Selamat Datang di Darwin, Ini 5 Tempat yang Patut Dikunjungi - Kompas.com

Selamat Datang di Darwin, Ini 5 Tempat yang Patut Dikunjungi

Caroline Damanik
Kompas.com - 30/07/2016, 21:10 WIB
KOMPAS.com/Caroline Damanik Darwin International Airport

DARWIN, KOMPAS.com - Jam menunjukkan pukul 07.00 waktu setempat, dua setengah jam lebih cepat dari waktu di Jakarta. Bau khas laut menyeruak dan udara hangat menyergap sesaat setelah keluar dari Bandara Internasional Darwin.

Sinar matahari di Darwin pagi itu mengingatkan pada Bali. Masih untung ada angin sejuk yang berembus.

Sebelum keluar bandara tadi, para penumpang bisa berfoto gratis di booth khusus bertuliskan "I’m Doin Darwin". Mereka yang mau berfoto harus melompat. Nanti, dalam foto yang dihasilkan, ekspresi seseorang sedang melompat akan bersanding dengan gambar buaya yang juga sedang melompat sambil menganga.

KOMPAS.com/Caroline Damanik "Jumping crocodile" di Crocodylus Park di Darwin, Northern Territory, Australia.
Buaya adalah fauna khas dari Northern Territory, salah satu negara bagian Australia di sebelah utara. Populasi buaya di Northern Territory terhitung paling besar di seantero Australia.

Saat ini, diperkirakan ada sekitar 100.000 ekor buaya di Northern Territory yang hidup liar. Populasinya meningkat sejak diberlakukannya UU Perlindungan Buaya pada tahun 1971.

Oleh karena itu, insiden serangan buaya, baik terhadap warga setempat maupun turis, kerap terjadi. Apalagi, banyak warga yang tinggal di tepi sungai. Warga diminta waspada setiap air sungai naik dan lebih banyak petugas satwa liar disiagakan.

Darwin adalah ibu kota Northern Territory.  Di kota seluas 112 kilometer persegi ini, pelayanan publik untuk area Northern Territory dipusatkan.

Apa yang tiba-tiba teringat mendengar kata “Darwin”?

Ya, kota ini dinamakan Darwin untuk menghormati Charles Darwin, ilmuwan yang mengemukakan teori evolusi , dan pernah mendarat di kota tersebut. Namanya juga kemudian diabadikan menjadi nama universitas di Darwin, Charles Darwin University.

Berbeda dengan sejumlah kota di negara bagian lainnya, seperti Melbourne atau Sydney, suhu Darwin cenderung panas. Suasananya sepi. Toko-toko biasanya sudah mulai tutup sekitar jam 18.00-19.00 waktu setempat. Setelah itu, kehidupan malam dimulai.

Meski demikian, Darwin harus tetap menjadi pilihan yang masuk dalam daftar kunjungan jika berniat menjelajah benua Australia. Tak sampai 3 jam dari Denpasar, Bali, atau sekitar 4 jam dari Jakarta.

Berikut ini lima tempat yang harus Anda kunjungi jika sedang berada di Darwin:

1. Stokes Hill Wharf

KOMPAS.com/Caroline Damanik Stokes Hill Wharf di Darwin, Northern Territory, Australia.
Hamparan langit biru yang hanya sebatas garis dengan birunya air laut menjadi pemandangan segar di Stokes Hill Wharf pagi itu. Kapal dan perahu kecil hanya bergoyang tidak maju ataupun mundur.

Di salah satu dermaga, ada sepetak tembok dengan mural yang menggambarkan peristiwa pengeboman di dermaga ini dalam rangkaian penyerangan tentara Jepang ke Darwin. Sebanyak 23 pekerja dan 48 pelaut tewas dalam peristiwa itu. Setiap tanggal 19 Februari, keluarga dan rekan-rekan berkumpul di dermaga ini untuk mengenang para korban.

Kini, Stokes Hill Wharf kerap ramai karena kegiatan pariwisata dan kuliner. Sore hari juga menjadi waktu terbaik untuk kembali ke dermaga ini, puluhan penduduk lokal dan turis, anak-anak hingga orang tua, akan datang hanya untuk duduk-duduk atau menyantap berbagai macam kuliner yang ada di sana sambil menikmati senja.

2. Taman Buaya

Jangan pernah tinggalkan Darwin tanpa melihat buaya. Pasalnya, buaya menjadi fauna khas dari Northern Territory. Tentu saja, jangan mencarinya sendiri. Pengunjung bisa datang ke sejumlah tempat penangkaran buaya.

Salah satunya adalah Crocodylus Park, destinasi wisata edukasi dan juga penangkaran buaya, sekitar 14 km dari pusat kota. Di tempat ini, pengunjung bisa menyaksikan sekitar 23 spesies buaya dari seluruh dunia. Selain melihat buaya dengan berbagai usia dan ukuran, pengunjung bisa mencoba kuliner dari daging buaya serta membeli produk dari kulit dan taring buaya.

Tempat lainnya yang bisa dikunjungi adalah Crocosaurus Cove yang berada di pusat kota. Di sini, pengunjung bisa menikmati berenang bersama buaya. Tentu saja tidak bersama dalam arti harfiah. Pengunjung akan masuk ke dalam tabung gelas yang ada di kolam yang sama dengan tempat buaya air asin terbesar di Australia hidup.

KOMPAS.com/Caroline Damanik Warga setempat dan wisatawan menyaksikan matahari terbenam di Mindil Beach di Darwin, Northern Territory, Australia.
3. Mindil Beach

Mindil Beach didapuk sebagai tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbenam di Darwin. Jaraknya hanya 2 km dari pusat kota.

Warga maupun turis biasanya sudah memenuhi kawasan pantai ini sejak pukul 15.30 waktu setempat. Khusus Kamis dan Minggu malam dari bulan Mei hingga Oktober, keramaian menjadi karena pasar dadakan yang bernama Mindil Beach Sunset Market digelar.

Setiap pengunjung bisa menemukan, mulai dari suvenir khas Australia, pakaian, perhiasan hingga kuliner lezat dari berbagai negara. Jadi, sekali mendayung, belanja sekaligus menikmati senja di Mindil Beach bisa tercapai.

4. Museum and Art Gallery of Northern Territory

Museum ini terletak sekitar 4 km dari pusat kota Darwin, tepatnya di kawasan tepi Fannie Bay. Di museum ini, pengunjung bisa menemukan berbagai koleksi benda seni milik suku Aborigin, penduduk asli Australia, mulai dari lukisan dan tombak, hingga cerita tentang kedekatan hubungan antara suku Aborigin dan pelaut dari Nusantara.

Di museum ini, pengunjung bisa juga  melihat Sweetheart, buaya air asin asli yang legendaris di Northern Territory.

Dalam sejarahnya, Sweetheart kerap melakukan serangan terhadap warga dan turis hingga akhirnya diputuskan untuk ditangkap dan hendak dipindahkan ke peternakan lokal. Namun, saat hendak dipindahkan dalam keadaan terbius, Sweetheart jatuh dan mati tenggelam. Bangkainya dikeraskan dan dipajang di museum ini.

5. Darwin Waterfront

KOMPAS.com/Caroline Damanik Darwin Waterfront
Darwin Waterfront juga adalah tempat yang harus dikunjungi saat berada di Darwin. Di sini, pengunjung bisa menikmati menjadi penduduk lokal Darwin, seperti duduk-duduk, membaca buku, atau hanya bersantai sejenak.

Selain itu, biasanya kawasan ini digunakan oleh warga setempat untuk berolahraga, seperti melakukan yoga atau bersepeda di track khusus. Sejumlah toko dan restoran juga bisa dikunjungi bagi pengunjung yang ingin berbelanja atau menikmati wisata kuliner di Darwin, khususnya penggemar menu seafood.

 

***

 

Tentu saja, Darwin juga menjadi pintu masuk bagi para pengunjung yang ingin bertemu dengan penduduk asli Aborigin di kawasan utara Australia ini.

Perjalanan selama 75 menit dari Darwin dengan pesawat akan membawa pengunjung mendarat di Bandara Gove, akses masuk satu-satunya melalui udara untuk mencapai Nhulunbuy pusat pelayanan publik Arnhem Land.

Nhulunbuy dikenal sebagai pintu utama keajaiban alam dan budaya suku Yolngu, penduduk asli Australia di Arnhem Land.

Lihat foto selengkapnya: Nhulunbuy, Pintu Masuk Kenangan Suku Aborigin dan Pelaut Makassar

(Tulisan ini merupkan bagian dari program "Jelajah Australia 2016". Kompas.com telah meliput ke berbagai pelosok Australia pada rentang 14 Mei - 15 Juni 2016 atas undangan ABC Australia Plus. Di luar tulisan ini, masih ada artikel menarik lainnya yang telah disiapkan terbit pada Juli hingga akhir Agustus 2016. Anda bisa mengikuti artikel lainnya di Topik Pilihan "Jelajah Australia 2016".)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisCaroline Damanik
EditorTri Wahono
Komentar

Close Ads X