rumah gadang atau rumah godang adalah rumah tradisional suku Minangkabau. Masyarakat setempat sering menyebutnya dengan rumah bagonjong atau rumah baanjung.

Sesuai paham matrilineal yang menganut garis keturunan ibu, rumah gadang adalah rumah adat bagi perempuan. Laki-laki tidak mendapatkan tempat di rumah tersebut. ”Setelah menginjak usia akil balik, mereka tidak diperbolehkan lagi tinggal di rumah gadang. Mereka tidur di surau atau masjid dan hanya pulang saat akan makan atau ganti baju,” kata Alfa Sutan Rajo Bujang, keturunan pemilik rumah gadang kuno di Dusun Nagari, Desa Sumpu, Kecamatan Batipuh Selatan, Tanah Datar.

Menurut Alfa, anak laki-laki tidur di surau atau masjid untuk belajar mengaji sekaligus belajar hidup mandiri. Hingga usianya dewasa dan siap merantau, mereka tetap tinggal di luar rumah. Tradisi itu membuat kami menelusuri lebih lanjut filosofi rumah gadang.

Kami pun menuju Dusun Nagari untuk melihat Kampung Minang Nagari Sumpu yang usianya lebih dari 300 tahun. Salah satu rumah milik keluarga Alfa. Jarak perkampungan rumah gadang kuno yang terletak di dekat Danau Maninjau sekitar 20 kilometer dari kota Batusangkar. Perjalanan harus lewat perbukitan yang berkelok-kelok. Dari atas bukit, hamparan biru Danau Maninjau begitu indah.

Di persimpangan jalan, kami membelok ke perkampungan Nagari Sumpu. Dari sana terlihat atap rumah gadang yang menyembul seperti tanduk kerbau. Senja yang menyemburatkan warna jingga membuat atap rumah berkilauan. Beberapa rumah gadang di pinggir jalan tampak tak terawat. Selain berdinding anyaman bambu, juga beratap seng. Kabar terakhir, lima rumah gadang di Dusun Nagari terbakar karena hubungan arus pendek listrik.

Dibangun tahun 1970-an

Rumah-rumah itu masih dihuni keturunan pemilik rumah gadang lama. Menurut Alfa, rumah paling tua dibangun tahun 1700-an. Rumah Alfa, yang cukup ”mewah” dibangun awal tahun 1900-an. Mereka tak mampu merenovasi karena biayanya mahal. Untuk perbaikan satu rumah gadang butuh Rp 1 miliar.

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Arsitektur Istano Basa Pagaruyung, Nagari Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Selasa (4/6/2013). Rumah tradisional bergaya khas Minangkabau ini digunakan sebagai tempat jamuan makan saat pelaksanaan Tour de Singkarak 2013.
Bagian dalam terdiri atas rumah besar dengan enam tiang berderet dari kiri ke kanan. Punya dua anjuang atau anjungan. Masing-masing anjungan merupakan kamar dengan posisi lantai lebih tinggi dari lantai rumah lainnya.

Kamar tinggi dipakai anak perempuan yang baru menikah bersama suaminya. Kamar berukuran sekitar 1,5 meter x 2 meter berisi dipan kayu dengan jendela besar. Jika ada anak perempuan lain menikah, mereka yang menghuni anjuang harus pindah.

Rumah gadang berfungsi sebagai tempat tinggal bersama. Setiap perempuan yang bersuami mendapat satu kamar. Jumlah kamar disesuaikan dengan jumlah anak perempuan. Anak perempuan yang belum kawin tinggal di satu kamar, sedangkan anak-anak dan perempuan tua ada di dekat dapur.

Rumah itu ditopang tiang fondasi yang diletakkan di atas batu ceruk dan disemen agar menyatu. Konstruksi tahan gempa memungkinkan tiang rumah bisa bergeser dan bergoyang-goyang, dan patah. Struktur rumah gadang juga dibuat tanpa sambungan siku. Sudut-sudut konstruksi tak ada yang membentuk sudut 90 derajat. Sebab, menyesuaikan lekuk batang kayu yang digunakan.

Syamsul Asri dalam Proses Membangun Rumah Gadang mengatakan, pembangunan rumah gadang melalui serangkaian proses. Mulai dari musyawarah, penunjukan tukang tuo (arsitek tradisional), hingga berbagai ritual terkait pemasangan bagian rumah. Saat membangun, tukang tuo membuat ukuran tanpa bantuan meteran. Ia mengukur dengan anatomi tubuh seperti ruas jari, jangka kelima jari tangan yang dilebarkan atau dikatupkan, dan jarak dua lengan yang dipentangkan.

Pembangunan rumah diawali pemasangan tiang utama rumah yang menggunakan kayu andaleh (Morus macraura). Diameter kayu mencapai 2-6 meter. Kayu ini langka dan hanya sedikit ada di Desa Andaleh, Kecamatan Kali Koto, di Desa Paninjauan. Alfa mengatakan, untuk bangun satu rumah gadang butuh pekerja ratusan orang. Di Nagari Sumpu sekitar tahun 1980-an masih ada 200-an rumah gadang yang jumlahnya mulai surut hingga tinggal 25 rumah.

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Arsitektur di dalam Istano Basa Pagaruyung, Nagari Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Selasa (4/6/2013). Rumah tradisional bergaya khas Minangkabau ini digunakan sebagai tempat jamuan makan saat pelaksanaan Tour de Singkarak 2013.
Dalam buku Ragam Rumah Adat Minangkabau yang disusun Hasmurdi Hasan disebut, bentuk rumah Minangkabau menyerupai tanduk kerbau. Hal ini dilatarbelakangi peristiwa adu kerbau yang dibawa utusan Kerajaan Majapahit dengan kerbau asal Minang. Utusan Majapahit membawa kerbau besar, sedangkan dari Minang hanya memakai anak kerbau yang sengaja tak diberi makan agar kelaparan. Anak kerbau itu kemudian diberi tanduk buatan dari besi tajam yang terdiri atas enam pucuk besi tajam. Pertarungan pun dimenangi kerbau Minang. Atap rumah berbentuk tanduk kerbau (bagonjong) menunjukkan status sosial penghuni. (ART/HAM/OTW)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : I Made Asdhiana
Sumber: KOMPAS CETAK