Senin, 24 November 2014

Travel / News

Ekspedisi Sabang-Merauke

Teluk Betung, Jejak Pelabuhan Lampung

Sabtu, 28 September 2013 | 17:47 WIB
KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT Pemandangan senja Gunung Anak Krakatau (latar belakang) dari Pulau Rakata, Selat Sunda, Selasa (16/8/2011).
LAMPUNG, KOMPAS —Tak terasa sejak meninggalkan Pulau Weh delapan hari lalu, kami tiba di provinsi paling ujung timur Pulau Sumatera, Bandar Lampung, Jumat (27/9/2013). Dari catatan perjalanan, rupanya kami sudah berkendara sejauh 2.668.9 kilometer. Letih sudah pasti. Namun, semangat kami untuk melanjutkan perjalanan sampai ujung timur Indonesia, Merauke, masih menggebu.

Seperti halnya di Sumatera, kami yakin masih akan banyak lagi pengalaman baru yang akan didapat. Indonesia kaya dengan keanekaragaman budaya. Keindahan panoramanya yang tiada tara selalu menghibur di sepanjang perjalanan. Sejarah kota yang kami lalui juga menjadi daya tarik tersendiri.

Perjalanan ke Lampung dari Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, hanya berjarak 213,4 kilometer. Namun, ini bukan perjalanan yang mulus. Kami dituntut waspada dan harus ekstra hati-hati karena jalur ini cukup rawan akibat sejumlah ruas jalan tambal sulam dan berlubang, seperti di Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung. Selain itu, truk bertonase besar juga melintas di Banjar Jaya hingga ke Tegineneng, Lampung Tengah, sampai tiba di Bandar Lampung.

Saat tiba di Bandar Lampung, entah mengapa ada perasaan kuat yang ”mengajak” kami untuk singgah di Teluk Betung. Mobil kami kemudian meluncur ke areal Gudang Lelang, yaitu melewati jalan menuju pelabuhan nelayan Teluk Betung, yang menjadi salah satu legenda kemajuan ekonomi Lampung. Dari alat pengukur suhu yang ada di mobil, suhu udara mencapai 34 derajat celsius.

Kami kemudian berjalan melalui jalan di pasar ikan yang relatif bersih dan tidak becek sebelum akhirnya tiba di tepi pantai, tempat perahu-perahu nelayan berlabuh. Di sini ramai pedagang yang menjual aneka penganan olahan hasil laut. Mereka adu untung menyajikan penganan otak-otak, pempek, atau bakwan kepiting dan udang. Berjalan mendekati laut, barang yang dijajakan berganti berbagai jenis ikan, cumi-cumi, udang, dan kerang segar.

Pelabuhan tersebut mulai ramai oleh pendatang dari sejumlah daerah sejak tahun 1839. Tidak hanya sebagai pelabuhan nelayan, kawasan itu juga menjadi tempat bersandar kapal-kapal pengangkut komoditas dari Bugis, Jawa, Aceh, dan Palembang. Kini, pelabuhan untuk barang pindah ke Pelabuhan Panjang, yang berjarak sekitar lima kilometer dari Gudang Lelang.

Sebutan Gudang Lelang kemudian muncul karena aktivitas lelang ikan para nelayan dan pembuatan tempat pelelangan ikan oleh pemerintah setempat tahun 2012. Lokasi Gudang Lelang tepat di dermaga kapal nelayan. Sebagian besar nelayan dan pedagang datang dari Jawa. Mereka datang dengan harapan mengubah nasib.

Keberadaan pelabuhan tua tersebut tercatat dalam sejarah pembangunan Masjid Jami al-Anwar, salah satu masjid tua di Lampung. Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1839. Masjid yang berjarak sekitar satu kilometer dari Gudang Lelang ini didirikan oleh umat Islam yang masuk ke Lampung bersamaan dengan sektor perdagangan yang mengalami kemajuan melalui Teluk Betung. (AHA/UTI/HAM/OTW)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : I Made Asdhiana
Sumber: KOMPAS CETAK