Mengenal Ombak Bono: Mitos di Antara Tujuh Hantu Lama dan 1.000 Hantu Baru Halaman 1 - Kompas.com

Mengenal Ombak Bono: Mitos di Antara Tujuh Hantu Lama dan 1.000 Hantu Baru

Syahnan Rangkuti
Kompas.com - 14/03/2016, 20:42 WIB
KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI Pemuda lokal asal Desa Teluk Meranti, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau, bersenang-senang menikmati ombak bono. Mereka tidak lagi takut menghadapi bono yang dahulu disebut sebagai tujuh hantu.

TELUK MERANTI, KOMPAS.com – Ombak besar di laut, itu pemandangan biasa. Ombak besar di sungai, itu fenomena alam luar biasa.

Sungai umumnya memiliki riak atau gelombang kecil, namun di hilir Sungai Kampar, wilayah semenanjung Kampar, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau, ombak sungai air tawar itu dapat mencapai ketinggian lima meter.

Dahulu kala pada era nenek moyang suku yang bermukim di tepian semenanjung Kampar, gelombang yang disebut dengan “bono” itu merupakan pemandangan mengerikan dan ditakuti.

Maklum saat itu belum ada penjelasan ilmiah sementara berbagai cerita seram dan bencana kerap dikisahkan secara turun temurun oleh orang-orang tua kepada anak dan cucu.

Mitos yang bertahan sampai kini adalah, ombak bono digambarkan sebagai tujuh hantu. Hantu itu berupa ombak tujuh lapis. Ombak besar berada di depan yang diikuti oleh enam ombak kecil di belakangnya.

“Sewaktu saya kecil, kami di sini takut terhadap bono. Orangtua saya menceritakan di setiap bono selalu ada hantu putih perempuan yang berdiri di atasnya. Apalagi kalau bono malam hari, sering muncul penampakan aneh,” kata Jantan (40), warga Desa Teluk Meranti dalam perbincangan dengan KompasTravel akhir pekan ini.

Menurut Jantan, semasa dia kecil ombak bono dapat mencapai ketinggian enam sampai tujuh meter terutama pada bulan-bulan basah di akhir tahun.

Baca: Ombak Bono, Pengalaman Dikejar Tujuh Hantu Itu Takkan Terlupakan...

Sekarang ini ketinggian bono berkurang seiring dibangunnya waduk Pembangkit Listrik Koto Panjang di hulu sungai sejauh 300 kilometer dari semenanjung Kampar, pada tahun 1997.

Kisah bencana yang terjadi akibat diterjang ombak bono memang cukup sering, karena aliran Sungai Kampar masih dipakai sebagai sarana transportasi warga yang bermukim di sepanjang sungai.

Di ujung Sungai Kampar terdapat beberapa pulau kecil seperti Pulau Muda, Pulau Serapung dan yang terbesar Pulau Mendol yang memiliki pemukiman penduduk. Perahu yang tidak kuat saat bono datang sangat gampang dijungkirbalikkan ombak besar yang bergulung.

Dulu, hampir setiap tahun hantu bono meminta korban jiwa.

Bencana terbesar terjadi pada 13 Maret 2005. Sebanyak 13 orang meninggal dunia saat Kapal Motor Tuakal Ekspres yang membawa 74 penumpang terbalik dihantam bono setinggi lima meter.

Sejak tragedi itu, keangkeran bono semakin ditakuti warga. Namun belakangan, kisah seram itu mulai berganti wujud.

Menurut Yul Akhyar, Kepala Seksi Pemasaran Wisata Dinas Pariwisata Riau, pada tahun 2009, bono mulai dieksplorasi oleh Dinas Pariwisata Kampar.

Tahun 2010 bono mencuat di kalangan surfer tatkala perusahaan olahraga Rip Curl dan perusahaan rokok melakukan ekspedisi selancar bono.

Foto dan video bono semakin menarik perhatian. Pada 2011, Kementerian Pariwisata mulai ikut mempromosikan bono sebagai salah satu objek wisata khusus di Indonesia.

Berikutnya: Pertemuan arus pasang

Page:
PenulisSyahnan Rangkuti
EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM