Selasa, 28 Maret 2017

Travel

TAG
  • #Bromo
  • #Ridho Rhoma
  • #Pramuka
  • #Adinda Thomas

Kisah Si Molek dan Penari Ronggeng di "Batavia Kecil"

KOMPAS.COM/FIRMANSYAH Jembatan yang harus dilintasi Si Molek di Bengkulu.
HARI menunjukkan pukul 15.30 WIB saat Kompas Travel melihat jam dinding di sebuah warung mi di Desa Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Warung mi tersebut merupakan gerbang menuju sebuah desa yang jangan dianggap remeh perannya dalam proses kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Desa Lebong Tandai merupakan sebuah desa terisolasi di Bengkulu. Padahal dari kampung inilah emas berlimpah ruah disumbangkan sebagai modal berjuang merebut kemerdekaan begitu juga dengan replika api di puncak Monas, Jakarta. Selanjutnya dari emas kampung ini juga Tentara Nasional Indonesia (TNI) mulai memiliki baju seragam yang gagah seperti saat ini.

Belanda saat masih menjarah emas di wilayah ini sekitar tahun 1920-an menjadikan kampung tersebut sebuah kawasan modern, eksotis, canggih dan penuh dengan gemerlap dunia malam. Tak salah bila para meneer dan noni-noni Belanda menjuluki Lebong Tandai sebagai "Batavia Kecil".

“Masa dahulu desa ini sungguh modern. Kawasan ini telah memiliki bioskop, hotel, lapangan tenis, gedung teater, pasar dan lainnya layaknya kehidupan modern. Kawasan ini sangat padat saat emas masih menjadi primadona. Namun sekarang lihatlah kampung ini terisolasi,” kenang Pak Gober, salah seorang tetua kampung beberapa waktu lalu.

Tak lengkap kalau mengunjungi kawasan ini tanpa menikmati satu-satunya transportasi yang bisa digunakan menuju "Batavia Kecil" ini. Satu-satunya moda transportasi menuju kampung ini adalah menggunakan Motor Lori Ekspres atau Molek, demikian warga setempat menjulukinya. Sebuah lori yang didesain sedemikian rupa dilengkapi mesin kapal. Molek berjalan di atas rel warisan Belanda saat menjarah emas di lokasi tersebut. Molek berukuran sekitar 2,5 meter x 0,5 meter dengan kapasitas penumpang maksimal 12 orang. Molek dilengkapi setir layaknya mobil dan dikendalikan seorang masinis. Kecepatan maksimal hanya 50 kilometer per jam.

KOMPAS.COM/FIRMANSYAH Warga menunggu molek di Tebing Ronggeng saat malam hari, akibat rel molek yang putus terpaksa perjalanan molek harus estafet dengan molek berikutnya.
Dari Desa Napal Putih, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara, memakan waktu sekitar dua jam dengan panjang lintasan sekitar 30 kilometer. Itu jika kondisi normal. Berangkat dari Kota Bengkulu menuju Desa Lebong Tandai dibutuhkan waktu sekitar enam jam.

Saat tiba di Desa Napal Putih, Kompas Travel sedikit terlambat karena Molek telah berangkat terlebih dahulu. Setelah menunggu hampir dua jam dengan bantuan warga setempat barulah ada Molek lain yang bersedia mengantar ke Desa Lebong Tandai. Perjalanan menggunakan Molek pun dimulai. Namun sedikit sial saat akan berangkat, Molek berdinding papan rapuh itu mengalami kerusakan pada prodo kopling. Efriadi, masinis Molek terlihat berpeluh mengganti prodo yang baru.

Setelah melakukan perbaikan sekitar 30 menit, perjalanan dilanjutkan kembali. Hamparan perkebunan rakyat menyambut Molek kecil yang rapuh yang berjalan di atas rel yang mengkhawatirkan itu. Tentu saja suara keras mesin Molek membuat para penumpang tak dapat berkomunikasi dengan baik. Miris memang melihat kondisi tersebut bagaimana ribuan jiwa warga Lebong Tandai harus bertaruh nyawa keluar-masuk kampung mereka mengingat kondisi rel yang jelek serta jurang menganga di bawah lintasan Molek itu.

Sekali waktu jalur Molek melewati beberapa rel yang sambungannya tak rapi. Kondisi ini tentu saja mengakibatkan empasan begitu kuat bagi Si Molek. Penumpang yang belum terbiasa menjerit ketakutan. Sekali waktu pula lintasan itu berada tepat tak kurang dari satu meter dari bibir jurang yang menganga dengan kedalaman mencapai puluhan meter.

Belum lagi saat molek harus melintasi sebuah jembatan yang tak lagi aman dilalui sementara di bawahnya terdapat sungai yang sungguh dalam. Selain itu tak jarang perjalanan harus dihentikan karena rel molek tertimbun longsor dari tebing yang landai di samping lintasan.

Sang masinis, Efriadi tampak begitu mengenal setiap lekuk lintasan Molek sehingga ia sempat bersiul-siul sambil mengontrol arah molek. Hujan sempat pula menemani perjalanan kami. Ketika jalur sedikit mendaki maka dengan cekatan Sang Masinis menaburkan pasir ke besi rel agar laju roda Molek tak licin.

KOMPAS.COM/FIRMANSYAH Rel Molek yang rusak di Bengkulu.
Matahari mulai terbenam, namun perjalanan masih panjang. Hutan belantara menyelimuti kami dan Molek kecil itu masih menari lincah dengan empat roda besi di atas rel warisan zaman kolonial itu. Bunyi hewan hutan malam mulai muncul. Tampak pula rapatnya hutan membentuk semacam terowongan karena dilalui Molek itu. Sungguh sensasi luar biasa.

Sekitar pukul 20.00 WIB perjalanan kami terhenti karena rel Molek terputus gara-gara longsor. Rel terputus sekitar 50 meter. Kondisi makin diperparah oleh jarak antara ujung rel yang terputus tersebut berada di atas puncak bukit satu dengan bukit lain. Itulah akhir perjalanan kami pada Molek pertama. Seluruh penumpang Molek menuruni lembah untuk mencapai bukit di seberang tempat di mana lintasan rel lain berada. Sementara penumpang yang membawa barang akan dibantu mengantarkan barang tersebut menggunakan kawat menghubungkan kedua bukit yang terbelah akibat longsor.

“Sudah tiga tahun rel ini putus tapi tak pernah dibangun. Ini penderitaan kami selama ini,” kata Robet, salah seorang warga setempat yang juga penumpang Molek.

Celakanya, saat tiba di lintasan rel berikutnya tak ada Molek yang siap berangkat menuju Desa Lebong Tandai. Lokasi tersebut dinamakan dengan Tebing Ronggeng. Ada cerita sepintas mengapa kawasan tersebut dinamakan Tebing Ronggeng. Konon, di tebing itulah tidak kurang 23 penari ronggeng dan beberapa para pekerja paksa rel dibunuh oleh Belanda usai mereka berpesta di Lebong Tandai.

Saat tiba di Tebing Ronggeng, ternyata tidak kurang dari 20 orang juga menunggu Molek sama seperti kami. Wajah mereka kuyu, kedinginan dan lapar, apalagi hujan deras mengguyur di tengah hutan tersebut. Sangat menderita jika kita tak membawa bekal seperti nasi pada saat kondisi seperti itu.

Di lokasi ini juga sinyal ponsel tak berfungsi. Hanya sinyal satu provider yang berfungsi, itu pun di beberapa tempat saja. Berkat kontak menggunakan satu sinyal yang "naik-turun" itulah kontak dapat dilakukan dengan pemilik Molek di Desa Lebong Tandai. Jarak dari Tebing Ronggeng menuju Desa Lebong Tandai berkisar 15 kilometer.

Barulah pukul 23.00 WIB molek kiriman dari Desa Lebong Tandai tiba, para warga tampak berseri. Namun Molek yang tiba hanya satu sementara beredar kabar jika ada dua molek yang dikirim. Kondisi ini berbahaya jika satu Molek berjalan ke desa jika tak ada koordinasi maka akan terjadi kecelakaan di tengah rel alias bertabrakan. Tak ada pilihan lain kecuali menunggu lagi.

KOMPAS.COM/FIRMANSYAH Kondisi lintasan rel Molek yang rusak di Bengkulu.
Selang beberapa jam kemudian barulah satu Molek terakhir tiba dan kami pun berangkat secara berbarengan. Perjalanan dilanjutkan. Hutan lebat masih ditemui, suasana gelap. Tak ada pemandangan yang bisa kami lihat kecuali bibir jurang yang curam, menganga dan dinding tanah setinggi puluhan meter.

Menaiki Molek jangan pernah mengeluarkan kepala atau tangan karena jika itu dilakukan maka ranting pohon atau dinding tanah akan menghajar karena jaraknya kadang hanya beberapa sentimeter dari pinggiran Molek.

Akhirnya pukul 00.05 WIB kami tiba di Desa Lebong Tandai, sebuah kampung yang tak pernah gelap karena listriknya menggunakan tenaga air yang dibuat secara swadaya oleh warga. "Inilah kampung kami, jauh terpencil. Menuju ke sini membutuhkan nyali dan perjuangan panjang tapi yakinlah anda pasti akan terpuaskan oleh sejarah dan wisata yang dimiliki desa ini," kata Robet, saat tiba di Desa Lebong Tandai.
Penulis: Kontributor Bengkulu, Firmansyah
Editor : I Made Asdhiana