Sabtu, 20 Desember 2014

Travel / Travel Story

Kota Batu, Ruang Publik untuk Semua

Sabtu, 16 November 2013 | 07:17 WIB
KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Alun-alun Kota Batu, Jawa Timur, Jumat (15/11/2013). Penataan yang baik dan penambahan arena bermain oleh Pemerintah Kota Batu membuat alun-alun menjadi sarana sosialisasi yang ramai dikunjungi warga, khususnya pada hari libur.
APABILA pergi ke Kota Batu, Jawa Timur, kapan saja, jangan (hanya) pergi ke pusat wisata yang kini makin membeludak. Sesak, antre, berjubel, walau menyenangkan. Pergilah juga ke alun-alun kota. Siapa pun yang datang akan mendapatkan suasana yang berbeda.

Ya, pergilah ke alun-alun kota. Maka, pengunjung kota ini bakal menikmati sentuhan karya rancang bangun, yang dalam jagat ilmu arsitektur disebut arsitektur ruang publik untuk semua.

Tak ada arsitektur ruang publik yang tidak disengaja. Melihat keindahan air terjun, wisatawan akan mengagumi indahnya karya Tuhan Sang Pencipta Alam dan akan berseru, ”Betapa indah negeriku bla-bla-bla....” Lalu, bersenandung, ”Tanah Air-ku tidak kulupakan.”

Ruang publik dalam pengertian arsitektur bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Ruang publik bisa jadi bukan tempat rekreasi sehingga bukan tempat yang menyenangkan untuk didatangi, seperti terminal bus yang bising atau pasar yang penuh sesak. Ruang publik sesuatu yang dirancang dengan sengaja untuk kepentingan berkumpulnya orang banyak dengan segala kebutuhan.

Masalahnya, kata Edwin Nafarin (43), pemikir di Biro Rancang Arsitetur ”dPavilion”, Surabaya, perancang ruang publik lebih banyak memikirkan sisi wisata yang bermuatan komersial dari penciptaan dan perancangan ruang publik.

Contohnya banyak, bahkan sangat banyak, yaitu segala bangunan mal dan plaza. Ruang publik yang memaksa orang hanya berdiri karena tak ada tempat duduk, kecuali orang duduk lalu membayar harga makanan atau minuman.

Melalui gagasan itu, Alun-alun Kota Batu dirancang. Dengan gagasan itu pula, tempat umum di Batu, seperti taman bermain atau theme park dibuat. Itulah kiranya yang membuat pengunjung wisata Kota Batu akhir-akhir ini ”meledak”. Peningkatannya bahkan hampir 100 persen, dari 2,5 juta wisatawan pada tahun 2011 menjadi 4 juta wisatawan tahun 2012. Ini dibenarkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu Mistin.

Dikunjungi gratis

Di Alun-alun Kota Batu, yang tentu saja bisa dikunjungi dan dinikmati secara gratis, orang mendapati desain yang sudah dibuat dan dirancang bisa dinikmati sebagai taman. Selain membuat air mancur, plaza tempat duduk secara bertingkat, lampion yang menyala, dan aneka patung lampion lucu berukuran besar, seperti sapi dan apel, Pemerintah Kota Batu juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk naik bianglala.

Bianglala adalah nama sejenis wahana komidi putar yang berputar vertikal, sama seperti yang dimiliki London, Inggris, dan Singapura. Hanya butuh Rp 3.000 per orang, semua orang bisa menikmati bianglala dan kenyamanan gratis serasa masuk ke arena dalam taman wisata yang berbayar. Biayanya, saat pembuatan tahun 2011 melalui dana APBD, sebesar Rp 12 miliar.

Itulah yang menjelaskan dua sisi Kota Batu. Wisata sebagai proses pemenuhan waktu senggang, seperti dijelaskan pakar media Asa Brigg (Sejarah Sosial Media, Penerbit Obor, Jakarta, 2009) yang dirancang sebagai kegiatan komersial, dan Batu menjadi kota dengan ruang publik yang ramah untuk semua.

Itu berarti, ujar Edwin, tak harus berombongan membayar tiket masuk Rp 45.000 hingga Rp 100.000 per orang untuk menikmati sajian Jawa Timur Park I, Batu Secret Zoo, atau Batu Night Spectacular. Hanya dengan berboncengan sekeluarga, membayar Rp 3.000 di alun-alun, bisa menikmati kesenangan yang sama.

Itulah yang bisa menjadi penjelasan kenapa Batu menjadi demikian ramai oleh hiruk-pikuk wisatawan. Wisatawan berbayar dan wisatawan tanpa bayar. Itu juga yang menjelaskan bagaimana lonjakan pengunjung ke Batu sudah sama atau bisa melebihi Denpasar, Bali.

Batu diam-diam menjadi daerah tujuan wisata baru karena liputan media massa menyebutkan, kunjungan wisatawan ke Bali tahun 2012 sebanyak 3,5 juta orang.

Namun, bukan berarti tidak ada masalah di Batu, transportasi dan akomodasi telah lama menjadi masalah dan bisa memengaruhi pendapatan kota wisata Batu. ”Pengunjung Kota Batu sekitar Rp 4 juta orang. Itu jumlah yang tercatat masuk ke tempat wisata di Kota Batu,” kata Mistin.

Kerja di satu wilayah

Patut dikemukakan, Edwin Nafarin merupakan arsitek di balik semua konsep perubahan ruang publik di Kota Batu. Dia yang merancang Jatim Park I, Jatim Park II di Kabupaten Lamongan, Jatim Park III di Batu, Batu Secret Zoo, dan Batu Night Spectacular, termasuk Alun-alun Kota Batu yang gratis dengan kesenangan yang lebih kurang sama dengan taman bermain yang tidak gratis itu.

Edwin bisa menjadi sedikit arsitek yang beruntung, bekerja di satu wilayah terus-menerus hingga akhirnya bisa merealisasikan idealismenya, rancangan arsitektur yang ia sebut ”ruang publik untuk semua”.

Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, yang kini menjalani masa jabatan kedua, menerapkan dua jalan alternatif dari arah Kota Malang dan Kabupaten Malang. Hal itu guna menambah ruang terbuka untuk mengurai kemacetan yang memanjang sepanjang Batu-Malang-Pandaan setiap Sabtu dan Minggu, atau hari besar lainnya.

Kini Pemkot Batu juga mengajukan permintaan kepada Pemerintah Provinsi Jatim agar bisa membuat jalan tembus dari Pandaan langsung ke Batu melintasi hutan Perhutani.

Kesulitan zaman menemukan solusinya sendiri. Batu yang dulu kota wisata yang seolah tak tahu akan ke mana, sempat kesal pada pemandangan wisatawan berbondong-bondong sementara masyarakat hanya menonton, kini masyarakat pun menikmati. Wisatawan juga tertumpah ke ruang publik yang lebih terbuka. Itulah idealisme ruang publik untuk semua. (Dody Wisnu Pribadi/Runik Sri Astuti)
Editor : I Made Asdhiana
Sumber: KOMPAS CETAK