Wisatawan Bromo Bisa Stres jika Tarif Kemahalan - Kompas.com

Wisatawan Bromo Bisa Stres jika Tarif Kemahalan

Kontributor Probolinggo, Ahmad Faisol
Kompas.com - 20/03/2016, 17:35 WIB
KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Warga suku Tengger di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Jumat (18/12/2015), seusai melaksanakan ritual Jumat manis dengan meletakkan sesajen di sekitar kawah Gunung Bromo yang statusnya kini Siaga. Walau ada larangan beraktivitas, terkait status kegunungapian, dalam radius 2,5 kilometer dari Bromo, pihak keamanan memberi toleransi kepada warga Tengger melakukan ritual itu.
PROBOLINGGO, KOMPAS.com - Wisatawan Bromo bisa stres jika dikerjain oleh pelaku usaha dengan menjual barang dan jasa dengan harga tinggi.

Oleh karena itu para pelaku usaha wisata Bromo di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, diminta tidak mematok harga tinggi kepada wisatawan, khususnya penjual barang dan jasa.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo Tatok KM mengatakan, wisatawan ke Bromo tujuannya untuk berlibur dan refreshing. 

"Pelaku usaha seperti pemilik jip dan kuda, jangan memasang tarif berlebihan. Kita sudah mengeluarkan peraturan tarif angkutan jip dan kuda. Demikian pula pelaku usaha lainnya, seperti penjual cinderamata dan perhotelan, kami minta pasang harga yang wajar agar wisatawan kembali ke Bromo. Jika dikerjain, mereka bukan senang, tapi stres sepulang dari Bromo," katanya, Minggu (20/3/2016).

Menurut Tatok, pihaknya menemukan oknum pelaku usaha yang menetapkan tarif di luar kewajaran. Hal ini cukup mengganggu kenyamanan wisatawan, khususnya turis mancanegara.

Oleh karena itu Tatok meminta kesadaran pelaku usaha agar ikut aturan main. Pasalnya, ada oknum penyedia jasa mematok tarif Rp 1 juta, padahal mestinya Rp 400.000.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan Kementerian Pariwisata Wisnu Bawa Tarunajaya menegaskan, tarif terlalu mahal di atas ketentuan bisa merusak citra Bromo selaku destinasi wisata andalan Indonesia.

Demi jangka panjang kemajuan Bromo, Pelaku Usaha harus wajar dalam menentukan tarif.

"Benar, wisatawan bukannya senang sepulang dari Bromo, mereka bisa stres kalau ada oknum berulah. Kami minta komitmen bersama untuk memajukan obyek wisata Bromo. Wisatawan harus kita layani dengan baik, termasuk dengan tarif wajar. Jika mereka kecewa mereka akan menceritakan pada wisatawan lainnya," jelas Wisnu kepada wartawan.

Wisnu menambahkan, kementerian sengaja melatih pelaku usaha agar memberikan pelayanan prima kepada wisatawan. Jika pelayanannya bagus, wisatawan akan semakin banyak berkunjung.

"Pengusaha hotel, homestay, kuliner dan angkutan, harus melayani wisatawan. Pelaku Usaha harus ramah, senyum dan memperlakukan wisatawan sebaik mungkin," kata Wisnu.

PenulisKontributor Probolinggo, Ahmad Faisol
EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM