Jumat, 25 Juli 2014

Travel / Travel Story

Menanti Senja di Kaimana

Kamis, 20 Maret 2014 | 09:17 WIB
KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM Senja di pantai Pulau Triton, Kabupaten Kaimana, Papua Barat, beberapa waktu lalu. Pulau ini merupakan bagian kawasan konservasi laut Kabupaten Kaimana yang kaya keanekaragaman hayati bawah laut dengan jajaran bukit karst berhias lukisan dinding kuno di sekitarnya.
SELAMAT datang di Kota Senja Indah Kaimana. Seuntai kalimat di baliho raksasa itu menyambut pengunjung di Kabupaten Kaimana, Papua Barat. ”Kota Senja” menyimpan berbagai pesona, mulai dari tebing berhias lukisan purba hingga keragaman hayati bawah laut.

Semburat jingga menghiasi langit biru saat perahu cepat yang membawa Tim Survei Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan menepi di Pantai Kaimana, akhir Februari lalu. Di ufuk barat, mentari meluncur perlahan lalu tenggelam di balik horizon di laut lepas.

Senja indah di Kaimana seperti inilah yang pernah memesona Surni Warkiman sehingga menggubah lagu ”Senja di Kaimana” puluhan tahun silam. Sejak itu, ”Kota Senja” pun disematkan pada kota di pesisir Papua Barat itu.

Lukisan purba

Kaimana terletak di bagian ”leher burung” Pulau Papua. Lokasinya yang berada di sisi barat menghadap Laut Arafuru menyajikan pemandangan senja laut nan elok. Senja Kaimana bisa dinikmati di hampir sepanjang jalan utama kota yang bersisian dengan pantai. Namun, bukan hanya senja yang menjadi pesona Kaimana, menyusuri laut Kaimana dengan pulaunya yang berjumlah 400, pantai molek berpasir putih, hingga peninggalan budaya dari berbagai zaman juga bisa ditemui.

Jajaran bukit karst yang dihiasi puluhan lukisan dinding kuno menyembul dari lautan sekitar Maimai, Teluk Triton, hingga Pulau Namatota. Lukisan berwarna merah itu menggambarkan berbagai bentuk, mulai dari manusia, telapak tangan, ikan, sejenis kadal, bentuk matahari, hingga rahim perempuan. Dinding tebing karst itu ibarat galeri alam yang mengabadikan lukisan dari masa yang telah lama berlalu itu. Sebagian besar lukisan masih dalam kondisi sangat baik dan jelas.

Sulit membayangkan bagaimana lukisan itu dulu ditorehkan. Letaknya berada di tebing terjal, 5-25 meter di atas permukaan laut, yang sulit dijangkau. Beberapa tersembunyi di ceruk berbatu-batu.

Warga setempat tidak mengetahui makna dan asal-usul lukisan itu. Mereka hanya tahu lukisan itu dibuat leluhur ribuan tahun lampau dengan maksud tertentu. Salah satunya lukisan, dua ikan, satu besar dan satu kecil, terletak di perairan yang kerap didatangi paus, lumba-lumba, dan cumi-cumi besar.

Tajudin (26), warga Desa Kayu Merah, yang juga petugas penyuluh lapangan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kaimana, mengatakan, daerah itu adalah jalur migrasi paus byrde dan lumba-lumba. ”Kami hanya meyakini lukisan itu berhubungan dengan makhluk laut, tetapi tidak tahu pasti apa maksudnya,” kata dia.

Meskipun tidak paham maknanya, warga sekitar menghormati torehan itu sebagai peninggalan leluhur mereka. Keyakinan adat melarang mereka berbuat atau bertutur kata tidak sopan di sekitarnya. Keyakinan adat ini turut mengawetkan lukisan itu.

Berdasarkan laporan tim tinjauan lukisan dinding Maimai, lukisan dinding merupakan ciri peradaban zaman epipaleolitik atau zaman batu tua akhir yang berlangsung 12.000-5.000 tahun Sebelum Masehi dan ditemukan di banyak daerah di Asia Tenggara. Selain lukisan kuno, masyarakat di pulau kecil di Kaimana juga menyimpan sejarah kerajaan dari abad ke-18 hingga zaman penjajahan Jepang. Di Pulau Namatota, misalnya, warga merawat kompleks makam dan masjid Raja Namatota. Di Pulau Adi, sekitar tiga jam naik perahu cepat dari Kota Kaimana, terdapat kompleks makam dan masjid Raja Kumisi.

Hingga sekarang, kerajaan itu masih berdiri. Para raja dan raja muda berperan sebagai penjaga adat di tengah masyarakat pesisir Kaimana dan Fakfak.

”Para raja dan raja muda itu berperan mewakili masyarakat terkait hak ulayat, misalnya dengan perusahaan atau pemerintah daerah,” kata Kepala Desa Kayu Merah Mohammad Jen Karafey (38).

Buka sasi

Buka sasi menjadi tradisi masyarakat pesisir Kaimana yang menarik diikuti. Buka sasi artinya membuka laut untuk diambil hasilnya. Peristiwa ini mirip panen raya saat warga berkumpul dan bergembira.

Diawali ritual melepas pinang dan sirih ke laut, warga yang diundang beramai-ramai ke pantai untuk memanen hasil laut berupa teripang, lola (kerang), dan kerang batulaga. Hasil laut yang diatur dalam sasi ini memiliki harga sangat tinggi.

Buka sasi adalah bagian dari kearifan lokal ”sasi nggama”. Artinya, hasil laut tertentu dapat diambil saat tertentu saja. Adat ini bertujuan menjaga kelestarian alam. Adapun ikan bebas diambil sepanjang tahun, kecuali di zona tabungan ikan.

Di satu pantai, buka sasi hanya berlangsung sekitar dua pekan setiap beberapa bulan sekali. Beberapa warga datang dari desa yang jauh. Mereka rela tidur di tenda selama buka sasi. Bukan hanya pria yang menyelam, kaum ibu, mulai dari usia muda hingga usia senja, pun ikut menyelam tanpa alat sama sekali.

Sepanjang perjalanan, kekayaan alam Kaimana yang masih lestari mampu menjauhkan pikiran yang penat. Burung tropis, seperti elang dan rangkong, melintas tenang di antara pepohonan hijau.

Di laut, gerombolan burung pemakan ikan yang tengah berburu begitu mudah ditemui. Sesekali terlihat kibasan sirip atau hidung lumba-lumba. Juga ikan terbang kecil yang berlompatan seolah ingin adu cepat dengan perahu. Jika beruntung, paus byrde muncul dari dalam laut.

Berkunjung ke Kaimana perlu persiapan matang. Fasilitas di pulau-pulau di ujung timur Nusantara itu masih minim. (Irene Sarwindaningrum)
Editor : I Made Asdhiana
Sumber: KOMPAS CETAK