Selasa, 28 Maret 2017

Travel

TAG
  • #Bromo
  • #Ridho Rhoma
  • #Pramuka
  • #Adinda Thomas

Rekam Sunyi Perajin Rapai di Lhokseumawe

KOMPAS.com/MASRIADI Perajin rapai sedang membuat alat musik tradisional sejenis rebana di Desa Blang Weu Panjo, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Aceh, Minggu (9/10/2016).

LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com – Deru mesin penghalus kayu terdengar nyaring di salah pojok Desa Blang Weu Panjo, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Aceh, Minggu (9/10/2016).

Dua pekerja sibuk memegang kayu, sebagian lainnya sibuk menyiapkan rotan. Di situlah sentral pembuatan alat musik Rapai, sejenis rebana, di Aceh. Alat musik tradisional itu melegenda hingga ke pelosok nusantara.

Dari alat musik inilah muncul seni Rapai Debus, Rapai Uroh, dan lainnya. Dimainkan dengan cara ditabuh.

Kini, lamat-lamat alat musik itu nyaris sirna. Para perajin kesulitan mendapatkan bahan baku. Misalnya, perajin sulit mendapatkan kayu kualitas terbaik seperti kayu merbau. “Rontan juga sulit kami dapatkan,” sebut salah seorang perajin, Suniadi.

Ia menyebutkan, untuk kulit gendang digunakan kulit kambing. Biasanya diperoleh dari peternak lokal. Namun, untuk kayu, dibeli dari masyarakat di kawasan hutan Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.

“Jika menggunakan kayu lain, bunyinya akan berbeda. Tidak nyaring dan tidak indah ketika dimainkan,” ujarnya.

Saat ini, para perajin kesulitan memenuhi pesanan dari sejumlah daerah di tanah air. Bahkan, mereka mengaku terkadang tidak bekerja selama sepekan karena kesulitan memperoleh bahan baku.

Untuk harga, perajin membanderol Rp 1,2 juta sampai Rp 5 juta per unit. Sangat tergantung ukuran rapai.

Menurut Suniadi, untuk memproduksi rapai butuh waktu satu atau dua hari. “Dalam sepekan paling delapan unit bisa kami buat. Itu pun dengan catatan kayu tersedia,” ujarnya.

Bisnis pembuatan rapai yang dirintis sejak 2002 silam itu kini digeluti oleh tiga orang. Seluruhnya keluarga Suniadi. Mereka memberi label proyeknya dengan nama Keneubah Nanggro.

Namun, di sisi lain, Suniadi menyayangkan minimnya pergelaran seni rapai di Aceh akhir-akhir ini. Sehingga, sangat jarang masyarakat yang memesan rapai dalam jumlah besar.

“Kalau pergelaran seni rapai ramai, pemilik sanggar juga pasti bersemangat, dari situ akan dipesan terus rapai baru,” sebutnya.

Dia khawatir, satu waktu generasi muda Aceh tidak akan bisa menikmati seni tradisi turun temurun itu.

Malah, sambung Suniadi, rapai banyak dipesan oleh masyarakat di luar Aceh hingga mancanegara. “Saya harap agar seni tradisional Aceh ini dilestarikan generasi muda, tentu dengan dukungan semua pihak termasuk pemerintah,” ujarnya.

Meski di tengah kesulitan bahan baku dan minimnya pementasan seni, Suniadi dan keluarganya terus berkarya. Membuat rapai agar seni itu tak hanya menjadi rekam sunyi dalam ingatan manusia.

Penulis: Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : I Made Asdhiana