Kemenpar: "Indonesian Weekend" Cara Tak Biasa Promosikan Wisata Indonesia - Kompas.com

Kemenpar: "Indonesian Weekend" Cara Tak Biasa Promosikan Wisata Indonesia

Ervan Hardoko
Kompas.com - 04/06/2016, 19:26 WIB
Ervan Hardoko/Kompas.com Chef Degan sedang bersiap untuk memulai demo masak di ajang Indonesian Weekend, London, belum lama ini.

LONDON, KOMPAS.com - Di bandara internasional Heathrow, London awal pekan lalu, chef Degan Septoaji, terlihat bersama rombongan pengisi ajang "Indonesian Weekend" tengah bersiap untuk kembali ke tanah air.

Dalam ajang yang digelar selama akhir pekan pada 28-29 Mei lalu itu, Chef Degan menjadi salah satu daya tarik warga London dengan demo memasaknya.

Chef Degan, dalam acara itu, membagi salah satu resep makanan khas Indonesia yaitu rendang. Para pengunjung "Indonesian Weekend", terutama warga London, saat itu terlihat sangat antusias mendengar penjelasan Degan soal cara cepat menyajikan rendang.

Antusiasme warga London dalam menyaksikan demo masak rendang itu, yang tentu diselingi dengan acara "icip-icip" itu,membuktikan kuliner Indonesia juga sangat diminati warga London.

"Demo masaknya cukup sukses. Peserta banyak yang bertanya soal takaran, jenis bumbu dan sebagainya," kata Degan kepadaKompas.com.

"Semua yang saya tampilkan memang ditujukan agar mereka bisa mencoba sendiri," tambah chef yang sejak awal berniat mempromosikan kuliner Nusantara itu.

Endi Agus Riyanto, yang memperkenalkan gasing kepada warga Inggris lewat ajang "Indonesian Weekend" menilai acara ini cukup sukses menjadi ajang promosi.

"Pengunjung datang dan bertanya tentang berbagai jenis gasing, sehingga saya berharap mereka tak hanya tertarik dengan gasing tapi juga tertarik untuk datang ke Indonesia," kata Agus.

Sementara itu Asisten Deputi Pemasaran Internasional Kementerian Pariwisata, Nia Niscaya menilai ajang "Indonesian Weekend" cukup sukses.

"Sebagai sebuah ajang yang baru digelar pertama kali, cukup bagus. Jadi untuk mendapatkan hasil yang luar biasa harus menggunakan cara yang tak biasa," kata Nia.

Kementerian Pariwisata, lanjut Nia, setiap tahun mempromosikan Indonesia hanya lewat ajang World Travel Market (WTM) di London.

Dalam acara itu, tambah Nia, kementerian membawa perwakilan dari hotel, agen perjalanan dan lain sebagainya untuk bertemu dengan para buyers.

"Ini (Indonesian Weekend) adalah cara mempromosikan Indonesia langsung kepadaend users atau konsumen. Ini tidak mudah dan tidak biasa," ujar Nia.

Selain itu, kata Nia, komunitas Bangga Indonesia yang menjadi penggagas acara ini juga dianggap sukses membentuk Indonesian incorporated, yaitu membuat berbagai instansi pemerintah di Indonesia tampil bersama dalam satu ajang yang sama.

Nia menilai, ajang Indonesian Weekend yang digelar di Potters Field, London itu cukup mampu menarik minat warga London.

"Dengan banyak yang datang sudah pertanda ada ketertarikan. Dan setiap pengunjung yang datang mereka selalu bertanya soal berbagai destinasi wisata di Indonesia," papar Nia yang ditemui di stan Wonderful Indonesia itu.

Berbagai pertanyaan tentang Indonesia yang diajukan para pengunjung, menurut Nia, berarti Indonesia sudah ada di dalam daftar rencana perjalanan mereka.

"Karakter pasar di sini memang bukan yang langsung booking, paling tidak perlu waktu enam bulan. Setidaknya, ada nama Indonesia di memori mereka untuksaat ini sudah cukup," lanjut Nia.

Menurut data Kementerian Pariwisata, pada 2015 dikunjungi 230.000 orang wisatawan asal Inggris. Angka ini juga merupakan yang tertinggi dari seluruh wisatawan asal Uni Eropa.

Tahun ini, Kemenpar menargetkan untuk menjaring sedikitnya 300.000 wisatawan Inggris. Dan, agaknya, niat itu bisa terlaksana karena sejak Januari jumlah wisatawan Inggris ke Indonesia menunjukkan tren meningkat.

"Meski jumlah wisatawan asal Eropa, termasuk Inggris, masih terbilang kecil dibanding dari Singapura atau China, namun masa tinggal dan belanja mereka jauh lebih tinggi," kata Nia.

Para wisatawan Eropa, lanjut Nia, rata-rata menghabiskan waktu selama dua pekan di Indonesia dan menghabiskan uang sedikitnya 2.500 dolar AS atau hampir Rp 34 juta.

PenulisErvan Hardoko
EditorErvan Hardoko
Komentar

Close Ads X