Menikmati Sotong Pangkong, Kuliner Khas Ramadhan di Pontianak - Kompas.com

Menikmati Sotong Pangkong, Kuliner Khas Ramadhan di Pontianak

Kontributor Pontianak, Yohanes Kurnia Irawan
Kompas.com - 17/06/2016, 15:17 WIB
KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWAN Sotong yang ditata sedemikian rupa yang ditawarkan kepada pembeli sesuai dengan harga dan ukuran masing-masing.

PONTIANAK, KOMPAS.com – Hari mulai gelap ketika suara azan maghrib pertanda waktu berbuka puasa mulai berkumandang. Suasana di pinggiran salah satu ruas jalan di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, saat itu pun terlihat dipadati lapak pedagang sotong pangkong.

Ya, Sotong Pangkong. Kuliner berbahan dasar sotong (cumi) yang dikeringkan ini merupakan penganan khas saat bulan puasa tiba. Salah satu lokasi yang paling mudah untuk mendapatkan kuliner ini adalah di sepanjang Jalan Merdeka Barat.

Sejak sore hari, para pedagang musiman ini mulai mengemasi dan mempersiapkan tempat mereka berjualan. Ada yang menata kursi dan meja, ada pula yang menggelar tikar lesehan untuk alas duduk bagi pelanggan masing-masing.

KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN Sotong yang dipukul (pangkong) menggunakan palu supaya lebih empuk saat dikunyah.
Masing-masing mereka menata sotong kering yang dijual itu digantung dan berbaris rapi di etalase seadanya. Menjelang pukul delapan malam, satu per satu lapak pedagang mulai terisi.

Silih berganti mereka berdatangan bersama teman, maupun keluarga, menikmati santapan khas ini.

Sembari menanti pesanan datang, terdengar suara pukulan bertalu-talu dari sotong yang dipangkong (pukul). Itu merupakan cara menyajikan sotong pangkong sebelum disajikan kepada pelanggan.

KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN Sotong dipanggang terlebih dahulu selama beberapa saat sebelum dipukul-pukul hingga pipih.
Pedagang biasanya akan terlebih dahulu menanyakan sotong mana yang hendak dinikmati sesuai dengan harga dan ukurannya yang bervariasi. Untuk ukuran sedang, sotong pangkong dihargai Rp 10.000 hingga yang paling besar di atas Rp 40.000.

Setelah menentukan pilihan, kemudian sotong itu dipanggang di atas perapian beberapa saat. Selanjutnya, sotong dipangkong (dipukul) hingga pipih dan terlihat serat-serat dagingnya, supaya lebih mudah untuk dikunyah.

Masing-masing pedagang memiliki racikan sambal sebagai pelengkap. Biasanya mereka menyiapkan dua pilihan sambal, yaitu sambal kacang yang terasa asam manis dan campuran udang ebi dihaluskan yang dicampur asam cuka dan terasa pedas.

KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN Sotong Pangkong khas Pontianak siap santap yang sudah dipangkong (dipukul) hingga pipih dan terlihat serat dagingnya.
Perpaduan rasa asam, manis, dan serat daging yang gurih berpadu jika sotong itu dicelupkan ke dalam sambal kacang. Sedangkan sensasi bagi pecinta makanan pedas akan membikin ketagihan jika dicelupkan ke dalam sambal yang pedas.

Penikmat sotong pangkong ini berasal dari berbagai macam kalangan, mulai dari kelas bawah hingga atas, karena harganya yang relatif terjangkau.

Para pedagang ini biasanya buka hingga tengah malam tergantung cuaca karena berada di tempat terbuka dengan peneduh seadanya.

Khusus di sepanjang Jalan Merdeka Barat, keberadaan pedagang sotong pangkong sudah ada sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu tak lebih dari sepuluh lapak milik warga sekitar yang merintis usaha tersebut.

KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN Salah satu pedagang sotong pangkong yang ada di Jalan Merdeka Barat, Pontianak, Kalimantan Barat.
Sejak tiga hingga lima tahun terakhir, pedagang musiman ini mulai bermunculan bak jamur di musim penghujan. Jumlah mereka saat ini lebih dari 50 lapak, seiring semakin populernya sotong pangkong di kalangan pecinta kuliner.

Penasaran dengan cita rasanya? Jangan lewatkan kesempatan menikmatinya jika Anda kebetulan berada di Pontianak saat bulan Ramadhan ini.

PenulisKontributor Pontianak, Yohanes Kurnia Irawan
EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X