TKI, Duta Baru Budaya Halaman 3 - Kompas.com

TKI, Duta Baru Budaya

Kompas.com - 20/04/2017, 17:04 WIB
KOMPAS/ANGGER PUTRANTO TKI asal Magelang, Haryono (27, kanan), mendandani rekannya sesama TKI saat akan tampil dalam My Balloon Fiesta di Desa Park City, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (11/3/2017). Di negeri jiran, mereka tak hanya menjadi pahlawan devisa, tetapi juga menjadi duta bangsa untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia.

Dilirik kedutaan Indonesia

Tampil dalam Promosi Wisata Indonesia pada My Balloon Fiesta bukanlah kali pertama bagi Sanggar Tirta Wangi. Pada tahun 2014, untuk kali pertama kegiatan mereka berkesenian dilirik Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia. Mereka diminta tampil di acara peringatan kemerdekaan Indonesia.

Tirta Wangi juga beberapa kali diundang sejumlah hotel bintang lima di Malaysia untuk mengisi acara saat jamuan makan malam. Mereka juga pernah tampil dalam sejumlah festival bertaraf internasional yang diadakan di Malaysia.

Saat tampil membawakan tarian tradisional Indonesia, Nadela, Irzal, dan anggota Sanggar Tirta Wangi lainnya tidak hanya menghibur penonton, tetapi mereka juga memiliki misi sebagai duta budaya.

Melalui tarian yang dibawakan, mereka mengenalkan keanekaragaman budaya Indonesia. Sayangnya, usaha ini kurang didukung Pemerintah Indonesia. Buktinya, kostum dan make up untuk tampil harus mereka sediakan secara mandiri.

Tak jarang mereka harus menyewa kostum tari dari komunitas-komunitas warga Indonesia yang tinggal di Malaysia. Biaya sewa satu set kostum untuk tujuh penari Minang mencapai 560 RM, sedangkan biaya make up bisa mencapai 100 RM per orang.

Hal itu dibenarkan Haryono (27), TKI asal Magelang, Jawa Tengah, yang juga menampilkan tari topeng ireng atau dayakan asal Magelang di My Balloon Fiesta. Kostum tari yang mereka kenakan saat tampil merupakan hasil pembelian dari uang urunan rekan-rekannya yang berasal dari Magelang.

”Harga satu kostum tari topeng ireng sekitar Rp 1 juta. Padahal, dalam satu kali tampil, ada 12 penari topeng ireng. Kami membeli kostum dari hasil urunan Gabungan Anak Rantau Magelang (Galang) di Malaysia yang dikumpulkan selama 2 tahun,” katanya.

Haryanto menuturkan, pada tahun 2013 dirinya pernah mencoba mengajukan permohonan bantuan pembelian kostum tarian ke KJRI Johor Bahru. Namun, sayang, KJRI Johor Bahru tidak bisa memberikan bantuan dengan alasan tidak ada biaya.

Padahal, saat itu, mereka akan tampil dalam sebuah festival di Larkir, Johor Bahru. Alhasil, mereka menggunakan kostum dari kain perca kaus-kaus yang sudah tidak terpakai.

Memberikan bantuan berupa kostum tari bagi TKI di Malaysia sebenarnya merupakan cara hemat bagi Pemerintah Indonesia untuk mengenalkan budaya Indonesia jika dibandingkan dengan mengirimkan penari dari Indonesia di setiap acara promosi wisata.

Page:
EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X