Mengintip ”Si Seksi” di Pasir Sunyi - Kompas.com

Mengintip ”Si Seksi” di Pasir Sunyi

Kompas.com - 12/12/2013, 14:08 WIB
KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA Cagar Alam Kersik (padang) luway di Kecamatan Seqolak Darat, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Selasa (5/11/2013). Selain keunikan pasir putihnya, di cagar alam ini hidup lebih dari 47 jenis anggrek, salah satunya anggrek hitam (Coelogyne pandurata).
SEBUAH puisi barangkali tak cukup mewakili apa yang kini tersaji di depan mata. Kami berada di sebuah hutan pada ketinggian 125-200 meter di atas permukaan laut. Akan tetapi pasir putih seluas 20 hektar menghampar sampai jauh...

Banyak spekulasi tentang keberadaan pasir putih di tengah hutan Cagar Alam Padang Luaway, Desa Sekolaq Darat, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dalam bahasa Dayak Tunjung, Padang Luway lebih populer disebut Kersik Luway, pasir sunyi….

Didimus, penjaga hutan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kaltim menyebut, ”Dulu katanya ini lautan, tetapi perlahan menyurut.” Teori lain mengatakan, pasir di hutan ini berasal dari letusan gunung berapi ribuan tahun silam.

Sudah pasti bukan spekulasi itu saja yang menarik kami untuk menyusup masuk ke dalam hutan. Sebelum semuanya bergerak terlalu jauh, Didimus setengah yakin mengatakan, ”Ini habitat anggrek hitam satu-satunya di dunia….”

Awal November 2013, Kersik Luway seperti menggeliat menyambut kami. Pendar cahaya senja matahari yang membuat pasir berkilauan seperti menyembunyikan misteri, seperti ada seorang putri yang seksi sedang menunggu di kedalaman sana. Dan putri yang seksi itu malu-malu memperlihatkan tubuhnya.

KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA Petugas cagar alam, Didimus, menunjukan anggrek hitam (Coelogyne pandurata) satu dari 47 jenis anggrek yang hidup di Cagar Alam Kersik (padang) luway di Kecamatan Seqolak Darat, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Selasa (5/11/2013).
Kami mungkin sudah berjalan sekitar 30 menit menyusup di bawah pohon-pohon berenganyi yang rapat. Sunyi sekali, hampir-hampir tak terdengar suara burung atau hewan-hewan liar di hamparan hutan seluas 5.000 hektar ini. Saya iseng bertanya, ”Apa masih ada macan dahan di sini?”

Didimus dengan sigap menjawab, ”Sosoknya tak pernah terlihat, tapi ada jejak-jejak di pasir yang diperkirakan bekas jalan macan dahan.” Macan dahan adalah maskot Kabupaten Kutai Barat, sebuah kabupaten pemekaran yang baru dibentuk 14 tahun lalu. Bahkan di Taman Budaya Sendawar, dua patung macan dahan berwarna coklat kehitaman menghadang para pengunjung sebelum memasuki lapangan.

Hutan ini memang sunyi. Barangkali itulah cara alam menjaga sang putri seksi, bernama anggrek hitam (Coelogyne pandurata Lindl) agar tak terusik. Hidupnya tidak lama. ”Anggrek hitam hanya bertahan segar tiga hari, pada hari keempat sudah mulai layu,” kata Didimus.

Lantaran hidup-mekarnya yang tidak lama itulah, alam punya cara menjaganya dengan memberikan suasana yang sunyi, serta hamparan pasir yang memberi kehangatan. Tidak lama setelah menerobos semak belukar yang cukup lebat, di mana tumbuh merambat tanaman kantong semar (Nephentes sp), kami bertemu setangkai anggrek. Ia mencuat dari rerimbunan pohon brenganyi. Warnanya tidak mencolok mata, hampir seluruhnya berwarna hijau seperti juga daun-daunnya.

Sayangnya, seluruh kelopak bunganya sudah mulai layu. ”Ini pasti sudah tiga hari lalu mekarnya,” ujar ahli herbal dan Ketua Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI) Santhi Serad, yang turut serta dalam rombongan kami.

Haus terobati

Didimus memberi keyakinan jika sudah bertemu dengan anggrek layu, itu pertanda tak lama lagi kami akan diberi kesempatan ”bertamu” ke rumah ”si putri seksi” yang memang kami cari. Setelah melewati setapak, di mana pasir putih menghampar, kami masuk ke sebuah lubuk yang dinaungi rimbun pepohonan. Tepat di bawah pohon, daun-daun anggrek tampak bergerombol. Tak disangka ada sesuatu yang mencuat tetapi terhalang dedaunan. ”Ini baru saja mekar…,” kata Didimus.

Itulah perjumpaan pertama kami dengan seorang putri di tengah hutan yang sunyi. Tangkainya yang hijau tampak begitu segar dan kokoh menyangga enam helai bunga. Dan kepingan-kepingan bunganya berkelok ritmis seperti melindungi putik yang menebar warna hitam. Jika didekati bunga ini menguarkan wangi yang unik, khas campuran aroma kesunyian pasir dan hutan. Hanya yang punya imajinasi yang bisa membayangkan keharumannya.

KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA Cagar Alam Kersik (padang) luway di Kecamatan Seqolak Darat, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Selasa (5/11/2013). Selain keunikan pasir putihnya, di cagar alam ini hidup lebih dari 47 jenis anggrek, salah satunya anggrek hitam (Coelogyne pandurata).
Haus kami seperti terobati, karena tak jauh dari situ kami bertemu kembali dengan beberapa gerombol anggrek yang sedang mekar. Hutan yang sunyi tiba-tiba seperti berubah menjadi taman firdaus, tempat di mana seluruh keharuman dan kedamaian bersemayam. Sebuah hamparan taman penuh bunga, di mana kawanan kantong semar seolah menyimpan air kehidupan dan mengusir serangga-seranggga pengganggu kedamaian. Habitat yang asri bagi 47 jenis anggrek hutan yang kini ada di Kersik Luway.

Selain si putri seksi anggrek hitam, di sini juga tumbuh anggrek yang tak kalah seksi, di antaranya anggrek tajuk tuan, anggrek tebu, anggrek bulu landak, dan teristimewa anggrek ratap tangis. ”Saat musim bunga, air seperti menetes dari putik anggrek jenis ini,” kata Didimus. Sayang memang kami tak sempat berjumpa dengan si ratap tangis. Hari keburu sore. Matahari seperti tergelincir di balik rerimbunan hutan. Senja yang lebih cepat gelap dibanding waktu pada arloji kami.

Sebelum kembali merunut setapak, di mana kami berjam-jam yang lalu menyusup ke dalam hutan, kami menemukan pohon karimunting. Pohon yang tumbuh di sisi kanan-kiri setapak ini menyembunyikan buahnya yang kecil berwarna merah keunguan. Didimus memberi tahu, karimunting adalah makanan burung-burung kecil.

”Boleh dimakan. Dulu buat penjelajah hutan yang kemalaman,” katanya. Kami coba petik beberapa biji. Rasanya, manis-manis sepat dan meninggalkan bekas berwarna ungu di lidah. Begitulah, barangkali seluruh isi hutan, terutama si putri seksi, sangat membekas di hati kami. Dan kami berjanji akan datang bertamu kembali, di lain hari... (Putu Fajar Arcana dan Lukas Adi Prasetya) 

EditorI Made Asdhiana
SumberKOMPAS CETAK,
Komentar

Close Ads X