Senin, 28 Juli 2014

Travel / News

I Ketut Rina, Kecak untuk Dunia

Minggu, 8 Desember 2013 | 19:45 WIB
ARSIP PRIBADI I Ketut Rina
SUATU ketika, saat menginjakkan kaki di luar negeri, I Ketut Rina yang berambut gondrong ditanya petugas imigrasi tentang asal-usul dan pekerjaannya. Saat menyebut dirinya berasal dari Bali dan berprofesi sebagai penari, si petugas langsung berkomentar sambil mengangkat tangan, ”Wow..., kecak dance, right?”

Pengalaman semacam itu sering dialami Ketut Rina (50) jika ia sedang melawat ke luar negeri. ”Meskipun saya datang ke luar negeri untuk menari yang lain, mereka tahunya Bali, ya kecak,” kata Rina saat ditemui sebelum pentas di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kecak adalah tari kolosal yang semua pemainnya laki-laki. Usia tarian tersebut diperkirakan ratusan tahun. Menurut Rina, kecak semula merupakan pengiring tari Sanghyang, sebuah tari ritual yang dipercaya untuk mengusir roh jahat yang mengganggu desa. Gangguan roh jahat diyakini muncul dalam bentuk wabah penyakit, seperti kolera atau malaria.

”Teriakan cak-cak-cak yang dikeluarkan penari kecak terus-menerus dipercaya bisa menakuti roh jahat,” kata Rina.

Hingga kini, tari kecak masih menjadi ritual yang dimainkan pada hari-hari tertentu, menurut hitungan hari orang Bali. Prosesi kecak sebagai ritual bersih desa dimulai dari pura, lalu berkelilling desa, dan ke rumah-rumah warga.

Namun, bagi Rina, kecak bukanlah sekadar tarian pengusir roh. Kecak tidak kaku yang hanya patuh mengikuti pakem-pakem tertentu. Bagi Rina, kecak adalah sebuah keindahan koreografi. Dari seorang penari kecak anak, Rina konsisten mengembangkan kecak dengan koreografi indah.

Kecak Rina berbeda dengan kecak lainnya karena melibatkan banyak anak-anak dari usia dini. Kelompoknya berjumlah 150 orang, dari jumlah itu seperempatnya adalah anak-anak. ”Saya melibatkan anak-anak untuk proses regenerasi,” kata Rina yang dikenal mengajar kecak dengan disiplin keras. Di sanggarnya, puluhan anak silih berganti berlatih tari kecak dan tari bali lainnya.

Rina juga mengembangkan kecak dengan prinsip lentur. Kalau kecak kelompok lain lebih banyak duduk melingkar, kecak Rina dibuat beragam formasi, seperti berbaris, bersilangan, atau mengikuti bentuk tertentu atau bahkan tidak beraturan. Cerita yang ditampilkan hanya kisah Sugriwa dan Subali. Kecak Rina juga hanya menggunakan obor sebagai penerangan dan menampilkan permainan bola-bola api.

Pada pentas peresmian Garuda Wishnu Kencana di Bali lalu, misalnya, Rina membawahkan 400 penari kecak. Ia membuat formasi ular naga menuruni tangga. Visualisasi ular naga pada malam hari itu ia munculkan dengan ratusan obor di tangan penari. Suara-suara hewan, seperti katak, monyet, dan jangkrik, muncul dari mulut-mulut penari kecak anak.

Tarian kecak Rina juga merespons lingkungan di sekitarnya. Ia tidak berbatas pada areal yang ada. Suatu ketika, para penari kecak Rina masuk ke kolam renang sambil menari untuk berinteraksi dengan penonton. Ada pula beberapa penari yang memanjat pohon sambil terus meneriakkan, ”Cak-cak-cak...!”

Kecak koreografi

Kecak sebagai sebuah koreografi sebenarnya sudah mulai dieksplorasi tahun 1930-an oleh Wayan Limbak yang bekerja sama dengan pelukis Jerman, Walter Spies. Wayan membuat cerita dari bagian-bagian kisah Ramayana dan Mahabarata. Pada masa itu Wayan Limbak juga sudah memopulerkan tari itu saat berkeliling dunia bersama rombongan penari bali.

Lahir dari keluarga petani di Banjar Teges Kanginan, Peliatan, Ubud, Bali, Rina pertama kali tertarik kecak justru dari koreografer asal Solo, Jawa Tengah, Sardono W Kusumo. Saat itu, sekitar tahun 1971, Sardono datang ke desanya untuk menciptakan koreografi Dongeng dari Dirah yang akan dipentaskan di Jakarta. Banyak orang dewasa dan anak-anak tertarik, termasuk Rina, yang pada waktu itu masih berusia sekitar 6 tahun.

Saat itulah Rina pertama kali belajar menari. Ia melihat, di tangan Sardono, kecak yang menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari menjadi sesuatu yang menarik. Kecak memiliki estetika tinggi selain ritual. Bukan hanya Rina, warga Banjar Teges Kanginan yang 80 persen hidupnya sebagai petani dan pematung pun kemudian terlibat dalam kecak yang digarap dengan koreografi.

”Waktu itu, bahasa Indonesia saja saya enggak ngerti. Saya disuruh mengeluarkan suara-suara binatang, seperti kodok, burung, dan monyet,” kenang Rina.

Ia masih ingat bagaimana Sardono memasukkan unsur kehidupan sehari-hari orang Bali dalam karya tarinya, seperti kisah itik ditabrak truk, orang mandi di laut, dan gerakan burung. Pengalaman itu membuka cakrawala Rina akan kekayaan pengembangan tarian kecak.

Namun, pentas yang disiapkan kala itu batal karena mendapat tentangan keras dari orang-orang Bali sendiri. ”Bus-bus sudah datang menjemput untuk membawa kami ke Jakarta, tetapi kami dilarang berangkat. Semua orang sedih, marah, sakit hati. Kami semua menangis. Desa menjadi sepi karena tidak ada yang keluar rumah selama berhari-hari,” tutur Rina.

Itu hanyalah sekelumit kisah pahit. Tahun 1974, Dongeng dari Dirah benar-benar meninggalkan Teges dan membawa Rina pentas lawatan ke Eropa. Rina pun menginjakkan kakinya di Perancis, Swiss, Inggris, Italia, dan Jerman.

Dari situlah mata kecil Rina yang mulai menginjak usia 11 tahun melihat bahwa kecak bisa menjadi ikon untuk mengenalkan kampung halamannya kepada dunia. Sejak lawatannya itu pula, kelompok tari kecak dari Teges Kanginan dikenal dengan nama kecak Rina.

Setelah dari Eropa, kecak Rina terpilih untuk tampil membuka Festival Shiraz di Iran tahun 1976 dan pada tahun 1978 menari ke India. Setelah dari India, Rina meneruskan sekolah hingga ia lulus dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar.

Sejak tahun 1986, Rina bekerja sendiri mengembangkan kecak. Beberapa karya koreografi kecak yang pernah ia buat antara lain Kelahiran (1989), Pembakaran Sinta (1994), dan Ngeraga (2000). Sebagai penari, Rina tidak hanya mengembangkan kecak.

Ia juga menciptakan banyak tarian tunggal dan berkolaborasi dengan penari tradisi dari negara lain seperti penari butoh dari Jepang; ikut ambil bagian dalam The Ensemble Temps Fort Theater, yang mengadakan rangkaian pertunjukan di Asia, Perancis, Amerika Serikat, dan Brasil serta masih banyak lagi pengalamannya menduniakan tari bali.

Beberapa kali Rina juga mondar-mandir ke luar negeri untuk memberikan workshop tari kecak di depan dosen-dosen seni di luar negeri. Maka, tidak heran, jika petugas imigrasi pun mengangkat tangan ke atas jika ia menyebut profesinya sebagai penari dari Bali. (Lusiana Indriasari)
Editor : I Made Asdhiana
Sumber: KOMPAS CETAK