Minggu, 26 Maret 2017

Travel

TAG
  • #Bromo
  • #Ridho Rhoma
  • #Pramuka
  • #Adinda Thomas

Seabad Pasang Surut di Pintu Gerbang Kota Batavia

KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN Penumpang menunggu kereta di Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (21/10/2014). Stasiun yang dibangun pada 1914 pada masa Gubernur Jenderal AFW Idenburg itu awalnya untuk mengakomodasi kebutuhan perdagangan dan wisatawan Eropa di Batavia.
TAHUN ini, usianya genap 100 tahun. Namun, wajahnya tak banyak berubah, struktur bangunannya masih terlihat kokoh. Inilah Stasiun Tanjung Priok, saksi bisu pasang surut Pelabuhan Tanjung Priok, pintu gerbang kota Batavia.

Suara peluit terdengar melengking dari ujung peron Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (21/10/2014) siang. Dari pengeras suara, petugas meminta penumpang bergegas masuk ke gerbong Kereta Api Bengawan yang telah siap berangkat.

”(Perjalanan) ini terakhir saya dari (Stasiun) Tanjung Priok,” kata seorang penumpang KA Bengawan tujuan Purwosari, Jawa Tengah. Terhitung mulai 1 November ini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana menghentikan perjalanan KA Bengawan dari stasiun yang dibangun di masa Gubernur Jenderal AFW Idenburg pada tahun 1914 itu.

Dua kereta penumpang lainnya, yakni KA Brantas dan KA Kertajaya, juga dialihkan ke Stasiun Pasar Senen karena alasan efisiensi operasional KA. Stasiun Tanjung Priok selanjutnya akan dipakai untuk mendukung Stasiun Sungai Lagoa dan Stasiun Pasoso untuk pengangkutan barang.

Perubahan itu menandai fase baru di stasiun seluas 3.768 meter persegi dan berdiri di atas lahan sekitar 4,7 hektar itu. Sebelumnya, pasang surut operasi terjadi di Stasiun Tanjung Priok mengikuti gerak perusahaan dan situasi ekonomi. Pada Januari 2002, misalnya, KA ekonomi tujuan Surabaya, Semarang, dan Solo dihentikan operasinya.

Wisatawan

Stasiun Tanjung Priok diresmikan penggunaannya saat ulang tahun ke-50 Staats Spoorwegen (SS), 6 April 1925. Waktunya bersamaan dengan pembukaan jalur Tanjung Priuk-Beos (Jakarta Kota) yang dilayani kereta berlokomotif listrik seri ESS 3200 dan jaringan listrik aliran atas.

Selain kepentingan perdagangan, sejalan dengan berkembangnya Pelabuhan Tanjung Priok yang menggantikan Pelabuhan Sunda Kelapa, Stasiun Tanjung Priok dibangun untuk mengakomodasi wisatawan asal Eropa. Oleh karena itu, CW Koch, insinyur utama dari Staats Spoorwegen (perusahaan kereta api Hindia Belanda), melengkapi Stasiun Tanjung Priok dengan hotel, restoran, dan ruang dansa.

Tak sulit mendapatkan jejak itu. Kamar-kamar penginapan di lantai dua stasiun itu kini dipakai oleh awak kereta, sementara ruang dansa menjadi ruang lobi utama. Dapur dua lantai dengan lift khusus untuk makanan, meja bar, dan gudang logistik masih utuh seperti dulu. ”Kecuali bagian atap yang sebagian telah diganti, termasuk keramik lantai peron dan ruang-ruang kantor, kondisi bangunan umumnya masih seperti dulu,” kata Kepala Stasiun Tanjung Priok M Ridwan Subarkah.

Stasiun ini memiliki delapan jalur, enam jalur di antaranya berada di peron. Bangunannya bertumpu pada ratusan tiang pancang yang memiliki atap penutup beton dan seng tebal. Atap peron berupa struktur baja melengkung yang menaungi seluruh jalur peron.

Selain struktur baja, ornamen-ornamen stasiun ini terbilang megah. Ada kaca patri, ornamen profil keramik yang menghias dinding stasiun, kolom besar pada beranda utama, dan cahaya dari kaca-kaca besar di ruang lobi menambah kesan megah itu.

Stasiun ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan menjadi salah satu obyek wisata sejarah. Oleh karena itu, pemugaran dan perbaikannya mempertahankan bentuk aslinya, termasuk bentuk gedung pengatur perjalanan kereta api atau rumah sinyal di ujung peron.

Ruang bawah tanah

Jika berkunjung ke stasiun ini, sempatkan untuk melihat ruang bawah tanah, tepat di bawah restoran. Ada tangga memutar yang terhubung ke bawah tanah dan lantai dua. Ruang ini bercabang, remang-remang, dan sebagian tergenang.

”Selain gudang logistik, konon ada lorong yang terhubung ke lokasi lain. Namun, sejak lama telah ditutup untuk umum,” kata Suparno (59), pegawai senior PT KAI yang bertugas di Stasiun Tanjung Priok sejak 1980.

Menurut Suparno, kondisi stasiun terus berubah mengikuti kebutuhan. Dulu pernah dipakai sebagai penghubung sentra rempah-rempah di Pulau Jawa ke Eropa melalui pelabuhan, kini segera berganti dengan kereta peti kemas yang mengangkut hasil industri, bahan pokok, dan produk pabrikan lain. (Mukhamad Kurniawan)
Editor : I Made Asdhiana
Sumber: KOMPAS CETAK,