Tingkatkan Pemasukan, Tanjungpinang Wajibkan Tamunya Menginap - Kompas.com

Tingkatkan Pemasukan, Tanjungpinang Wajibkan Tamunya Menginap

Ambaranie Nadia Kemala Movanita
Kompas.com - 16/05/2017, 18:08 WIB
KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADA Becak motor melintas di Masjid Raya Sultan Riau atau dikenal sebagai Masjid Penyengat di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Untuk berkeliling Pulau Penyengat, alternatif transportasi utama adalah becak motor.

TANJUNGPINANG, KOMPAS.com - Sekretaris Daerah Tanjungpinang, Riono, mengatakan bahwa saat ini kondisi perekonomian kota tersebut tengah melemah. Padahal, tamu yang berkunjung ke kota itu tidak bisa dibilang sedikit.

Acapkali Tanjungpinang sekadar menjadi tempat menggelar rapat singkat, kemudian pengunjung kembali ke daerah masing-masing.

"Tamu-tamunya biasa turun di Batam, satu jam perjalanan ke Tanjungpinang, beberapa jam kemudian kembali ke Batam. Lalu Tanjungpinang dapat apa?" kata Riono di Hotel Comfort Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Senin (15/5/2017) malam.

BACA: Ini Kendala Tanjungpinang Menjadi Destinasi Wisata

Oleh karena itu, pemerintah kota mencanangkan kebijakan untuk mewajibkan tamu menginap. Paling tidak untuk satu malam.

Waktu luang usai menggelar acara bisa digunakan untuk menjelajah kawasan wisata Tanjungpinang. Riono mengatakan bahwa kotanya tengah berkembang menjadi destinasi wisata.

Salah satu tempat yang bisa dikunjungi pelancong yakni Pulai Penyengat yang memiliki banyak situs bersejarah yang sayang dilewatkan. Dengan demikian, pendapatan bisa masuk ke berbagai sektor di Tanjungpinang.

"Minimal hotelnya dapat, transportasi dapat, taksinya dapat, kulinernya dapat. Dengan kebijakan itu bisa membantu pertumbuhan ekonomi di Tanjungpinang," kata Riono.

KOMPAS.com/ANDRI DONNAL PUTERA Suasana Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (14/1/2017). Pulau Penyengat dikenal sebagai destinasi wisata religi dan wisata sejarah rumpun Melayu.

Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah mengatakan bahwa kotanya "menjual" wisata budaya dan religi. Di Pulau Penyengat misalnya, ada masjid yang pondasinya dibangun dengan putih telur. Ada juga gereja dan wihara peninggalan abad ke-17. Peningkatan pembangunan terus dilakukan agar minat wisatawan lokal maupun mancanegara meningkat.

"Yang penting kalau hidup mau nyaman, tenang, aman, tinggallah di Tanjungpinang," kata Lis.

Lis menjamin Tanjungpinang kota yang aman meski berada di jalan pada tengah malam.."Ibu-ibu jam tiga subuh naik ojek masih aman. Tidak ada gangguan keamanan," kata dia.

PenulisAmbaranie Nadia Kemala Movanita
EditorSri Anindiati Nursastri
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM