Saya Kira Wakatobi Ada di Jepang... - Kompas.com

Saya Kira Wakatobi Ada di Jepang...

Hilda B Alexander
Kompas.com - 07/11/2016, 08:22 WIB
KOMPAS/INGKI RINALDI Salah satu sudut sekitar Desa Kulati di Pulau Tomia, Wakatobi, Jumat (16/9/2016).

WAKATOBI, KOMPAS.com - Kendati sudah ditetapkan sebagai satu di antara 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016, namun Wakatobi belum begitu populer.

Nama Kabupaten di Sulawesi Tenggara yang terdiri dari gugusan Pulau Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko tersebut masih dianggap asing.

Bahkan, beberapa wisatawan yang diwawancarai Kompas.com mengira Wakatobi merupakan destinasi wisata di negeri Matahari Terbit, Jepang.

"Saya kira Wakatobi ada di Jepang. Karena namanya 'berbau' Jepang. Tak tahunya di Sulawesi Tenggara," ujar Patricia Herjanto mengungkapkan ketidaktahuannya mengenai Wakatobi kepada Kompas.com saat mengikuti perjalanan Ekowisata yang digagas Synthesis Development bersama WWF Indonesia pada 31 Oktober-4 November 2016.

Wajar jika Patricia belum akrab dengan Wakatobi. Selama ini, turis domestik seperti Patricia yang asal Jakarta lebih mengenal Bali, Singapura, Jepang, atau kota-kota romantis di belahan benua Eropa.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Perkampungan Suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Jumat (8/8/2015).
Wakatobi, kata dia, jarang ditawarkan oleh agen-agen perjalanan sebagai pilihan destinasi wisata selama masa liburan. Tempat ini juga tidak ditemukan dalam kampanye iklan-iklan pariwisata Indonesia.

(Baca: Festival Wakatobi 2016 Digelar 18 Desember)

Selain itu, Patricia menambahkan, Wakatobi dan destinasi-destinasi wisata Indonesia di luar Bali sangat sulit dijangkau karena aksesibilitas yang terbatas. 

"Untuk mencapai Wakatobi, atau pulau-pulau yang disebut surga bahari, kita harus menempuh perjalanan 7 jam. Tiga jam di udara, dan empat jam di laut," tutur perempuan berkulit terang itu.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Jejak yang ditinggalkan saat surut air laut pada pasir pantai di Pantai Patuno, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin (20/6/2016).
Tak mengherankan, sulitnya akses dan keterbatasan infrastruktur transportasi itu membuat harga perjalanan wisata ke Wakatobi jauh lebih mahal ketimbang ke Singapura atau Jepang.

Ayu Diyan Hapsari, wisatawan yang juga asal Jakarta, menghitung biaya perjalanannya dari ibu kota ke Wakatobi lebih dari Rp 20 juta pergi-pulang.

"Itu hanya untuk tiket pesawat saja," cetusnya.

Belum lagi biaya menumpang kapal antar-pulau, akomodasi, makan dan minum serta menyaksikan berbagai atraksi budaya dan kegiatan menikmati keindahan bawah laut atau menyelam berikut sewa peralatan selamnya.

Sementara ke Singapura, hanya dengan Rp 5 juta, pelancong Indonesia bisa bermalam selama tiga hari di hotel representatif, keliling Universal Studio, dan belanja suvenir di Orchard Road.

Aljefri Febrizarli Patricia tengah berpose di salah satu destinasi wisata, Mata Air Seratus, di Puau Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Namun begitu, kendati mahal dan lama di perjalanan, "surga bawah laut" dan pengalaman hidup di Wakatobi yang berbeda dari Jakarta mampu menjadi obat penawar bagi Patricia, Ayu Diyan, dan turis-turis lainnya.

Kembali lagi

"Luar biasa indah," ungkap wisatawan asal Banjarmasin, Muhammad Zakaria Anshori, usai menikmati panorama terumbu karang di Pulau Hoga.

Selain menyelam, Zakaria yang karib disapa Zack ini juga mengikuti serangkaian agenda ekowisata lainnya.

(Baca: “Surga” Wakatobi Tak Melulu Bahari)

Seperti menanam mangrove di kawasan Parapo, Sombano, menanam rumput laut di Desa Derawa, menyaksikan tarian tradisional Lariangi, serta mencoba menenun kain ikat khas Desa Pajam, Ragi dan Liga.

Tak lupa pula, lajang yang hobi makan ini mencoba kuliner tradisional berupa soami atau singkong yang dikukus, parende atau ikan kuah kuning asam manis, ikan asap, kosea no-kaudafa atau sayur daun kelor serta bulu babi.

Seluruh sajian kudapan tersebut didapat melalui cara-cara tradisional sebagai sebagai bagian dari warisan kearifan lokal yang dijaga kelestariannya.

Hilda B Alexander/Kompas.com Tarian Lariangi dibawakan kelompok anak muda Desa Pajam, Kaledupa, Wakatobi.
Wakatobi, menurut Zack, Patricia, dan juga Ayu Diyan memang menawarkan pengalaman berbeda untuk tidak dikatakan istimewa.

Tak ada pasokan listrik yang terus menerus menerangi selama 24 jam, minim koneksi internet, serta air baku bersih layak minum yang terbatas.

Mereka merasa berada di "dunia lain". Dunia yang bertolak belakang, ibarat langit dan bumi antara kehidupan masyarakat lokal Wakatobi dan kehidupan mereka sehari-hari.

Merasakan hidup selaras dengan alam seperti yang dilakoni warga Wakatobi adalah sesuatu yang mengejutkan, sulit diterima namun nyata.

"Dan kami akan kembali lagi ke Wakatobi," serentak mereka bersuara.

PenulisHilda B Alexander
EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM