Menyambangi Titik Nol Sekaligus Gedung Tertinggi di Batavia - Kompas.com

Menyambangi Titik Nol Sekaligus Gedung Tertinggi di Batavia

Silvita Agmasari
Kompas.com - 19/03/2017, 14:05 WIB
Kompas.com/Silvita Agmasari Menara Syahbandar di Kota Tua Jakarta.

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebelum Monumen Nasional ditetapkan menjadi titik nol Jakarta, sebenarnya kota yang telah berusia 489 tahun ini memiliki titik nol yang ditetapkan sejak zaman kolonial. Titik nol Kota Batavia terletak di Menara Syahbandar yang sekarang berada di Jalan Pasar Ikan Nomor 1, Jakarta Utara.

"Kemarin ada peneliti dari luar negeri ke sini (Menara Syahbandar) diukur memang ini titik nol. Juga ditemukan ada batu bertuliskan bahasa China di bawah sana," kata pemandu di kawasan Kota Tua Jakarta, Maruri saat memandu perjalanan Komunitas Jelajah Budaya, Sabtu (18/3/2017).

BACA: Seabad Pasang Surut di Pintu Gerbang Kota Batavia

Maruri menjelaskan bahwa awalnya Menara Syahbandar adalah bastion dari Kubu Culemborg yang dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1808. Kemudian pada tahun 1838, didirikan Menara Syahbandar atau dalam Bahasa Belanda disebut De Uitkjik Post sebagai menara pemantau sekaligus kantor pabean (pajak ekspor-impor).

Kompas.com/Silvita Agmasari Pemandangan dari Menara Syahbandar di Kota Tua Jakarta.

"Tingginya sekitar 18 meter dan saat itu jadi gedung tertinggi Batavia," tambahnya.

Saat zaman penjajahan, fungsi Menara Syahbandar termasuk vital. Dari menara ini, para petugas mengawasi keluar masuk kapal yang membawa komoditas terutama rempah.

Dari Menara Syahbandar terlihat lokasi pasar ikan pertama Batavia, gudang rempah yang sekarang menjadi Museum Bahari, galangan kapal VOC yang kini berfungsi menjadi restoran, sampai Jembatan Kota Intan.

BACA: Museum Bahari Kini Dilengkapi Kafe dan Perpustakaan

"Pada abad ke 17 dan 18 air kali di depan Menara Syahbandar itu jernih sekali, bisa langsung diminum. Sampai dijual-jualin," kata Maruri.

Jangan tanya apa warna kali di depan Menara Syahbandar sekarang. Dari baunya saja, sudah jelas tak layak konsumsi.

Menara Syahbandar juga dijuluki Menara Miring, karena miring ke arah selatan akibat turunnya permukaan tanah. Untungnya bangunan Menara Syahbandar sendiri cukup terawat dengan tangga kayu jati yang kokoh serta cat yang baru. Bagian luar dan dalamnya pun bersih.

BACA: Kisah Si Molek dan Penari Ronggeng di Batavia Kecil

Menara Syahbandar yang sudah melewati masa kejayaanya kini berubah fungsi menjadi lokasi rekreasi sejarah. Menara ini sudah tak lagi menjadi yang tertinggi. Meski begitu, dari jendelanya, kita bisa memandang gedung-gedung pencakar langit yang menjulang dari Jakarta nan modern.

PenulisSilvita Agmasari
EditorSri Anindiati Nursastri
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM