Filosofi Nasi Tumpeng yang Begitu Indah - Kompas.com

Filosofi Nasi Tumpeng yang Begitu Indah

Silvita Agmasari
Kompas.com - 05/08/2016, 07:21 WIB
KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Corporate Chef Parador Hotels & Resorts Gatot Susanto bersama kru dapurnya menyiapkan nasi tumpeng dalam acara HUT Ke-7 Kompas.com di kantor redaksi Kompas.com, Palmerah, Jumat (29/5/2015). Dalam acara ini Parador Hotels and Resorts memberikan nasi tumpeng setinggi 1 meter yang dibuat khusus untuk Kompas.com.

JAKARTA, KOMPAS.com - Nasi tumpeng bukan hanya sekadar makanan dengan tampilan yang menarik dan rasa yang lezat. Makanan yang selalu ada dalam perayaan selamatan dan syukuran khususnya di Jawa, ternyata memiliki makna filosofis yang begitu indah.

Nasi tumpeng merupakan bentuk representasi hubungan antara Tuhan dengan manusia dan manusia dengan sesamanya.

"Dalam Kitab Tantupanggelaran (kitab dari zaman Majapahit) diceritakan saat Pulau Jawa berguncang, Batara Guru dalam konsep Hindu memerintahkan membawa puncak Mahameru India untuk menstabilkan Pulau Jawa dan jadilah Gunung Semeru di Jawa Timur.

"Puncak tertinggi itulah yang dipercaya merupakan letak dari para dewa. Manusia memahami konsep Ketuhanan dengan sesuatu yang besar dan tinggi, dan berada di puncak. Nasi Tumpeng adalah representasi dari puncak gunung atau konsep Ketuhanan," kata Dr Ari Prasetiyo, S.S., M.Si saat dihubungi oleh KompasTravel, Kamis (4/8/2017).

Selain bentuk nasi tumpeng yang kerucut dan menjulang tinggi (vertikal) adalah representasi dari bentuk gunung atau Tuhan, isian nasi tumpeng juga memiliki arti.

Menurut Ari, isian tumpeng yang diletakkan horizontal adalah lambang hubungan manusia dengan sesamanya. Keragaman lauk pauk adalah lambang kehidupan dunia yang kompleks. 

"Dalam konsep Jawa dikenal ungkapan 'sangkan paraning dumadi' (tahu dari mana dan akan kemana segala mahluk), 'mulih ing mulanira' (kembali ke asalnya). Agar kembali ke Tuhan atau kaitannya dengan konsep surga dan neraka, manusia harus berbuat baik dan berhati-hati dalam hidup di dunia yang penuh karut marut seperti lambang dari lauk pauk nasi tumpeng," kata Dr Ari yang mengajar Sastra Jawa di Universitas Indonesia.

PenulisSilvita Agmasari
EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM