TKI, Duta Baru Budaya Halaman all - Kompas.com

TKI, Duta Baru Budaya

Kompas.com - 20/04/2017, 17:04 WIB
KOMPAS/ANGGER PUTRANTO TKI asal Magelang, Haryono (27, kanan), mendandani rekannya sesama TKI saat akan tampil dalam My Balloon Fiesta di Desa Park City, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (11/3/2017). Di negeri jiran, mereka tak hanya menjadi pahlawan devisa, tetapi juga menjadi duta bangsa untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia.

SEJUMLAH tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia mendandani dirinya dengan pakaian dan riasan lengkap menyerupai buto (raksasa dalam budaya Jawa).

Mereka hendak menampilkan tarian Jaranan Buto khas Banyuwangi saat Promosi Wisata Indonesia pada My Balloon Fiesta di Desa Park City, Kuala Lumpur, Malaysia.

Di negeri jiran, mereka tak hanya menjadi pahlawan devisa, tetapi juga menjadi duta bangsa untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia.

Udara panas di Malaysia membuat tenda berukuran 4 meter x 4 meter terasa pengap. Keringat Irzal Maryanto (35) tampak mengucur deras saat memasangkan kostum seorang penari. Sesekali ia mengusap keringat di dahinya sambil berseloroh ”Sumuk’e rek. Hing tahan isun! (Panasnya. Saya tidak kuat)”

Logat Osing (suku Banyuwangi) Irzal sangat kental kendati pria asal Kalipuro, Banyuwangi, tersebut sudah 12 tahun tinggal di Malaysia. Di negeri jiran, ia bekerja sebagai sales pemasaran perusahaan kargo.

Lebih dari 1 dekade bekerja di Malaysia tidak membuatnya kehilangan rasa cinta pada budaya Osing. Ia justru rindu mendengarkan dan menyaksikan kebudayaan tradisional saat berada di tanah rantau.

(BACA: Ini Cara Kemenpar Bidik Pasar Kaum Muda Malaysia)

Karena kerinduan itu, ia mengajak sejumlah TKI asal Banyuwangi melestarikan kebudayaan Osing di Malaysia. Hingga akhirnya pada tahun 2012, lahirlah Sanggar Budaya Tirta Wangi.

”Sanggar ini semula hanya mengakomodasi teman-teman dari Banyuwangi berkesenian. Namun, lama-kelamaan kami juga mengakomodasi teman-teman TKI dari daerah lain di Indonesia untuk turut berkesenian,” kata Irzal saat ditemui di Malaysia, Sabtu (10/3/2017).

Sanggar Tirta Wangi memiliki 60 anggota. Semuanya merupakan TKI yang tersebar di Selangor, Pulau Pinang, Johor, dan Kuala Lumpur. Anggotanya berasal dari sejumlah daerah di Indonesia.

(BACA: Thai Airways dan Malaysia Tertarik Garap Pariwisata Indonesia)

Irzal menuturkan, semua anggota Tirta Wangi merupakan tenaga kasar. Anggota perempuan sebagian besar buruh pabrik, sedangkan anggota pria mayoritas tukang bangunan.

Buruh pabrik dan tukang bangunan banyak bergabung dengan Tirta Wangi karena jam kerja mereka jelas setiap hari. Seusai bekerja, mereka biasanya memiliki waktu untuk berlatih. Sementara TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga cenderung sulit bergabung karena bekerja seharian.

Salah satu anggota Tirta Wangi adalah Nadela Christin (21), buruh pabrik yang bekerja sebagai operator mesin. Perempuan asal Sawahlunto, Sumatera Barat, tersebut sudah tiga tahun bekerja di Malaysia.

Nadela senang bergabung di Sanggar Tirta Wangi karena bisa melestarikan dan mengenalkan budaya Indonesia. Tak hanya itu saja, ia juga bisa menambah uang saku untuk hidup di negara tetangga.

Selama ini dalam sebulan, Nadela mendapat upah dari pabrik tempatnya bekerja sebesar 1.000 ringgit Malaysia (RM). Uang tersebut sepenuhnya ia kirim untuk keluarganya di Indonesia. Untuk hidup di Malaysia, Nadela mengandalkan uang lembur 7 RM per jam. Dalam sebulan, ia bisa lembur hingga 80 jam.

”Dari sanggar, saya bisa mendapatkan uang tambahan. Sekali tampil, saya bisa mendapat 100 RM,” katanya. Apabila dirupiahkan, upah menari sebesar 100 RM tersebut setara dengan Rp 300.000 atau bisa digunakan untuk makan selama lima hari.

Dalam Promosi Wisata Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata di Malaysia, Nadela berkesempatan membawakan tarian asal Minang. Bagi Nadela, tampil membawakan tarian daerah asalnya di hadapan publik Malaysia merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO Kesenian jaranan buto khas Banyuwangi tampil juga pada hari Jumat (10/3/2017) dalam My Balloon Fiesta di Desa Park City, Kuala Lumpur, Malaysia.
”Saya senang bisa tampil. Selain menyalurkan hobi menari sejak di sekolah dasar, saya bangga bisa memamerkan kebudayaan tradisional Indonesia di hadapan orang-orang Malaysia,” ujarnya.

Dilirik kedutaan Indonesia

Tampil dalam Promosi Wisata Indonesia pada My Balloon Fiesta bukanlah kali pertama bagi Sanggar Tirta Wangi. Pada tahun 2014, untuk kali pertama kegiatan mereka berkesenian dilirik Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia. Mereka diminta tampil di acara peringatan kemerdekaan Indonesia.

Tirta Wangi juga beberapa kali diundang sejumlah hotel bintang lima di Malaysia untuk mengisi acara saat jamuan makan malam. Mereka juga pernah tampil dalam sejumlah festival bertaraf internasional yang diadakan di Malaysia.

Saat tampil membawakan tarian tradisional Indonesia, Nadela, Irzal, dan anggota Sanggar Tirta Wangi lainnya tidak hanya menghibur penonton, tetapi mereka juga memiliki misi sebagai duta budaya.

Melalui tarian yang dibawakan, mereka mengenalkan keanekaragaman budaya Indonesia. Sayangnya, usaha ini kurang didukung Pemerintah Indonesia. Buktinya, kostum dan make up untuk tampil harus mereka sediakan secara mandiri.

Tak jarang mereka harus menyewa kostum tari dari komunitas-komunitas warga Indonesia yang tinggal di Malaysia. Biaya sewa satu set kostum untuk tujuh penari Minang mencapai 560 RM, sedangkan biaya make up bisa mencapai 100 RM per orang.

Hal itu dibenarkan Haryono (27), TKI asal Magelang, Jawa Tengah, yang juga menampilkan tari topeng ireng atau dayakan asal Magelang di My Balloon Fiesta. Kostum tari yang mereka kenakan saat tampil merupakan hasil pembelian dari uang urunan rekan-rekannya yang berasal dari Magelang.

”Harga satu kostum tari topeng ireng sekitar Rp 1 juta. Padahal, dalam satu kali tampil, ada 12 penari topeng ireng. Kami membeli kostum dari hasil urunan Gabungan Anak Rantau Magelang (Galang) di Malaysia yang dikumpulkan selama 2 tahun,” katanya.

Haryanto menuturkan, pada tahun 2013 dirinya pernah mencoba mengajukan permohonan bantuan pembelian kostum tarian ke KJRI Johor Bahru. Namun, sayang, KJRI Johor Bahru tidak bisa memberikan bantuan dengan alasan tidak ada biaya.

Padahal, saat itu, mereka akan tampil dalam sebuah festival di Larkir, Johor Bahru. Alhasil, mereka menggunakan kostum dari kain perca kaus-kaus yang sudah tidak terpakai.

Memberikan bantuan berupa kostum tari bagi TKI di Malaysia sebenarnya merupakan cara hemat bagi Pemerintah Indonesia untuk mengenalkan budaya Indonesia jika dibandingkan dengan mengirimkan penari dari Indonesia di setiap acara promosi wisata.

Irzal menuturkan, untuk tampil selama tiga hari dalam Promosi Wisata Indonesia di Malaysia, Tirta Wangi diupah Rp 20 juta. Hal itu tentu jauh di bawah pengeluaran negara apabila harus membiayai transportasi dan akomodasi para penari dari Indonesia untuk tampil di Malaysia selama tiga hari.

”Kami memang belum bisa tampil secara profesional. Tetapi, kami mau dan mampu mengenalkan Indonesia kepada publik Malaysia. Pemerintah cukup membantu kami menyediakan kostum, maka kami akan senang dan bangga menjadi duta budaya Indonesia di Malaysia,” ujar Irzal.

Irzal, Nadela, dan Haryanto kini terus berjuang membanting tulang di negara jiran. Sebagai TKI, mereka mendapat gelar pahlawan devisa.

Berkat tarian mereka, budaya Indonesia yang beragam juga semakin dikenal. Sudah selayaknya Pemerintah Indonesia berterima kasih kepada pahlawan devisa yang juga menjadi duta budaya. (ANGGER PUTRANTO)

Page:
EditorI Made Asdhiana
Komentar