Borobudur, Joglosemar, dan Wisata Halal Dipamerkan di TITF 2017 - Kompas.com

Borobudur, Joglosemar, dan Wisata Halal Dipamerkan di TITF 2017

Kompas.com - 21/02/2017, 07:51 WIB
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Petugas jaga memeriksa seputar kawasan Gedung Lawang Sewu yang telah berhasil menjadi contoh konservasi bangunan cagar budaya di Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (20/4/2016). Gedung-gedung tua berarsitektur indah dengan cerita sejarah masa lalu menjadi potensi wisata yang belum tergarap, seperti di Kota Lama.

BANGKOK, KOMPAS.com - Candi Borobudur dan destinasi Joglosemar (Jogjakarta, Solo, Semarang) berupaya menarik kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Thailand.

Salah satu destinasi prioritas Kementerian Pariwisata (Kemenpar) itu memperkenalkan 25 agenda wisata 2017 di Borobudur dan sekitarnya dalam pameran Thai International Travel Fair (TITF) 2017 yang berlangsung 15-19 Februari di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC), Bangkok, Thailand. Demikian siaran pers Kemenpar kepada KompasTravel, Senin (20/1/2017).

Asisten Deputi Pengembangan Pasar Asia Tenggara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Rizki Handayani didampingi Asisten Manajer Promosi PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Ikhsan Tarima memaparkan, 25 event tersebut adalah Tawur Agung Prambanan (27 Maret), Ratu Boko Yoga dan Meditation Day (9 April), Lomba Cipta Kreasi Tari Borobudur (11-12 April), Mandiri Jogja International Marathon (23 April), Borobudur International Conference (6-7 Mei), Borobudur Photo Contest (1-30 Mei), Waisak and Borobudur (11 Mei), Prambanan Music, Art and Culture (20 Mei).

(BACA: Udon Thani, Daerah di Thailand dengan Etnis Blasteran)

Selain itu ada juga Prambanan International Yoga Day (3 Juni), Borobudur Legoland Festival (15-30 Juni), Sounds of Borobudur Cultural and Music Camp (14-16 Juli), Mahakarya Borobudur Hair Style and Fashion (22 Juli), Borobudur International Festival (28-30 Juli), Prambanan Culinary Festival (12-13 Agustus), Prambanan Jazz (19-20 Agustus), Festival Tari Keraton Nusantara (20-21 Agustus), Ratu Boko Festival (22-24 September).

BIRO PERS SETPRES/RUSMAN Presiden Joko Widodo di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Jumat (29/1/2016) didampingi dari kiri ke kanan: Menteri Pariwisata Arief Yahya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.
Berikutnya, Borobudur and Prambanan Water Color Heritage Exhibition (25 September), Festival Gamelan Nusantara and Langen Cerita (6 Oktober), Gowes Bike Tour (28 Oktober), Borobudur Music Performance (28 Oktober), Hari Raya Kebudayaan Borobudur (17-18 Oktober), Jogja International Heritage Walk (18-19 November), Borobudur International 10K (26 November), dan New Years Borobudur Nite (31 Desember).

”Kami mengucapkan terima kasih kepada Kemenpar. Kami akan berusaha terus berkoordinasi dengan tour travel yang melayani wisatawan Thailand menuju ke Joglosemar agar mereka mau hadir ke acara-acara kami,” ujar Ikhsan Tarima.

(BACA: Untuk Orang Thailand, Candi Borobudur Itu Sangat Terkenal...)

Menurut Ikhsan, selain memamerkan semua agenda di destinasi prioritas tersebut, pihak Candi Borobudur juga akan bertemu dengan beberapa tokoh agama yang ada di Thailand terkait dengan kedatangannya ke Borobudur.

”Karena secara religi, kaitannya sangat kental destinasi kami ini dengan Thailand. Kami sudah mempersiapkan 25 event itu untuk menjaga konsistensi kedatangan wisatawan ke Borobudur,” ujarnya.

KOMPAS.COM/IKA FITRIANA Wisatawan sedang naik gajah di komplek Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Lebih lanjut Ikhsan mengatakan, pada tahun 2016, Borobudur berhasil mendatangkan sebanyak 2 juta wisman dan wisatawan nusantara (wisnus).

”Kita ingin di 2017 ini terus bertambah dan semakin banyak lagi wisatawan Thailand yang datang ke destinasi kami,” harapnya.

Sementara itu, Rizki Handayani memaparkan, bukan hanya umat Buddha yang bisa mendatangi Borobudur atau Joglosemar. Seluruh wisman dan dari mana pun bisa menyambangi kehebatan Borobudur dan ketiga kota tersebut.  

Menurut Rizki, ketiga kawasan tersebut juga sedang disiapkan untuk menjaring wisman asal Timur Tengah yang memiliki pengeluaran paling tinggi dan lama tinggal paling lama.

“Jumlah outbound Timur Tengah juga sekitar 120 juta orang setiap tahunnya. Dan di Kawasan Asia Tenggara, yang terbesar justru di Thailand dan disusul Malaysia,” kata Rizki.

KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA Karnaval Solo dirangkai dengan pergelaran tari kolosal Adeging Kutha Sala menyemarakkan puncak perayaan hari ulang tahun ke-270 Kota Solo, di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (21/2/2015) malam. Tampak karnaval yang menggambarkan peristiwa boyongan (pindah) Keraton Kartasura ke Sala.
“Halal tourism itu tidak terkait langsung dengan agama, tetapi lebih ke servis dan gaya hidup. Sudah menjadi gaya hidup di banyak negara untuk mengonsumsi makanan halal. Thailand itu tidak banyak Muslim, tetapi mereka menerapkan standar pelayanan internasional yang bagus dan nyaman, sehingga wisman dari Timur Tengah pun merasa nyaman,” kata Kiki.

Bagi Indonesia, lanjut Rizki, memiliki modal yang lebih kuat. Memiliki mayoritas penduduk Muslim, tempat ibadah masjid ada di mana-mana, makanan hampir pasti 100 persen halal.

"Tidak perlu diragukan. Proses memasaknya juga sudah 100 persen halal dan itu juga tersedia banyak di destinasi Borobudur dan Joglosemar," katanya. (*)

EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM