Danau Maninjau, Obyek Wisata yang Tergusur Keramba - Kompas.com

Danau Maninjau, Obyek Wisata yang Tergusur Keramba

Kompas.com - 10/02/2014, 18:05 WIB
KOMPAS/DODY WISNU PRIBADI Danau Maninjau.
KEGIATAN wisata, terutama kedatangan wisatawan mancanegara dan domestik ke salah satu tempat tujuan wisata alam terpenting di Sumatera Barat, Danau Maninjau, sudah 15 tahun terakhir kian surut. Surutnya pariwisata Maninjau di Kabupaten Agam yang pernah berjaya pada era 1990-an itu karena semaraknya bisnis ikan keramba jaring apung.

Warga sekitar danau mengoperasikan keramba jaring apung secara bebas, nyaris tanpa larangan dan tanpa batasan. Sebaliknya, pemilik usaha wisata, yakni perhotelan dan wisata serta pemandu wisata, meyakini, ikan mati yang dibuang peternaknya, menjadikan danau kini kehilangan daya tarik. Lalu, ditinggalkan wisatawan.

Setiap hari bisa sampai 15 ton ikan nila dari keramba jaring apung mati yang dibuang begitu saja ke permukaan danau, menimbulkan kerusakan lingkungan yang parah. ”Bangkai ikan mati dan bau amis membuat wisatawan, terlebih dari mancanegara, seperti Eropa, Jepang, dan Korea, tak mau berkunjung. Setelah datang, wisatawan langsung pergi begitu melihat ikan mengambang. Tak mau lagi bersantai di tepi danau, apalagi untuk menginap,” tutur Mairizal (50), pemilik tempat usaha restoran Water Front Zailino di Maninjau, Agam, Sumbar.

Bisnis pariwisata di Maninjau lumpuh, terutama sejak tahun 1998, diawali oleh rentetan berbagai sebab, di antaranya kendala larangan datang ke Indonesia akibat berbagai peristiwa politik di Tanah Air. ”Dimulai dari aneka kerusuhan di Indonesia sejak 1996, memuncak kerusuhan 1998, yang menimbulkan pernyataan travel warning dari pemerintah negara pengirim turis, ujungnya ke Maninjau juga,” katanya.

Gusfen Chairul, Ketua Forum Wartawan Pariwisata (FWP) Sumbar, mengungkapkan, hal itu menjadi kajian lama, tetapi belum ada tindakan dari Pemerintah Kabupaten Agam, apalagi Pemerintah Provinsi Sumbar. ”Masalahnya hanya tentang kepatuhan warga setempat pelaku usaha keramba jaring apung untuk menuruti aturan perlindungan lingkungan dan keterbatasan daya dukung alam,” katanya.

Menurut Gusfen, setidaknya sampai tahun 2011 dilaporkan ada 30.000 petak keramba jaring apung di atas permukaan Danau Maninjau. Ikan nila yang ditebar dan dipelihara di dalam keramba memerlukan makanan tambahan konstrat. Padahal, laporan penelitian ilmiah dari lingkungan budidaya perikanan menyebut daya dukung Danau Maninjau terhadap keramba hanya 2.700 petak.

Gusfen menambahkan, mengutip hasil penelitian, setidaknya 90.000 ton pakan ikan masuk ke danau oleh peternak ikan dan warga setempat. Sekitar seperlima pakan itu tidak dimakan ikan, lalu mengendap di dasar danau sebagai sedimen kimia. Artinya, ada 18.000 ton pakan ikan menumpuk di dasar danau setiap hari. Itu terjadi selama dua dekade.

Sisa pakan ikan dasar danau, menurut teorinya, menghasilkan peningkatan kadar P (fosfat) dan N (nitrogen) yang berdampak menimbulkan ledakan organisme mikro yang kemudian menguras sumber daya oksigen dan material kesuburan lainnya. Ekosistem air danau mati. Mairizal menyebutnya, ”Air danau mati.”

Ancaman yang amat lama dikenal masyarakat adalah umbalan. Ini peristiwa alam ketika ada angin atau hujan di atas danau dan membuat danau berombak. Seperti air kopi yang diaduk, ombak itu membuat sedimen pakan ikan di dasar danau itu menyebar ke permukaan. Peristiwa ini bisa menimbulkan kematian massal ikan, yang membuat seluruh permukaan danau berbau tak sedap. Tak mungkin wisatawan bisa menolerir kondisi itu.

Tanpa tindak lanjut

Mairizal, yang 15 tahun terakhir mengoperasikan restoran, mengisahkan, dulu di puncak kejayaan wisata Danau Maninjau, dekade 1990-an, ia bisa mendapat omzet Rp 15 juta sebulan, kini hanya sekitar Rp 2 juta, habis untuk membayar dua pegawai saja.

Keramba jaring apung itu berada di permukaan air di kawasan yang dekat dengan permukiman warga, pada jarak sekitar 100 meter dari tepian ke tengah danau. Hampir seluruh perairan dekat permukiman dipenuhi keramba ke sekeliling danau. Menurut Mairizal, hanya kawasan yang berhutan yang tidak terdapat keramba.

Masalahnya, Pemkab Agam tidak melakukan pengaturan dan pembatasan. Beban Danau Maninjau tak mampu menghadapi budidaya intensif dengan pakan ikan. Padahal, air yang jernih dan kaya dengan biota danau air tawar itulah yang, menurut para wisman, menjadi daya tarik utama bagi Maninjau.

”Saya sudah menerima para peneliti perikanan LIPI, tetapi tak ada tindak lanjutnya. Pemkab Agam sudah tahu persis apa yang sudah terjadi. Namun, kenyataannya sampai hari ini tidak ada penertiban atas kegiatan keramba jaring apung di atas Maninjau. Setidaknya lokalisasi usaha yang tidak merusak kenyamanan wisatawan,” katanya.

KOMPAS/DODY WISNU PRIBADI Danau Maninjau.
Bupati Agam Indra Catri membenarkan soal kondisi yang melingkupi Danau Maninjau, kerusakan lingkungan akibat pengusahaan keramba jaring apung dan matinya kegiatan wisata, yang bisa mengancam munculnya kemiskinan di sekitar danau. ”Kami sedang membahasnya dan sudah bekerja sama dengan lembaga yang peduli dengan kelestarian ekologi Maninjau di Jakarta. Jika sudah ada solusi yang lengkap, akan kami beritahukan,” ujarnya.

Tidak menghasilkan

Pemandangan di Danau Maninjau, sekitar 140 kilometer dari Kota Padang, ibu kota Sumbar, memang tetap memukau. Ini salah satu danau yang keindahannya berskala internasional, yang sudah mendunia sejak era 1970-an. Danau dari kaldera gunung api purba ini setiap saat bisa mengeluarkan asap belerang yang bisa membunuh fauna danau air tawar di Maninjau.

Namun, kini, nyaris tidak tampak ada kunjungan wisatawan luar negeri apalagi dalam negeri. Tidak ada kendaraan turis berupa bus atau bahkan kendaraan pribadi. Yang tampak hanya warga kampung duduk menunggui keramba. Kondisi kehidupan warga masyarakat secara fisik tidak tampak makmur oleh kegiatan beternak ikan.

Sabarudin (40), petani yang juga warga setempat, menjelaskan, beternak ikan keramba jaring apung tak bisa memberikan penghasilan cukup bagi rumah tangga warga karena warga masih mempertahankan ekonomi dari bercocok tanam padi di sawah.

Mairizal menyarankan, Pemkab Agam tak perlu sampai melarang, tetapi bisa melokalisasi kegiatan ternak keramba jaring apung. Lokasi danau cukup luas. Keramba jaring apung bisa dilokalisasi di tepian Maninjau dekat hutan, jauh dari wisatawan.

Danau Maninjau disebut sebagai danau kesebelas terluas di Indonesia dan kedua terluas di Sumatera Barat setelah Danau Singkarak. Luasnya mencapai luas 129 km persegi, berada di dua wilayah, Kabupaten Solok dan Agam. (DODY WISNU PRIBADI)

EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM