Pariwisata, Angsa Emas Sabah - Kompas.com

Pariwisata, Angsa Emas Sabah

Karim Raslan
Kompas.com - 20/03/2017, 15:06 WIB
Dok Karim Raslan Gunung Kinabalu adalah gunung tertinggi di Asia Tenggara pada ketinggian 4,095m.

JHENNIS Mintjelungan, lelaki Minahasa berusia 30 tahun, bekerja sebagai resepsionis hotel di Sorong, kota tempat masuknya turis menuju Kepulauan Raja Ampat. Obyek wisata ini disebut sebagai tempat liburan tercantik di dunia oleh Conde Nast Traveler.

Dia berharap jumlah pengunjung ke kepulauan ini terus meningkat secara signifikan hingga mampu mendorong ekonomi daerah yang terletak di ujung barat Papua ini.

Di tepi pantai Danau Toba di Sumatera Utara, 3.649 kilometer sebelah barat dari Kepulauan Raja Ampat, Bona Pana Parlindungan, seorang pemandu wisata berusia 54 tahun, berdoa agar jumlah pengunjung asing terus meningkat.

Dengan tersedianya bandara terdekat Silangit yang baru direnovasi dan penerbangan langsung dari Jakarta, memang sangat memungkinkan danau kaldera terbesar di dunia itu menerima kedatangan turis lebih ramai lagi.

Sektor pariwisata di Asia Tenggara sedang tumbuh pesat. Pada 2014, sektor travel dan pariwisata berkontribusi 4,8 persen terhadap total PDB atau sekitar 117,9 miliar dollar AS.

Angka ini diprediksi akan naik menjadi 4,9 persen atau sekitar 209,4 miliar dollar AS pada 2025. Asia Tenggara merupakan daerah dengan pertumbuhan sektor pariwisata tertinggi kedua di dunia setelah Asia Selatan.

Tren global yang menyajikan petualangan dan alam turut mendorong minat publik untuk menjelajah daerah-daerah yang kurang dikenal masyarakat luas.

Namun apa yang harus dilakukan oleh para pemimpin lokal untuk mempertahankan industri dengan potensi yang berubah-ubah ini? Hal-hal utama apa saja yang diperlukan untuk menarik turis dan mendorong mereka agar sering berkunjung?

Dok Karim Raslan Sorong dikenal sebagai pintu gerbang menuju pulau Raja Ampat yang masih mempunyai pantai yang asli dan kaya dengan kehidupan laut.

Belajar dari Sabah

Saya akan sangat menyarankan para pembuat kebijakan untuk memelajari apa yang Sabah telah lakukan dengan baik.

Dengan kesuksesannya menarik 3,4 juta turis pada 2016, sebanyak lebih dari 1 juta berasal dari Tiongkok, Sabah kini telah menjadi salah satu destinasi ekowisata dan petualangan tersukses di Asia.

Kekayaan alam seperti Gunung Kinabalu (gunung tertinggi di Asia Tenggara), tempat olahraga snorkeling serta hutan-hutan yang sangat alamiah turut membantu Sabah menarik turis tersebut.

Maskapai berbujet rendah, AirAsia, juga telah berperan penting dalam menekan biaya perjalanan dan menambah kapasitas.

Namun, Sabah tidaklah selalu sebuah kisah sukses. Dua puluh lima tahun silam, negara bagian ini sempat juga menghadapi dilema ekonomi.

Para pebisnis lokal fokus mengembangkan industri ekstraktif selama puluhan tahun yakni menggarap hutan-hutan yang sangat kaya akan sumber daya alam. Pada awal 1990 terlihat jelas bahwa aktivitas ini tidak berkelanjutan.

Datuk Masidi Manjun, Menteri Pariwisata, Budaya dan Lingkungan Sabah, dengan percaya diri mengatakan, “Pada zaman dahulu tidak sulit memberitahu orang Sabah bahwa konservasi patut dilakukan. Mereka selalu mempunyai kedekatan khusus dengan hutan.”

“Pengelolaan industri pariwisata, budaya dan lingkungan di bawah Kementerian yang sama,” tutur dia, “sangat membantu sehingga kami bisa membuat dan mengoordinasikan berbagai kebijakan agar setiap orang termasuk pihak swasta berjalan di jalur yang sama.”

“Orang Sabah bangga dengan peninggalan budaya nenek moyang. Hal ini diajarkan di sekolah-sekolah. Kami adalah masyarakat yang memiliki budaya dan agama yang beragam. Pemerintah Daerah bekerja keras memastikan budaya lokal tetap berkembang.”

Jacqueline Jimin, pegawai pemasaran berusia 29 tahun dan beretnis Murut, sangat optimistis dengan Sabah. Setelah belajar dan bekerja selama bertahun-tahun di Kuala Lumpur, pada 2010 dia kembali ke Sabah dan mendapatkan pekerjaan dengan bayaran tinggi.

“Saya kembali untuk menjaga ibu saya yang sakit,” katanya. “Ekonomi lokal sangat beragam saat ini. Perkembangan industri pariwisata telah membuka banyak kesempatan. Banyak hal telah berkembang dan maju.”

Namun, beberapa orang tetap bersikap berhati-hati. Seperti Asgari Stephens, seorang investor private equity yang lahir di Sabah tetapi menetap di Kuala Lumpur. Dia menyinggung perlunya kebutuhan untuk meningkatan kemampuan pekerja lokal.

“Kami perlu menaikan standar, meningkatkan pelatihan dan bekerja lebih keras agar dapat bersaing dengan Bali dan Phuket. Banyaknya turis Tiongkok yang datang tidak bisa langsung diartikan sangat menguntungkan,” kata Jacqueline Jimin.

Dok Karim Raslan Danau Toba adalah pusat wisata yang berkembang di Sumatera Utara.
Datuk Masidi pun menekankan, “Anda tidak bisa hanya melihat sisi angka turis. Angka dapat menipu. Anda harus memastikan rakyat biasa juga menerima manfaat, dari bisnis restoran lokal, turis tinggal di rumah penduduk lokal, pembuat barang-barang kerajinan tangan dan bahkan masyarakat yang menjual es krim buatan rumahan.”

“Sangat penting kami mendorong masyarakat untuk mempertahankan dan menjaga keindahan alam di sekitar kami,” ujar Datuk Masidi lebih lanjut.

“Kami harus memastikan segala sesuatu tetap seperti awalnya sehingga kami bisa mendapat manfaat dari keindahan tersebut. Selain itu, aspek konservasi juga harus menjadi bagian penting dalam agenda pengembangan ekonomi pemerintah karena ekopariwisata sangat penting,” kata Datuk Masidi.

Masih kata Datuk Masidi, “Setiap tahun kami menambah cadangan hutan kami. Serikat Konservasi Alam Internasional mewajibkan 10 persen dari total lahan harus dijadikan sebagai hutan lindung. Hingga saat ini, Sabah memiliki 23 persen hutan lindung dengan target sebesar 30 persen pada 2025.”

Upaya ini tidaklah mudah. Kontroversi atas pembangunan Jembatan Sukau di Kinabatangan bernilai 223 juta ringgit (sekitar Rp 670 miliar) menggambarkan dilema antara pengembangan ekonomi dan konservasi yang masih berlangsung hingga saat ini. Para pengkritik mengklaim pembangunan jembatan itu dapat menghancurkan margasatwa di sana.

Masalah keamanan yang masih berlangsung di Sabah bagian timur juga mengurangi jumlah turis di Sandakan, sebuah pusat ekopariwisata.

Pengalaman Sabah menunjukan bahwa industri pariwisata bukanlah sesuatu yang dapat dikembangkan hanya melalui peraturan.

Sebaliknya, dia membutuhkan suatu proses yang panjang, termasuk membangun kepercayaan, melatih para penyedia jasa dan mempertahankan standar. Hal-hal ini membutuhkan kesabaran yang luar biasa agar seluruh pemangku kepentingan bisa sejalan.

Namun kabar baiknya adalah destinasi wisata yang belum diketahui banyak orang pun dapat menjadi terkenal. Coba perhatikan bagaimana Pulau Palawan di Filipina dengan lautnya yang sangat cantik telah menjadi sebuah sensasi di dunia maya.

Jadi jika para pemimpin lokal ingin mengembangkan portofolio pariwisata mereka maka akan bijaksana jika mereka melihat “Tanah di Bawah Angin” untuk tip bagaimana mengembangkan industri bernilai miliaran dolar. 

EditorAmir Sodikin

Komentar

Close Ads X